Sabtu, 04 Juli 2015

Sapardi Berterus Terang

Ketika pada suatu hari Minggu aku menemukan resensi Bandung Mawardi atas buku Bilang Begini Maksudnya Begitu-nya (selanjutnya disingkat BBMB) Sapardi Djoko Damono di Kedaulatan Rakyat, semula aku tak terlalu menaruh perhatian karena aku sudah bosan dengan karya sastrawan sepuh itu. Bukan maksud aku menganggap kualitas karyanya menurun, cuma aku merasa bosan saja. Namun, setelah Bandung merekomendasikannya lewat penuturannya yang khas, rasa penasaranku pun tergugah terhadap buku tersebut.

Aku mulai melakukan pencarian di Gramedia dan aku langsung menyongsong rak sastra begitu tiba di lantai 3 toko buku terkemuka itu. Tapi aku dibuat kecewa setelah mataku lelah tak mendapati bukunya di rak manapun. Bahkan ketika kulacak melalui komputer, hasilnya nihil. Aku pun membeli buku lainnya, tak kuingat buku apa, yang pasti masih berkaitan dengan sastra. Sekian waktu buku Sapardi kulupakan, disamping masalah keuangan yang lagi macet.

Aku tak berhasrat lagi, sampai akhirnya aku berjumpa di lain kesempatan, tepatnya tanggal 13 Juni kemarin saat aku sedang memiliki niat mengkoleksi kembali komik NARUTO. Waktu itu, aku hanya ingin membeli NARUTO saja, tapi aku tetap merasa perlu menyempatkan menengok rak sastra, sekedar melihat apakah buku yang terpajang masih itu-itu saja. Ternyata dugaanku salah. Banyak buku baru terbit. Aku tergiur. Saat itulah, ketika 3 buah komik sudah dalam genggaman, makjegagik, bukunya Sapardi menongol dengan cover bergambar wanita genit yang tengah menyerukan judul bukunya "Bilang Begini, Maksudnya Begitu", di bawahnya tertulis Sapardi Djoko Damono. Keteguhanku goyah. Aku menimbang-nimbang beberapa saat, mengingat uangku pas-passan. Setelah dipikir matang, aku mengembalikan satu buah komik ke habitatnya lantas mengambil buku BBMB Sapardi. Dengan begini, uangku tidak cepat terkuras meskipun harga komik jauh lebih murah dibanding buku "berbobot". Dengan gembira, kubayar tunai belanjaanku kali ini dan langsung meluncur ke rumah, tak sabar untuk segera membacanya.


Singkat cerita, buku BBMB kulahap habis. Tipis memang, tapi untungnya tak memaksaku memeras otak. Ini buku yang ringan. Membimbingku memahami puisi secara bertahap, dengan tiap bab selalu menelanjangi puisi yang dijadikan sebagai contoh. Menggunakan bahasa sederhana, yang mudah dipahami oleh awam sekalipun, Sapardi seolah menyuruh pembaca turut aktif bagaimana mengapresiasi suatu karya sastra. Dan memang itulah misinya: menjalin hubungan langsung antara pembaca dan penyair melalui pembacaan puisi, karena beliau percaya tanpa kegiatan itu sudah pasti tak ada apresiasi. Pemaparan Sapardi perihal apresiasi dalam pengantar: "Apresiasi berarti penghargaan atau kesadaran akan adanya nilai pada sesuatu. Dengan demikian apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap sastra atau kesadaran akan adanya sesuatu yang berharga pada sastra."

Klise memang, tapi aku terlanjur tersihir oleh Sapardi. Berbeda dengan buku sejenis, buku ini tak banyak memuat teori, sehingga tak terkesan meminta pembaca "menghafalkannya". Aku merasa Sapardi sedang berterus terang, menyingkap tabir yang selama ini membuat puisi seolah masih menjadi misteri mungkin bagi kebanyakkan orang--yang menaruh minat maupun tidak. Dengan asyik, ia menjelaskan perbedaan puisi dengan berita secara visual; bunyi dalam puisi; makna tersirat puisi di balik bahasa penyair; inspirasi penyair menciptakan karya; hingga pengaruh dongeng atau mitologi bagi penyair. Semua dikuliti dengan apik, demi menjawab tanya dan membantu mencari hakikat puisi, atas nama apresiasi sastra.

Selain itu, buku ini patut menjadi bahan pengajaran, khususnya di jenjang pendidikan SD sampai SMA, karena seakan menjadi oase di tengah keringnya ide guru Bahasa Indonesia dalam mengajar yang terus berkutat pada teori dan mematuhi buku materi. Tentu saja dengan metode pengajaran yang bisa membuat suasana ruang belajar menjadi hangat. Sebab, pelajaran bahasa Indonesia sudah kondang di kalangan murid sebagai pelajaran yang membosankan.

Sayangnya, ketebalan buku mbah Sapardi terlalu tipis untuk ukuran buku apresiasi sastra. Aku sarankan pada penerbit untuk menerbitkan edisi revisi dengan ditambah contoh puisi dan penjelasan yang lebih komprehensif. Sok!

Aku tak menjamin bahwa buku ini menjadi solusi. Aku hanya menawarkan dengan setulus hati bahwa buku ini bukan sekedar buku. Jagat sastra Indonesia kukira telah lama dihiasi buku serupa dan mungkin mempunyai kesamaan dengan buku ini dari segi isi. Artinya tak ada hal baru yang mampu mendecakkan mulut. Namun, aku ingin tetap menganggap buku ini menjadi bagian dari sastra Indonesia kontemporer.

Berkat buku ini, aku jadi lebih tahu tentang puisi. Aku jadi lebih paham tentang apresiasi. Kedua hal itu bagai membangun jembatan yang menghubungkan penyair dengan pembaca. Kira-kira begitulah.

Kotagede, 1 Juli 2015.