Gabriel Garcia Marquez, dikenal sebagai "raksasa" kesusastraan abad 20 sejak peluncuran novelnya yang berjudul 100 Tahun Kesunyian. Setelah mengalami nasib yang tak mujur sebelum terkenal, tahun 1982 ia mendapatkan penghargaan nobel dalam bidang sastra, dan kemudian ia dijadikan ikon dari aliran realisme magis oleh kritikus dan masyarakat sastra dunia. Aku mengetahui tentang beliaunya dari beberapa sumber baik internet maupun buku, itu pun hanya sedikit, karena aku saat ini rada kurang tertarik dengan sastra luar.
Tapi sebenarnya ini hanyalah masalah penyesuaian saja. Selama ini karya sastra luar yang pernah kubaca mungkin tak lebih dari sepuluh biji. Sementara untuk karya sastra dalam negeri, aku lupa sudah berapa kali aku baca. Salah satu hal yang bisa dijadikan alasan barangkali adalah aku merasa karya sastra luar tidak ada hubungannya dengan keadaan negeri ini. Mereka membicarakan kehidupan mereka sendiri dan aku tidak mengerti. Selain itu, kejenuhan adalah musuh utama saat membaca karya terjemahan. Dan kualitas terjemahan terkadang menentukan penilain: apakah novel pengarang asal negara ini sebagus yang dibicarakan banyak orang? Karena saat ini aku baru menguasai dua bahasa, terpaksa aku membaca terjemahannya.
Mungkin seiring berjalannya waktu aku bisa "klik" dengan karya sastra luar dan menambah bacaan lagi. Sebelum menunggu terwujudnya harapan tersebut, aku tengah "merintis"-nya pelan-pelan dengan menyelesaikan novel Caldas karya Gabriel Garcia Marquez. Itulah mengapa aku mengawali tulisan kali ini dengan informasi singkat mengenai Marquez.
Semula aku berpikir barangkali novel ini akan berhasil membuatku terkantuk--sebagaimana anggapanku selama ini terhadap karya luar--ternyata dugaanku meleset. Caldas adalah novel dengan terjemahan lumayan yang pernah aku baca. Beruntung LKiS, penerbit buku ini, mendapatkan penerjemah bernama Rizadini yang melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Gaya bercerita Marquez dalam buku ini telah berhasil kukenali berkat kinerja beliau. Tidak seperti kumpulan cerpen Marquez yang pernah diterbitkan Bentang Budaya, terjemahan Caldas sungguh kelewat lebih baik.
Aku memang berlebihan, karena sudah sepantasnyalah aku mengatakannya untuk novel ciamik ini. Tapi yang menurutku begitu memuaskan dari Caldas adalah dari segi teknisnya. Ada sejumlah plot twist di setiap akhir sub-bab dan paragraf yang disusupkan Marquez dengan cerdik, membuat rasa penasaranku makin mendidih untuk melanjutkan membacanya. Belum lagi deskripsi beliau tentang kapal, laut, cuaca, ikan, dan sekian hal lain yang menjadi setting Caldas merupakan produk tulisan yang tidak terkesan lugu. Pak Marquez seakan menyeret pembaca mengalami langsung kisah yang diceritakannya. Sebagaimana kata orang, penuturan Marquez renyah layaknya camilan. Meskipun tokoh "aku" hampir mendominasi dalam keseluruhan novel ini, sebetulnya ia bukanlah sekedar pribadi dengan ocehan tentang nasibnya yang terombang-ambing di tengah laut. Lebih dari itu, ia adalah penghibur ulung dengan segala tindakannya. Marquez seolah melakukan pembiaran terhadap tokohnya untuk menyelesaikan masalah sendiri atas kejadian buruk yang baru menimpanya. Beliau memuntahkan emosi serta gejolak batin tokoh dalam keterasingannya di lautan dengan kalimat memikat dan agak liris. Ratapan sang tokoh tak membuat hati teriris, malah mengundang sedikit senyum karena ada beberapa jumput humor yang digambarkan Marquez lewat pola pikirnya.
"Setiap pelaut tahu bahwa camar kadang tersesat di tengah laut dan terbang selama beberapa hari tanpa tujuan, sampai mereka menemukan kapal yang menunjukkan arah ke pelabuhan. Mungkin camar-camar yang selalu kulihat selama tiga hari belakangan ini tersesat. Ini artinya perahuku hanyut makin jauh dari daratan."
(hlm. 64).
Semula pelaut itu dianggap "pahlawan" dan mendapat gelar kehormatan karena sanggup berjuang dan bertahan hidup selama 10 hari di lautan lepas tanpa makan atau minum. Bahkan ia berhasil menimbun kekayaan dari ketenarannya dan menjadi model iklan karena pakaian dan jam tangan yang ia kenakan saat di laut tidak rusak. Namun, sejumlah fakta akhirnya terungkap ketika ia tiba-tiba melepas gelar kehormatan dan identitas "pahlawannya". Lewat surat kabar El Espectador, pelaut itu diwawancarai Marquez dengan mendetail hingga tersingkaplah tabir rahasia yang selama ini menutupi: tentang pelanggaran yang dilakukan Caldas sendiri karena mengangkut barang dagangan, padahal ini kapal Angkatan Laut; muatan yang melebihi kapasitas; dan rupanya muatan tersebut adalah barang selundupan seperti kulkas, mesin cuci, dan televisi. Pemerintah Kolombia yang saat itu di bawah diktator Gustavo Rojas Pinilla terus menyangkal kebenaran itu.
Aku salut dengan pelaut itu dan surat kabar tempat magang Marquez. Aku kagum dengan kebenaran yang bisa muncul di permukaan. Bagaimana pun berjuang untuk kebenaran tidak pernah salah. Novel ini mampu menyihir pembaca sepertiku. Aku tidak tahu lagi kapan akan mendapat karya sastra luar sebagus ini. Rasanya aku tidak bisa memprediksi. Roh Marquez telah menyerap ke dalam diriku walau baru membaca satu novelnya. Aku sampai sudah kehabisan kata-kata dan tak mampu lagi membuat kesimpulan untuk mengapresiasi Caldas. Itu karena kukira dengan membaca Caldas sudah merupakan wujud apresiasiku kepada Gabriel Garcia Marquez yang masih menjadi sosok misterius bagiku.
Kuperingatkan saja padamu, dengan memelintir kalimat di sampul belakang buku, bahwa Caldas tidak membiarkan pembaca bosan.

