Kamis, 16 April 2015

Kesaksian Seorang Idiot oleh Ahmad Yasin

Tidak begitu banyak ayah di dunia ini yang menjadi kawan sekaligus guru bagi anaknya.
Setidaknya itulah yang kuyakini. Terlebih karena Ayahku juga tipe kepala keluarga yang mencintai anggota keluarganya. Di samping itu dia selalu menekankan kepada kami untuk menjadi manusia yang berguna, pandai, jangan pelit-pelit, dan tetap taat beribadah. Bahkan terhadapku yang bisanya cuma menggeram dan meneteskan air liur setiap waktu.
Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Dua saudaraku masih sekolah, sedangkan aku sekolah di rumah. Ibuku adalah guru, berangkat pagi-pagi pulangnya sore hari—kadang menjelang petang Ibu baru pulang. Dia tidak punya waktu untukku. Hubungan kami jarang terjalin sebagai Ibu dan anak, karena Ibu masih tidak yakin kalau aku anaknya. Kadang setiap kali aku mendekatinya, ia tampak panik lalu mengusirku dengan makian.
“Dasar anak Iblis! Sudah kubilang aku bukan Ibumu. Pergi! Menjauh! Bergabunglah kembali bersama spesiesmu.”
“Lagi pula siapa sih yang menukar anakku dengan anak Iblis?”
Makanya aku lebih menyukai Ayah daripada Ibu. Soalnya ketika rumah sudah ditinggal satu per satu penghuni, pasti Ayah masih di rumah, menemaniku dan mengajariku. Aku sampai tidak percaya kalau aku diakui sebagai anaknya. Sebagaimana Ayah, aku juga mencintai Ayahku.
Akhir-akhir ini Ayah memang banyak menghabiskan waktunya di rumah. Entah kenapa, yang jelas Ayah bukan seorang penganggur, ia punya pekerjaan tetap di kantor kelurahan. Aku kurang tahu Ayah menjabat apa, tapi sejauh yang kudengar Ayah telah memasuki masa pensiun. Maklumlah, sudah banyak garis-garis yang meliuk-melintang menghiasi wajahnya, seakan menunjukkan betapa pengalaman telah mengubah kepala Ayah mirip hasil kerajinan kayu: tua dan kaku. Uban  mulai menggusur rambut hitamnya yang kini juga tengah diancam kebotakan.
Selain bekerja di kelurahan, ia tokoh masyarakat di kampung kami. Paling kondang dan dihormati. Sering Ayah dimintai bantuan untuk memecahkan persoalan siapapun. Entah itu menyangkut pribadi atau orang banyak. Entah masalah ekonomi atau ketidakrukunan dalam keluarga. Petuah-petuahnya sangat dibutuhkan dan terbukti berguna.
Ia juga pandai mengisi pengajian di masjid atau mushola. Pengetahuannya tentang agama dan ketuhanan kerap memukau para pendengar. Ia menyampaikannya dengan tenang dan santun. Mulutnya seolah menguarkan kesegaran ketika mengutip dalil-dalil atau ayat Al-Qur’an dalam pengajiannya.
Tiap kali bersua di jalan, orang-orang pasti akan menggunjingkan wajah Ayah yang senantiasa berseri-seri memancarkan cahaya lembut penuh pesona seolah membagikan kesejukan pada hati yang sedang galau. Mereka kagum.
“Heran, kok bisa-bisanya ya wajah Pak Ridwan selalu bersinar?”
“Kalau bukan Pak Ridwan siapa lagi?”
“Lampu taman.”
“Husss...”
“Kok has hus has hus?”
“Sssttt...”
Begitu mencoloknya peran Ayah dan besarnya rasa hormat orang-orang terhadap sosoknya, agaknya tidak membuat diriku ikut terhormat sebagai anaknya. Pasalnya pada waktu aku bermain di luar, orang-orang tampak acuh tak acuh, hanya kadang-kadang memandangku dengan tatapan datar. Sekali waktu sorot mata mereka seperti pisau: tajam dan mengancam. Ini juga termasuk pada sikap mereka yang selalu geleng-geleng kepala melihat aksiku bergulat dengan para raksasa; baku tembak dengan perampok; menaklukkan naga; mengarungi laut; mendaki gunung; terjun payung. Begitu pula ketika aku menyambar sabun mandi di warung untuk kugeramus atau menyantap bangkai tikus yang kutemukan di gudang atau membangun istana dari onggokan tahi sapi. Ya, sebelum akhirnya dihentikan Ayahku sendiri. Menurutnya itu tidak baik, namun entah kenapa aku selalu mengulanginya lagi. Keluargaku beberapa kali harus membayar ke warung atas kelakuanku yang sesuka hati mengambil dagangan mereka. Padahal itu semua sangat mengasyikkan.
Kupikir hidup memang untuk bersenang-senang. Sebab, aku tidak mau menjadi manusia munafik yang sok alergi dengan kesenangan. Bukankah Tuhan menciptakan kehidupan supaya manusia juga dapat merasakan nikmat dunia. Ayah pernah berkata dalam suatu santapan rohaninya: “Jika kita merasa bahagia, ingatlah wahai manusia bahwa itu atas pemberian-Nya.” Oleh karena itu, aku akan berdosa bila menyia-nyiakan pemberian-Nya. Lebih baik menerimanya sebagai wujud kemurahan hati-Nya, daripada berpura-pura tidak doyan dengan menolaknya.
Aku paling tidak suka ketika tanganku dicekal seseorang dan dipaksa pulang. Mereka seolah menganggapku hama yang memakan tetumbuhan mereka. Aku heran dengan mereka, Ayah sendiri sebagai orang tuaku, tidak pernah marah dengan kelakuanku. Ia membiarkan diriku bermain sepuasnya supaya mengenal dunia. Tapi yang aku sesalkan ia kadang menerima saja alasan dari orang-orang yang memulangkanku.
Mereka mengatakan kalau aku baru saja menakut-nakuti pelanggan di sebuah warung soto, padahal aku sedang berakrobat menggunakan pesawat tempur. Atau aku bertingkah kurang ajar karena memukul kepala seseorang, padahal waktu itu aku sedang menghadapi Godzilla—kupukul kepalanya supaya monster itu kolaps. Ingin sekali aku katakan bahwa yang mereka adukan itu tidak benar, mulut mereka serampangan. Akan tetapi, aku tak pernah sanggup menjelaskan. Mulutku sendiri seperti terkunci, hanya geraman tak jelas yang berhasil kuutarakan.
Karena kelunakkan hati Ayah, Ayah pun sudi meminta maaf pada mereka.
“Apabila anak saya tidak terkontrol lagi, saya akan mengganti segala kerugian akibat ulahnya dengan uang,” demikian yang selalu ditegaskan Ayah pada mereka.
Aku memang berusaha mengendalikan diriku agar tidak brutal, tapi selalu saja ada yang memancingku. Sering anak-anak mengitariku seraya melemparkan kerikil ke arahku. Bahkan mereka menyanyikan lagu yang liriknya berisi ejekan terhadapku. Aku sangat berhasrat membantai mereka, membedah perut mereka yang mungil supaya jeroannya terburai, lalu kuperlihatkan kepada orang tuanya masing-masing supaya mereka tahu betapa pedihnya penderitaan ditertawakan.
Aku ingin mengamuk, tapi aku khawatir kalau mereka akan mengadu ke Ayahku lagi, lalu menekan Ayah untuk meminta maaf lagi. Aku tidak sudi! Hingga akhirnya perkara semacam ini kuselesaikan sendiri secara banci: aku menangis terisak-isak di tengah renyah tawa mereka. Pada saat itulah Ayah datang, menuntunku pulang. Mereka semua memang pengecut, baru berhenti ketika mengetahui Ayah menjemputku.
Sesampainya di rumah, Ayah akan mendekapku. Membisikan kata-kata ajaib yang menghibur dan menentramkan ke telingaku. Salah satunya yang seperti ini:
“jangan menangis. Bukankah kamu jagoan? Ayo tiru bagaimana Bima menghabisi satu per satu para Kurawa, atau terbangkan pesawatmu lagi!!! Ayo, bangunlah! Ayah pengen lihat.”
Aku pasti kembali bersemangat, seakan ada matahari merekah dalam diriku. Kami lalu bermain bersama di dalam rumah. Melakukan hal-hal yang kiranya dapat mengusir kesepian, bagai menyirami kembali tanaman yang telah lama layu tersapu kemarau.
 Ketika aku sedang asyik-asyiknya, biasanya Ayah akan merogoh handphone di saku celananya. Menelepon seseorang. Aku sampai hafal, selalu terdengar suara lembut dari sana. Mereka bercakap-cakap sebentar, lalu menutup telepon. Kemudian Ayah akan keluar rumah. Tidak berselang lama, ia pasti sudah membawa seorang wanita.
“Ini Ibumu yang lain.” kata Ayah.
Wanita itu tersenyum kepadaku. Dalam rangkulan Ayah, mereka melangkah menuju kamar.
Itulah kegiatan Ayah untuk mengisi waktu luangnya, apalagi setelah memasuki masa pensiun. Sampai sekarang aku benar-benar tidak percaya kalau aku menjadi anaknya.
Kotagede, November 2014

Sekapur Sirih

Ketika terbetik sebuah ide untuk menampung kecamuk pikiran beserta kegundahan, aku baru berniat menyambar ember di samping perigi saat situasi negeri ini membuat perut mual. Belum sampai tanganku menjangkau ember, seorang karib tiba-tiba menawarkan tempat yang cocok untuk melampiaskan apa saja.

"Buatlah Blog!" teriaknya.

Merasa tidak mudeng dengan apa yang diucapkannya, aku pun bertanya kepada beliau.

"Apakah B(a)lok semacam gorengan?"

"Bukan Balok. Tapi BLOG. B-L-O-G," kata beliau, menjelaskan. "Adalah sejenis wadah bagi umat manusia yang butuh tempat untuk tulisan-tulisannya. Sekarang 'kan era digital, orang makin milih yang praktis-praktis. Maka munculah inovasi dari Pyra Labs ini atas keprihatinannya melihat pria-pria selo seperti kamu. Kemudian produknya itu pun diakusisi oleh Google pada tahun 2002. Hingga akhirnya berevolusi ke 'bentuk' sempurna seperti sekarang ini. Kau harus berterima kasih padanya."

"Ya, sama-sama. Terus cara buatnya pegimana?"

 "Ikutlah bersama daku ke warung internat mbak Sumi."

Setelah berguru lebih dari 10000 semester dengan beliau di padepokan warnet mbak Sumi, singkat cerita, aku pun selesai membuat Blog Sentong Wetan ini. Kau boleh mampir kapan saja ke blogku, akan kujamu dengan tulisan-tulisanku yang terkadang ndakik-ndakik dan wagu, namun bisa dijadikan nyamikan. pengganti kacang, setiap waktu. Semoga barokah lan migunani !

Salam,

Ahmad Yasin