Ketika pada suatu hari Minggu aku menemukan resensi Bandung Mawardi
atas buku Bilang Begini Maksudnya Begitu-nya (selanjutnya disingkat BBMB) Sapardi Djoko Damono di
Kedaulatan Rakyat, semula aku tak terlalu menaruh perhatian karena aku
sudah bosan dengan karya sastrawan sepuh itu. Bukan maksud aku
menganggap kualitas karyanya menurun, cuma aku merasa bosan saja. Namun,
setelah Bandung merekomendasikannya lewat penuturannya yang khas, rasa
penasaranku pun tergugah terhadap buku tersebut.
Aku mulai melakukan
pencarian di Gramedia dan aku langsung menyongsong rak sastra begitu
tiba di lantai 3 toko buku terkemuka itu. Tapi aku dibuat kecewa setelah
mataku lelah tak mendapati bukunya di rak manapun. Bahkan ketika
kulacak melalui komputer, hasilnya nihil. Aku pun membeli buku lainnya,
tak kuingat buku apa, yang pasti masih berkaitan dengan sastra. Sekian
waktu buku Sapardi kulupakan, disamping masalah keuangan yang lagi
macet.
Aku tak berhasrat lagi, sampai akhirnya aku berjumpa di lain
kesempatan, tepatnya tanggal 13 Juni kemarin saat aku sedang memiliki
niat mengkoleksi kembali komik NARUTO. Waktu itu, aku hanya ingin
membeli NARUTO saja, tapi aku tetap merasa perlu menyempatkan menengok rak sastra,
sekedar melihat apakah buku yang terpajang masih itu-itu saja. Ternyata
dugaanku salah. Banyak buku baru terbit. Aku tergiur. Saat itulah,
ketika 3 buah komik sudah dalam genggaman, makjegagik, bukunya
Sapardi menongol dengan cover bergambar wanita genit yang tengah
menyerukan judul bukunya "Bilang Begini, Maksudnya Begitu", di bawahnya
tertulis Sapardi Djoko Damono. Keteguhanku goyah. Aku menimbang-nimbang
beberapa saat, mengingat uangku pas-passan. Setelah dipikir matang, aku
mengembalikan satu buah komik ke habitatnya lantas mengambil buku BBMB
Sapardi. Dengan begini, uangku tidak cepat terkuras meskipun harga komik
jauh lebih murah dibanding buku "berbobot". Dengan gembira, kubayar
tunai belanjaanku kali ini dan langsung meluncur ke rumah, tak sabar
untuk segera membacanya.
Singkat cerita, buku BBMB kulahap habis.
Tipis memang, tapi untungnya tak memaksaku memeras otak. Ini buku yang
ringan. Membimbingku memahami puisi secara bertahap, dengan tiap bab
selalu menelanjangi puisi yang dijadikan sebagai contoh. Menggunakan
bahasa sederhana, yang mudah dipahami oleh awam sekalipun, Sapardi
seolah menyuruh pembaca turut aktif bagaimana mengapresiasi suatu karya
sastra. Dan memang itulah misinya: menjalin hubungan langsung antara
pembaca dan penyair melalui pembacaan puisi, karena beliau percaya tanpa
kegiatan itu sudah pasti tak ada apresiasi. Pemaparan Sapardi perihal
apresiasi dalam pengantar: "Apresiasi berarti penghargaan atau kesadaran
akan adanya nilai pada sesuatu. Dengan demikian apresiasi sastra
berarti penghargaan terhadap sastra atau kesadaran akan adanya sesuatu
yang berharga pada sastra."
Klise memang, tapi aku terlanjur tersihir oleh Sapardi. Berbeda dengan buku sejenis, buku ini
tak banyak memuat teori, sehingga tak terkesan meminta pembaca
"menghafalkannya". Aku merasa Sapardi sedang berterus terang, menyingkap
tabir yang selama ini membuat puisi seolah masih menjadi misteri mungkin bagi
kebanyakkan orang--yang menaruh minat maupun tidak. Dengan asyik, ia
menjelaskan perbedaan puisi dengan berita secara visual; bunyi dalam
puisi; makna tersirat puisi di balik bahasa penyair; inspirasi penyair
menciptakan karya; hingga pengaruh dongeng atau mitologi bagi penyair.
Semua dikuliti dengan apik, demi menjawab tanya dan membantu mencari
hakikat puisi, atas nama apresiasi sastra.
Selain itu, buku ini patut menjadi bahan
pengajaran, khususnya di jenjang pendidikan SD sampai SMA, karena seakan
menjadi oase di tengah keringnya ide guru Bahasa Indonesia dalam
mengajar yang terus berkutat pada teori dan mematuhi buku materi. Tentu
saja dengan metode pengajaran yang bisa membuat suasana ruang belajar
menjadi hangat. Sebab, pelajaran bahasa Indonesia sudah kondang di
kalangan murid sebagai pelajaran yang membosankan.
Sayangnya, ketebalan buku mbah Sapardi terlalu
tipis untuk ukuran buku apresiasi sastra. Aku sarankan pada penerbit
untuk menerbitkan edisi revisi dengan ditambah contoh puisi dan
penjelasan yang lebih komprehensif. Sok!
Aku tak menjamin
bahwa buku ini menjadi solusi. Aku hanya menawarkan dengan setulus hati
bahwa buku ini bukan sekedar buku. Jagat sastra Indonesia kukira telah
lama dihiasi buku serupa dan mungkin mempunyai kesamaan dengan buku ini
dari segi isi. Artinya tak ada hal baru yang mampu mendecakkan mulut.
Namun, aku ingin tetap menganggap buku ini menjadi bagian dari sastra
Indonesia kontemporer.
Berkat buku ini, aku jadi lebih tahu tentang puisi. Aku jadi lebih paham tentang apresiasi. Kedua hal itu bagai membangun jembatan yang menghubungkan penyair dengan pembaca. Kira-kira begitulah.
Kotagede, 1 Juli 2015.
