Rabu, 27 Januari 2016

5 Buku Pilihan yang Membuat Terkesan Sepanjang 2015

Tertarik oleh tulisan Wisnu Prasetya Utama, pakar media dan komunikasi, yang membuat daftar buku-buku yang ia baca di 2015, saya jadi tergelitik ingin melakukan hal yang sama.

Buku yang saya baca di tahun 2015 tidaklah sebanyak Wisnu yang konon melahap 50 buku. Sebagai pembaca, saya tak serakus dia. Tapi sebagai pembaca, aktifitas membaca saya bukan hanya di dunia nyata saja, dalam bentuk buku, melainkan juga di dunia maya, seperti membaca berita daring, wikipedia, tulisan di website atau blog orang. Bila sudah demikian, bawaanya selalu malas untuk membaca buku. Saya sering diserang kantuk dan pikiran bercabang-cabang kalau membaca buku. Jadi bisa dibilang dunia maya menaklukkan dunia nyata dalam mencuri perhatian saya. Itulah alasan kenapa anak muda seperti saya masih melajang. Kenyataan terlalu keras daripada kemayaan. (kok malah curhat?).

Namun tentu saja aktifitas membaca saya di dunia maya tidak termasuk ke dalam daftar, karena yang berlaku di daftar hanyalah aktifitas membaca dalam bentuk nyata atau fisik, yaitu buku, bukan maya.

Jika dirunut dari Januari hingga penghujung Desember, saya telah membaca sebanyak 15 buku. Jumlah yang terbilang sedikit ini termasuk tugas menyunting saya dari Promothea untuk 1 buah bukunya Mas Marco dan 9 buah buku karya Kahlil Gibran yang rencananya akan disusun menjadi bunga rampai. Saya hanya akan membuat catatan untuk kelima buku yang membuat saya terkesan. Kelima buku tersebut adalah sebagai berikut:

1. Cerita Buat Para Kekasih - Agus Noor

Dalam kumpulan cerita pendeknya yang teranyar, cerpenis Agus Noor masih menggarap tema yang barangkali merupakan keahliannya: kekerasan rumah tangga, cinta, sosial-politik, dan masalah agama--kalau boleh disebut demikian.

Meskipun tema kisah cinta lebih dominan, dengan segala kecenderunganya, Agus Noor tetap seorang pencerita handal yang tak berkutat pada satu tema. Ia cakap meramu isu-isu perpolitikan Indonesia, terutama 50 tahun kebelakang. Agus Noor menjaga gaya bertuturnya yang khas.

Ia mampu membawa pembaca merasakan ketegangan yang seolah baru benar-benar berakhir hingga kata pamungkas, seperti dalam cerpen Matinya Seorang Demonstran. Ia juga pandai menyindir ketergantungan masyarakat modern pada telepon genggam dalam sebuah kisah cinta konyol antara tokoh Ia dan sebuah telepon genggam dalam cerpen berjudul Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggam.

2. Rafilus - Budi Darma

Rafilus merupakan salah satu karya yang dianggap sebagai kematangan seorang Budi Darma sebagai penulis roman, selain Orang-orang Bloomington dan Olenka.

Tokoh-tokoh yang ada di dalam Rafilus adalah ciri manusia dengan segenap absurditasnya menghadapi realita. Itu terlukis dari tindakan dan pola pikir mereka yang dikulik oleh Budi Darma, baik secara tersirat maupun tersurat. Seperti pada Olenka, Budi Darma masih mengeskprorasi sisi psikologis tokohnya secara 'kejam'.

3. Seks, Sastra, Kita - Goenawan Mohamad

Saya mulai keluar dari zona nyaman saya sebagai pembaca fiksi dengan membaca kumpulan esai Goenawan Mohamad. Butuh waktu dan memeras otak untuk memahaminya. Di samping gaya penulisan GM yang menurut saya ndakik-ndakik, topik yang dibahas pun masih rada asing bagi saya. Ketika membahas masalah budaya dan karya sastra, dengan terbata-bata saya masih bisa nyantel. Tetapi bila sudah beralih ke filsafat dan pergulatan pemikiran cendekiawan-cendekiawan kaliber, otak saya terlalu tumpul walaupun sekedar untuk mengerti.

Yang membuat buku ini masuk ke dalam daftar 5 buku terbaik yang saya baca adalah karena saya harus belajar, sekali-kali, menyantap buku non-fiksi.

4. Dunia Sophie - Jostein Gaarder

Karya penulis Norwegia ini barangkali masih dianggap sebagai "akses paling mudah" untuk belajar filsafat. Dikemas dalam bentuk novel, kita diajak berpetualang oleh Sophie Amundsen, si tokoh utama, mengarungi pemikiran para filsuf Yunani kuno, sedari Democritus hingga Aristoteles; merasakan zaman kegelapan di daratan Eropa, di mana pengaruh gereja begitu kuat; semaraknya zaman Renaisan yang kembali diwarnai gairah berpikir; sampai mengikuti kisah para filsuf abad 20.

Kecakapan Gaarder menguliti aliran-aliran filsafat seperti matrialisme, naturalisme, eksistensialisme yang disertai dengan contoh-contoh yang tak jauh di sekitar kita, mematahkan anggapan bahwa filsafat adalah ilmu yang sulit dipahami. Sayangnya, Dunia Sophie tidak spesifik menunjukkan kemajuan ilmu pengetahuan di Timur Tengah ketika kemandekan sedang melanda Eropa selama 12 abad.

5. Autobiografi Saya - Alex Ferguson

Ketika pertama kali meluncur pada 2013, buku ini konon menjadi buku non-fiksi terlaris se-Britania Raya. Tak bisa dimungkiri, perjalanan karir seorang Alex Ferguson di dunia sepak bola memang layak disimak seiring kesuksesannya menukangi klub Manchester United selama 26 tahun.

Melalui buku ini, kita akan tahu siapa sebenarnya sosok Alex Ferguson lewat kisah yang dituturkan sendiri. Dari pesepakbola yang nyambi berjualan bir hingga menjadi pelatih besar nan disegani. Ferguson memiliki kecakapan, ketekunan, dan etos kerja untuk meraih sukses. Munculnya generasi 1992 yang dipelopori pemain seperti Ryan Giggs, David Beckham, Paul Scholes, Nicky Butt, dan Nevile bersaudara tak lepas dari kontribusinya dalam menaruh minat pada pembinaan bibit-bibit muda. Kemampuan meracik strategi dan menganalisis kelemahan adalah nilai lebih dari seorang Ferguson, bahkan hingga ia beranjak senja.
Dengan menerbitkan sebuah autobiografi, sebagai "peninggalan" ketika pensiun, Ferguson patut diteladani oleh siapapun, baik bagi kalangan sepak bola maupun tidak karena setiap tindakannya bagai memancarkan nilai-nilai kehidupan sejati.
Demikian 5 buku yang membuat saya terkesan sepanjang tahun 2015. Semoga dapat menjadi rujukan Anda dalam memilih bacaan. Semoga.

Rabu, 06 Januari 2016

Fesbuk dan Racauan-racauan Lainnya

Hidup adalah persoalan. Dan hidup dimulai saat jari sibuk memijit tombol gawai. Aku melakukannya semata karena ingin menceritakannya kepadamu. Seolah kau tak tahu tetek-bengeknya.
Ya, bangun pagi ada waktu barang sebentar untuk menguap. Lantas beranjak ke kamar mandi, menggosok diri hingga selesai, kemudian pergi menuntaskan rutinitas masing-masing. Biasanya aku mengalami itu, masa-masa di mana aku selalu bergegas, dengan mengangkut masalah di kepala. Tapi sejak 3 tahun ini waktuku habis di depan layar.
Google dan Fesbuk adalah alat ajaib yang membuatku bisa berkelana tanpa jalan kaki; bisa bicara tanpa bersuara; bisa olahraga tanpa mengeluarkan tenaga; bisa pintar tanpa baca buku; bisa bersenggama tanpa ada pasangan--pokoknya bisa serba apa saja sekaligus. Peradaban manusia yang telah berusia tua rupanya terus mengalami kemajuan, dan dunia akhirnya melahirkan Mark Zuckerberg (nulisnya gini bukan ya?) sebagai jenius pembuat salah satu alat ajaib di atas bernama Facebook. Seketika puluhan juta orang, bahkan miliyaran penduduk bumi, berubah menjadi serangga yang tersihir cahaya. Mereka terkesima dengan kecanggihan Fesbuk dan memilih menggunakannya secara gratis, termasuk aku.
Sebenarnya tak ada alasan kenapa aku memilih Fesbukan. Hidup semakin beragam, menyediakan banyak pilihan. Semestinya tak perlu alasan mengapa seseorang menggunakan hak pilihnya. Toh kita orang tak saling merugikan, setidaknya dalam kesempatan tertentu.
Aku menggerak-gerakkan telunjuk ke atas dan ke bawah. Bermacam berita berdesakan di dinding Fesbukku. Menteri ESDM meributkan Freeport. Pemerintah mencabut kebijakan pungutan BBM. Hakim H dijerat kasus Suap. Abraham Samad ditangkap. KPK lumpuh. DPR berlibur. Surya Paloh mencukur brewok. Tesi Srimulat teler. Indro Warkop makin buncit. Ketiak Katy Perry mulus. Olga Syahputra meninggal dunia. Narji Cagur sikat gigi. Sebuah minibus menabrak kereta. Pesawat tempur jatuh. Kecelakaan menimpa rombongan PNS. Bunga Amarilis terinjak-injak. Manchester United kalah. Louis van Gaal tidak jadi dipecat. Aku tak tahu mau membuka yang mana, jariku dengan pasrah menaik-turunkan scroll. Seharusnya ada dorongan yang membuatku bersemangat berselancar di internet. Seharusnya aku penasaran. Namun yang kusangka menarik, ternyata biasa. Yang ternyata biasa, sudah kadaluwarsa. Yang kadaluwarsa, isinya sama saja. Aku bosan. Apa semesta tidak mampu menawarkan hal baru? Apakah Tuhan kehilangan ide mengatur dunia?
Aku menenggak seteguk teh. Telepon berdering. Ada suara rusuh di sana.
"Hallo?"
"Hallo?"
"Eko ya?"
"Iya. Ada apa?"
"Lho, kok kamu malah tanya. Kamu kan yang tilpun."
"Yang benar?"
"Benar!"
"Aku lupa."
"Apa maumu?"
"Nggak papa."
"Gimana sih?"
"Cuma kangen kok."
Klak!
Bajingan. Apa maksudnya si tengik itu? Aku masih normal. Kiblat seksualku belum bergeser. Kenapa sesama pria sudah main kangen-kangenan. Apa kiamat sudah dekat?
Aku melempar sebutir kacang ke mulutku.
Baru kali ini aku merasa jenuh. Makin banyak persoalan yang diselesaikan di depan layar, makin kurang menarik. Tinggal di-klik, selesai. Sederhana sekali. Hidup kok teramat datar? Apalah artinya telor tanpa garam? Apalah artinya punakawan tanpa semar? Yah, namanya juga manusia. Opo-opo sambad. Udah dapet hati, masih merogoh ampela, begitu kata orang. Namun apa terus demikian? Nanti khotbah tentang Fesbuk di atas sia-sia dong. Eh kok ngelantur, padahal aku mau cerita. Aku kan mau menulis pengalamanku di Fesbuk.
***
Terkadang enak juga ya punya Fesbuk. Hal yang dirasa merepotkan jadi praktis. Seperti itu tadi, bisa bicara tanpa bersuara. Nggak usah keluar nafas.
Pepatah abad 21 menandaskan, bermain media sosial, khususnya Fesbuk, memang mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat. Aku mengamini. Orang-orang yang dulu pernah melingkupi hidupku, dan sekarang jarang bertemu, kali ini dapat berakrab-ria kembali di Fesbuk walau tak bertatap muka. Akan tetapi, hubunganku dengan tetangga dan orang-orang kampung malah terasa berjarak. Padahal hampir setiap hari bertemu, berpapasan, namun semua itu berakhir hanya dengan lirikan. Lucu.
Sebuah garis rupanya telah hilang sebagai pemisah antara nyata dan maya. Kemajuan mempengaruhi adab dan tata cara manusia menjalani hidup. Label manusia sebagai makhluk sosial seperti kurang laku di zaman di mana segala urusan dipercayakan kepada mesin. Tentu hal ini hanya pendapat belaka. Dengan dibumbui sedikit bukti ilmiah dan dioplos bersama argumentasi yang meyakinkan, pastilah banyak orang yang setuju. Aku juga tak menolak pendapat tersebut. Yang tak sekedar ada benarnya, namun telah berangsur menjadi kenyataan.
Sayangnya aku tidak dapat dipaksa untuk meyakini satu hal saja. Internet tidak selamanya buruk. Ada saat justru keberadaan internet memudahkan manusia akan kebutuhan. Sialnya, aku sedang tak ingin membahas dikotomi negatif dan positif dampak internet. Para intelektuil dan pakar telah lama mencamkan bahwa internet adalah paradoks. 
Kau tinggal menggalinya saja, yang jelas aku sudah memberimu garis besar. (aku ngomong apa sih, gan?).
Alunan lagu The Beatles masih menyumpal kedua telingaku.
All you need is love
All you need is love
All you need is love... love...
Love is all you need
Aku sekarang tengah memikirkan cara bagaimana tulisanku biar bagus. Terlalu banyak paragraf yang samar. Oleh karena pikiranku bercabang, tulisanku mengalami digresi. Keluar dari topik utama. Namun asyik betul ya kalau perkara tulisan ditimpakan pada Fesbuk. Mark Zuck harus segera membikin kelebihan tambahan pada "anak rohaninya" ini. Tapi kasihan juga kalau apa-apa harus Fesbuk. Fesbuk kian berumur kian habis.
Meskipun begitu, Fesbuk tak pernah lelah sebagai pabrik pencipta hakim dadakan. Tiap tahun produksinya meningkat. Itu bisa terlihat di kolom komentar dalam suatu berita atau postingan tertentu.
"Pernyataan semacam itu seharusnya tak patut keluar dari mulut seorang dia. Bagaimanapun dia adalah dia. Seorang dia harusnya jadi teladan buat masyarakat, bukan malah bikin kontroversi."
Kadang kalau beberapa akun mementingkan efisiensi ruang komentar, pasti tulisannya melenceng dari Ejaan Yang Disempurnakan, sebab banyak kata disingkat dan huruf berubah jadi angka. Berikut contohnya:
"Se7! Pemerintah 'mang kyk gitu. Harusx aturan macem tu ditaati."
Jika beruntung, kau mungkin akan mendapati komentar-komentar menggelikan.
"Anjing kafir halal darahnya. Nabi M pernah menganjurkan membunuh penghina dan penista agama uhuk-uhuk. Kalau tak, nanti bisa memecah-belah umat. Kita mesti pasang badan. Waspada terhadap bahaya laten aliran ihik-ihik. Hidup kerang ajaib, ululululululu...!"
"Kmu betul Jon. Presiden kita emang nggak becus. Kerja kok blusak-blusuk. Dasar pencitraan. Tgl 25 dia malah ke timur, ngerayain bareng itu tuh sama pak tua berjenggot. Sdh tahu kalo mereka sesat, agama minoritas dirangkul. Dasar kecebong."
Bahkan kau bisa menemui orang berdebat di dunia maya. Mereka saling lempar komentar.
"Apakah keputusan Si A harus disalahkan cuma gara-gara dia itu pernah nggak bersih."
"Jendral S sudah melarang Partai Godam karena jelas2 telah makar. Tindakan itu didasari fakta dan kemarahan masyarakat merupakan akumulasi dari kebencian yg telah mereka sebarkan sebelum malam purnama. Dan itu konsekuensi dan mesti diterima."
"Kalau kondisinya dibalik, apakah Anda mau digituin? Didiskriminasi? Dimaki ini-itu padahal udah gk berdaya? Mbok sekali2 mikir humanity kek. Jd orang kok haus darah. Haus kuasa."
"Lho, Anda buta apa gimana? Waktu Maido Affair thn blabla mereka mbantai orang2 suci, giliran dibabat teriak2 HAM. Taik kucing!"
"Anda rupanya udh dicuci otaknya oleh OA. Anda korban pendidikan OA. Anda gk bisa berpikir jernih sjk dlm empedu. Anda icik icik icik. OA huwukhuwukhuwuk. Pokoknya sifissifissifis....."
Wah ya nggak ada selesainya. Pernah aku ikut nimbrung berdebat. Adu pendapat. Adu pengetahuan. Baku makian. Nggak kerasa waktu telah lewat 3 jam. Lama betul, pikirku. Kenyataan memang bikin enek. Namun tidak sewajibnya harus ditanggapi dengan keenekan pula.
Terkadang orang merecoki masalah orang lain hanya untuk menyelubungi kebobrokannya sendiri. Di Fesbuk banyak pengecut berlindung mengandalkan siasat. Mereka tak mungkin buka mulut tentang kelemahannya. Tapi di satu sisi mereka mengorek kekurangan orang lain. Tidak jelas apa tujuannya? Seolah sebagai pemuas atas nafsu yang kian membuncah. Kalau tidak melakukannya, mungkin terasa gatal. Mungkin.
Aku hanya bisa menduga. Toh setiap orang punya dunianya sendiri. Begitulah hidup.
***
Cting!
Pesan masuk. Ternyata dari wanita itu. Tumben sekali.
"Maaf ya, aku lama nggak balas pesanmu."
Hah! Tahun sudah berganti. 2016 masih hijau. Dan dia baru balas sekarang? Kalau balasannya berisi tanggapan tentang pesanku dahulu, aku mafhum. Mungkin ada halangan yang menghambatnya melakukan balasan untuk pesanku, dan mungkin juga pesan-pesan lain. Tapi aku tak habis pikir kenapa balasannya hanya berupa permohonan maaf. Tiba-tiba aku ingat, konon bila seorang wanita membalas pesanmu dengan kalimat pernyataan, itu tandanya kau harus berhenti berbalas pesan dengannya. Sombong sekali. Tapi aku tetap bersyukur, berkat Fesbuk komunikasiku dengan dia begitu intens, setidaknya 4 tahun lalu.
Kami satu RW sebenarnya. Ketika bulan puasa, kami kerap bertemu di pengajian remaja setiap sholat taraweh. Salah satu temanku lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia tergila-gila pada wanita itu. Seolah tanpa cela, dia memuji setinggi langit di depan wanita itu. Terang saja wanita itu dirundung malu, apalagi di sekitarnya ada kawan-kawannya.
Sebagai teman, aku jadi risih bila main dengannya. Ia sering memancingku membicarakan wanita itu. Untuk melegakannya, aku hanya mengimbangi saja. Tak enaklah, kami sudah karib sejak kecil. Jarak rumah kami pun cuma terpaut satu rumah. Bisa dibilang, kami ini tetangga dekat.
Ketika rasa suka temanku pada wanita itu makin tak terbendung, perasaanku dengan kejam diaduk oleh wanita itu pada sebuah kesempatan tertentu.
Di pengajian tersebut, mata kami bertumbuk satu sama lain. Meskipun aku duduk menyender di sebuah dinding, dan dia juga berada di seberang di dinding lain, kejadian itu berlangsung cukup lama. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana, namun aku merasa tidak nyaman. Berengseknya, dia memandangku sambil tersenyum--manis sekali. Sebentar aku mengalihkan pandangan, agar tak dicurigai siapapun. Namun saat kulirik kembali melalui ekor mataku, ia masih memandangku dengan meyakinkan. Aku jadi rikuh. Isyarat apa ini? Semoga bukan Isyarat Sarasvati.
Aku tak ingat bagaimana kejadian langka tersebut berakhir, yang jelas kami selanjutnya terlihat begitu dekat dalam hubungan di dunia maya.
Sebermula adalah cinta. Temanku memohon untuk meminta nomor hpnya via Fesbuk. Awalnya aku tak percaya diri karena aku hampir tak pernah menjalin kontak dengan perempuan. Tapi setelah meronta terhadap keraguan yang bersemayam di dalam diriku (romantik banget ya?), aku pun mengirim pesan ke Fesbuknya, meminta nomor hpnya atas nama temanku dengan kalimat yang terkesan lugu. Tak kusangka dia membalas, dan memberikanku nomor hp dengan syarat tidak disebarkan ke anak-anak lain. Aku mengiyakan saja. Bersama temanku, kami langsung mencatat.
Sejak itulah kami jadi sering berkomunikasi, meskipun tak sekalipun bertemu. Kami sering sms-an, siang atau malam. Dengan sifat sebagai pemuda dan pemudi tanggung, tidak pernah ada sms yang bermutu di antara kami.
Entah kebetulan atau didasari kebutuhan yang sama, kadang bila di antara kami tak ada yang membalas pesan, kami saling mempermasalahkan. Kenapa kok gak dibalas? Udah punya pacar ya? Sialan betul. Saking gemasnya aku, aku pernah berhasrat merengkuh wajahnya dan menghujani pipinya yang ranum itu dengan ribuan ciuman.
Pernah pula aku membuatnya GR dalam sebuah percakapan via sms. Waktu itu katanya dia baru pulang sekolah. Capek. Karena tak ingin mengganggu istirahatnya, aku mengirimkan pesan, yang tak pernah kuniatkan untuk mengundang rasa penasarannya padaku.
+ : Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi nanti saja setelah kamu istirahat.
- : Mau ngomong apa? Sekarang aja!
+ : Nanti sajalah.
- : Iya deh.
Pada malam harinya, akhirnya dia sms.
- : Mau ngomong apa nih? :) smile emotikon
+ : Kamu kenal si D nggak?
- : Kukira mau ngapa :-| nggak kenal tuh.
Percakapan pun berlanjut dengan topik seputar orang berinisial D.
Komunikasi kami yang terlihat intim rupanya tak dialami oleh temanku yang naksir wanita itu. Menurut pengakuan temanku, dia itu sombong. "Balasnya lama. Kalau balas gak serius," kata temanku. Ketika kutanyakan pada wanita itu, dia membenarkan. Menurutnya, temanku itu gak penting dan mengganggu dengan sms-smsnya yang beraliran alayisme itu. Modaro?
Kurang ajarnya dia masih suka. Jadi hubungan kami bertiga ini sungguh rawan, bagai cinta segitiga. Padahal cinta saja belum.
Pada bulan N, di penghujung tahun-sebelum-ramalan-kiamat, dia mengirim ucapan selamat ulang tahun ke dinding Fesbukku. Karena dengan bahasa Inggris, aku tidak mudeng kala itu. Aku sempat berpikir bahwa itu kode tertentu yang mempertaruhkan perasaan tertentu pula. Tapi setelah tahun berganti dan aku memiliki hp baru yang lebih bagus, aku mulai merasa bahwa dia sudah tak ingin lagi sms-an denganku. Setiap kuajak sms-an, balasannya cuma sekenanya, menandakan kalau aku sudah jadi gangguan. Terlebih pesanku via Fesbuk tak berbalas, aku tambah yakin kalau dia sudah tak membutuhkanku lagi. Itulah kenapa aku malas menanggapi permintaan maafnya. Aku tak mau ambil pusing. Toh, nanti malah terkesan hambar. Lebih baik mengurusi nasib masing-masing. Tenggelam dalam kesunyian masing-masing.
***
Jarum jam menumpuk di angka lima. Semburat senja jatuh di sebelahku melalui genteng kaca. Tanganku masih menggenggam gawai. Tapi tiada lagi yang akan kujelajahi di samudra internet ini. Kurasa aku sudah cukup menceritakannya kepadamu. Yang sebenarnya tentang Fesbuk, namun malah merembet ke soal tulisan dan urusan cinta.
Yah, hidup memang penuh persoalan. Tanpa soal, bukan hidup namanya. Tanpa hidup, artinya mati dong. Aku jadi teringat falsafah Jawa, "Urip iku urup". Hidup itu menyala. Entah apa maksudnya, aku kurang paham. Habis terdengar bagus sih, jadi aku pasang saja di sini. Dadahh...

Kotagede, 5-6 Januari 2016.

Sabtu, 04 Juli 2015

Sapardi Berterus Terang

Ketika pada suatu hari Minggu aku menemukan resensi Bandung Mawardi atas buku Bilang Begini Maksudnya Begitu-nya (selanjutnya disingkat BBMB) Sapardi Djoko Damono di Kedaulatan Rakyat, semula aku tak terlalu menaruh perhatian karena aku sudah bosan dengan karya sastrawan sepuh itu. Bukan maksud aku menganggap kualitas karyanya menurun, cuma aku merasa bosan saja. Namun, setelah Bandung merekomendasikannya lewat penuturannya yang khas, rasa penasaranku pun tergugah terhadap buku tersebut.

Aku mulai melakukan pencarian di Gramedia dan aku langsung menyongsong rak sastra begitu tiba di lantai 3 toko buku terkemuka itu. Tapi aku dibuat kecewa setelah mataku lelah tak mendapati bukunya di rak manapun. Bahkan ketika kulacak melalui komputer, hasilnya nihil. Aku pun membeli buku lainnya, tak kuingat buku apa, yang pasti masih berkaitan dengan sastra. Sekian waktu buku Sapardi kulupakan, disamping masalah keuangan yang lagi macet.

Aku tak berhasrat lagi, sampai akhirnya aku berjumpa di lain kesempatan, tepatnya tanggal 13 Juni kemarin saat aku sedang memiliki niat mengkoleksi kembali komik NARUTO. Waktu itu, aku hanya ingin membeli NARUTO saja, tapi aku tetap merasa perlu menyempatkan menengok rak sastra, sekedar melihat apakah buku yang terpajang masih itu-itu saja. Ternyata dugaanku salah. Banyak buku baru terbit. Aku tergiur. Saat itulah, ketika 3 buah komik sudah dalam genggaman, makjegagik, bukunya Sapardi menongol dengan cover bergambar wanita genit yang tengah menyerukan judul bukunya "Bilang Begini, Maksudnya Begitu", di bawahnya tertulis Sapardi Djoko Damono. Keteguhanku goyah. Aku menimbang-nimbang beberapa saat, mengingat uangku pas-passan. Setelah dipikir matang, aku mengembalikan satu buah komik ke habitatnya lantas mengambil buku BBMB Sapardi. Dengan begini, uangku tidak cepat terkuras meskipun harga komik jauh lebih murah dibanding buku "berbobot". Dengan gembira, kubayar tunai belanjaanku kali ini dan langsung meluncur ke rumah, tak sabar untuk segera membacanya.


Singkat cerita, buku BBMB kulahap habis. Tipis memang, tapi untungnya tak memaksaku memeras otak. Ini buku yang ringan. Membimbingku memahami puisi secara bertahap, dengan tiap bab selalu menelanjangi puisi yang dijadikan sebagai contoh. Menggunakan bahasa sederhana, yang mudah dipahami oleh awam sekalipun, Sapardi seolah menyuruh pembaca turut aktif bagaimana mengapresiasi suatu karya sastra. Dan memang itulah misinya: menjalin hubungan langsung antara pembaca dan penyair melalui pembacaan puisi, karena beliau percaya tanpa kegiatan itu sudah pasti tak ada apresiasi. Pemaparan Sapardi perihal apresiasi dalam pengantar: "Apresiasi berarti penghargaan atau kesadaran akan adanya nilai pada sesuatu. Dengan demikian apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap sastra atau kesadaran akan adanya sesuatu yang berharga pada sastra."

Klise memang, tapi aku terlanjur tersihir oleh Sapardi. Berbeda dengan buku sejenis, buku ini tak banyak memuat teori, sehingga tak terkesan meminta pembaca "menghafalkannya". Aku merasa Sapardi sedang berterus terang, menyingkap tabir yang selama ini membuat puisi seolah masih menjadi misteri mungkin bagi kebanyakkan orang--yang menaruh minat maupun tidak. Dengan asyik, ia menjelaskan perbedaan puisi dengan berita secara visual; bunyi dalam puisi; makna tersirat puisi di balik bahasa penyair; inspirasi penyair menciptakan karya; hingga pengaruh dongeng atau mitologi bagi penyair. Semua dikuliti dengan apik, demi menjawab tanya dan membantu mencari hakikat puisi, atas nama apresiasi sastra.

Selain itu, buku ini patut menjadi bahan pengajaran, khususnya di jenjang pendidikan SD sampai SMA, karena seakan menjadi oase di tengah keringnya ide guru Bahasa Indonesia dalam mengajar yang terus berkutat pada teori dan mematuhi buku materi. Tentu saja dengan metode pengajaran yang bisa membuat suasana ruang belajar menjadi hangat. Sebab, pelajaran bahasa Indonesia sudah kondang di kalangan murid sebagai pelajaran yang membosankan.

Sayangnya, ketebalan buku mbah Sapardi terlalu tipis untuk ukuran buku apresiasi sastra. Aku sarankan pada penerbit untuk menerbitkan edisi revisi dengan ditambah contoh puisi dan penjelasan yang lebih komprehensif. Sok!

Aku tak menjamin bahwa buku ini menjadi solusi. Aku hanya menawarkan dengan setulus hati bahwa buku ini bukan sekedar buku. Jagat sastra Indonesia kukira telah lama dihiasi buku serupa dan mungkin mempunyai kesamaan dengan buku ini dari segi isi. Artinya tak ada hal baru yang mampu mendecakkan mulut. Namun, aku ingin tetap menganggap buku ini menjadi bagian dari sastra Indonesia kontemporer.

Berkat buku ini, aku jadi lebih tahu tentang puisi. Aku jadi lebih paham tentang apresiasi. Kedua hal itu bagai membangun jembatan yang menghubungkan penyair dengan pembaca. Kira-kira begitulah.

Kotagede, 1 Juli 2015.

Selasa, 16 Juni 2015

Caldas Tak Membiarkan Pembaca Bosan

Gabriel Garcia Marquez, dikenal sebagai "raksasa" kesusastraan abad 20 sejak peluncuran novelnya yang berjudul 100 Tahun Kesunyian. Setelah mengalami nasib yang tak mujur sebelum terkenal, tahun 1982 ia mendapatkan penghargaan nobel dalam bidang sastra, dan kemudian ia dijadikan ikon dari aliran realisme magis oleh kritikus dan masyarakat sastra dunia. Aku mengetahui tentang beliaunya dari beberapa sumber baik internet maupun buku, itu pun hanya sedikit, karena aku saat ini rada kurang tertarik dengan sastra luar.

Tapi sebenarnya ini hanyalah masalah penyesuaian saja. Selama ini karya sastra luar yang pernah kubaca mungkin tak lebih dari sepuluh biji. Sementara untuk karya sastra dalam negeri, aku lupa sudah berapa kali aku baca. Salah satu hal yang bisa dijadikan alasan barangkali adalah aku merasa karya sastra luar tidak ada hubungannya dengan keadaan negeri ini. Mereka membicarakan kehidupan mereka sendiri dan aku tidak mengerti. Selain itu, kejenuhan adalah musuh utama saat membaca karya terjemahan. Dan kualitas terjemahan terkadang menentukan penilain: apakah novel pengarang asal negara ini sebagus yang dibicarakan banyak orang? Karena saat ini aku baru menguasai dua bahasa, terpaksa aku membaca terjemahannya.

Mungkin seiring berjalannya waktu aku bisa "klik" dengan karya sastra luar dan menambah bacaan lagi. Sebelum menunggu terwujudnya harapan tersebut, aku tengah "merintis"-nya pelan-pelan dengan menyelesaikan novel Caldas karya Gabriel Garcia Marquez. Itulah mengapa aku mengawali tulisan kali ini dengan informasi singkat mengenai Marquez.



Semula aku berpikir barangkali novel ini akan berhasil membuatku terkantuk--sebagaimana anggapanku selama ini terhadap karya luar--ternyata dugaanku meleset. Caldas adalah novel dengan terjemahan lumayan yang pernah aku baca. Beruntung LKiS, penerbit buku ini, mendapatkan penerjemah bernama Rizadini yang melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Gaya bercerita Marquez dalam buku ini telah berhasil kukenali berkat kinerja beliau. Tidak seperti kumpulan cerpen Marquez yang pernah diterbitkan Bentang Budaya, terjemahan Caldas sungguh kelewat lebih baik.

Aku memang berlebihan, karena sudah sepantasnyalah aku mengatakannya untuk novel ciamik ini. Tapi yang menurutku begitu memuaskan dari Caldas adalah dari segi teknisnya. Ada sejumlah plot twist di setiap akhir sub-bab dan paragraf yang disusupkan Marquez dengan cerdik, membuat rasa penasaranku makin mendidih untuk melanjutkan membacanya. Belum lagi deskripsi beliau tentang kapal, laut, cuaca, ikan, dan sekian hal lain yang menjadi setting Caldas merupakan produk tulisan yang tidak terkesan lugu. Pak Marquez seakan menyeret pembaca mengalami langsung kisah yang diceritakannya. Sebagaimana kata orang, penuturan Marquez renyah layaknya camilan. Meskipun tokoh "aku" hampir mendominasi dalam keseluruhan novel ini, sebetulnya ia bukanlah sekedar pribadi dengan ocehan tentang nasibnya yang terombang-ambing di tengah laut. Lebih dari itu, ia adalah penghibur ulung dengan segala tindakannya. Marquez seolah melakukan pembiaran terhadap tokohnya untuk menyelesaikan masalah sendiri atas kejadian buruk yang baru menimpanya. Beliau memuntahkan emosi serta gejolak batin tokoh dalam keterasingannya di lautan dengan kalimat memikat dan agak liris. Ratapan sang tokoh tak membuat hati teriris, malah mengundang sedikit senyum karena ada beberapa jumput humor yang digambarkan Marquez lewat pola pikirnya.

"Setiap pelaut tahu bahwa camar kadang tersesat di tengah laut dan terbang selama beberapa hari tanpa tujuan, sampai mereka menemukan kapal yang menunjukkan arah ke pelabuhan. Mungkin camar-camar yang selalu kulihat selama tiga hari belakangan ini tersesat. Ini artinya perahuku hanyut makin jauh dari daratan."
(hlm. 64).

Mungkin novel ini berangkat dengan membawa misi kebenaran atas kejanggalan-kejanggalan. Novel ini, kata Marquez, hanya reka ulang jurnalistik berdasarkan kisah nyata yang dialami pelaut Luis Alejandro Velasco, salah satu awak selamat dari kapal perusak Caldas milik Angkatan Laut Kolombia yang karam oleh badai di Laut Karibia pada 18 Februari 1955.

Semula pelaut itu dianggap "pahlawan" dan mendapat gelar kehormatan karena sanggup berjuang dan bertahan hidup selama 10 hari di lautan lepas tanpa makan atau minum. Bahkan ia berhasil menimbun kekayaan dari  ketenarannya dan menjadi model iklan karena pakaian dan jam tangan yang ia kenakan saat di laut tidak rusak. Namun, sejumlah fakta akhirnya terungkap ketika ia tiba-tiba melepas gelar kehormatan dan identitas "pahlawannya". Lewat surat kabar El Espectador, pelaut itu diwawancarai Marquez dengan mendetail hingga tersingkaplah tabir rahasia yang selama ini menutupi: tentang pelanggaran yang dilakukan Caldas sendiri karena mengangkut barang dagangan, padahal ini kapal Angkatan Laut; muatan yang melebihi kapasitas; dan rupanya muatan tersebut adalah barang selundupan seperti kulkas, mesin cuci, dan televisi. Pemerintah Kolombia yang saat itu di bawah diktator Gustavo Rojas Pinilla terus menyangkal kebenaran itu.

 Tapi Luis Alejandro Velasco, si pelaut malang itu, tidak gentar meski mendapatkan ancaman dan uang "tutup mulut". Ia sadar ia sedang memancing resiko: dipecat dari Angkatan Laut, satu-satunya pekerjaan yang ia miliki. Gelar kehormatan barangkali hanya kebahagiaan semu dan propaganda pemerintah jika kebenaran terus ditekan. Karena itu, surat kabar El Espectador tetap terbit dengan memuat kisahnya "yang tak biasa" secara bersambung, hingga akhirnya kena bredel pemerintah.

Aku salut dengan pelaut itu dan surat kabar tempat magang Marquez. Aku kagum dengan kebenaran yang bisa muncul di permukaan. Bagaimana pun berjuang untuk kebenaran tidak pernah salah. Novel ini mampu menyihir pembaca sepertiku. Aku tidak tahu lagi kapan akan mendapat karya sastra luar sebagus ini. Rasanya aku tidak bisa memprediksi. Roh Marquez telah menyerap ke dalam diriku walau baru membaca satu novelnya. Aku sampai sudah kehabisan kata-kata dan tak mampu lagi membuat kesimpulan untuk mengapresiasi Caldas. Itu karena kukira dengan membaca Caldas sudah merupakan wujud apresiasiku kepada Gabriel Garcia Marquez yang masih menjadi sosok misterius bagiku.

Kuperingatkan saja padamu, dengan memelintir kalimat di sampul belakang buku, bahwa Caldas tidak membiarkan pembaca bosan.


Selasa, 26 Mei 2015

Syiar Ilmu dan "Penjalin"

Bangsa yang besar adalah bangsa yang haus akan bacaan. Aku pernah baca frasa yang berbunyi seperti itu, tapi lupa di mana. Sekarang aku tempelkan di tulisan kali ini karena aku mengamini frasa tersebut.

Memang tak berlebihan jika bacaan berperan dalam mendorong kemajuan sebuah bangsa sebab dari itulah kualitas Sumber Daya Manusia dapat meningkat. Dengan meluangkan waktu barang sebentar untuk membaca buku, ibaratnya kita tak perlu repot-repot menyelam untuk sampai ke inti bumi. Maksudku, segala informasi dan pengetahuan telah menemukan tempatnya di setiap kata dan kalimat dalam buku, sehingga tak diharapkan lagi ada orang mengajukan pertanyaan tentang apa itu sendok?, misalnya, karena di dalam buku telah dipaparkan pengertiannya oleh sang penulis. Aku tak hendak mengatakan bahwa yang dikatakan dalam buku adalah kebenaran, meski kenyataannya banyak orang berpengetahuan tanpa pernah membaca. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa buku merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan, dan papan.


Tulisan H.B. Jassin berjudul "Ditjari: Penjalin dan Penerbit" dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay halaman 109 setidaknya menunjukkan semangat beberapa perintis bangsa ini hendak meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang belum lama lepas dari kekangan penjajah dengan niat mulia: menerjemahkan bacaan-bacaan dari segala bangsa di muka bumi.

Masih dalam ketegangan perang, konon ide tersebut dicetuskan oleh Sudjatmoko di rumah Sutan Takdir Alisjahbana tahun '46. Tentu ide ini disambut baik oleh Jassin yang segera memasang lowongan bagi penjalin (istilah lain dari penerjemah) secara terang-terangan untuk judul tulisannya itu. Aku menyebut lowongan sebab gaya tulisan beliau memang sedikit "menggebu" dan penuh harapan, namun aku lebih suka menduga bahwa beliau menganggap ilmu pengetahuan sebagai jendela untuk melihat belahan dunia lain. Beliau merekomendasikan karya2 klassika Romawi, Perancis Inggris, Jerman, Rusia; wilayah timur: 1001 Malam, Mahabharata, Kung Fu Tse, Rabindranath Tagore, untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ini menunjukkan: buku juga merupakan sarana manusia supaya dapat bervakansi ria sekaligus menambah wawasan. Asik!

Dalam usianya yang masih belia, waktu itu Indonesia tengah 'belajar menjadi orang'. Mempersiapkan sebuah tatanan bagi masa depan sembari tak lupa menengok peradaban leluhurnya di masa silam. Para intelek muda pun beraksi dengan saling-silang-pendapat perihal arah bangsa ini nantinya, dan semua itu akhirnya berpangkal pada refrensi. Oleh karena kebanyakan muda-mudi itu "menghamba" ilmu pada bangsa luar, terutama Barat melalui Belanda, sudah sewajarnyalah mereka lebih akrab dengan denyut kehidupan bangsa luar. Asumsi ini aku tangkap dalam tulisan beliau. Meski tidak secara eksplisit, aku merasa beliau juga menganggap pengaruh luar berpengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang. Dikhawatirkan muda-mudi itu akan kehilangan sekaligus ikut melenyapkan identitas ke-indonesia-an apabila menerapkan adab bangsa luar. Hi! Lantas bagaimana ini? Apa solusinya agar kita bisa tetap menjaga tanah sendiri walau di atas berdiri bangunan tetangga?

Jassin menulis enteng:

"Djiwa kita sebagai bangsa Indonesia ditentukan sedari ketjil oleh didikan kita dan lingkungan kita dan sekiranja adapun pengaruh2 luar, dengan insaf atau tidak tentu ditjerenakan menurut djiwa orang Indonesia."

Aku jadi teringat ungkapan Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat yang kudengar dari Cak Nun. Indonesia adalah negeri yang terbuka dalam segala hal. Serbuan berkoli-koli "baju" asing diterima baik oleh masyarakat kita untuk disesuaikan dengan jiwa orang Indonesia, tapi tetap tidak membuang baju sendiri. Jassin juga memiliki pandangan terhadap orang-orang yang berbeda sikap hidupnya dengan umum. Ia memberi "julukan" orang Indonesia modern. Ini sebetulnya agak ganjil, apa ukurannya untuk dapat disebut modern? Barangkali pemikirannya melampaui zaman. Ah, aku terlalu sering menaruh dugaan.

Masih berkaitan dengan persoalan di atas, dibutuhkan banyak tenaga ahli untuk menyukseskan proyek "memadjukan kebudajaan kita" ini. Penjalin atau penerjemah adalah paling utama. Perannya bisa dibilang krusial apabila mengingat konsekuensi atas pekerjaan berat ini. Orang sepertiku tentu tak sanggup mengemban kepercayaan menerjemah. Sejak kecil aku bergumul dengan bahasa ibu: jawa. Lalu dilanjutkan lingua franca (bahasa Indonesia) di sekolah secara medok. Untuk Inggris atau Arab, dua bahasa yang diajarkan kepadaku selama mengenyam pendidikan, belum pernah berhasil aku kuasai. Hiks! Sakno.

Apalagi pak Jassin membuat ketentuan khusus bagi penerjemah, yakni "penjalin2 jang mempunjai dorongan spontan dari dalam dan dengan tjinta melakukan pekerdjaannya". Beliau membuat pemisalan: Shakespeare tidak bisa disalin atas perintah. Harus ada kemauan dan hubungan yang cukup intim dengan pekerjaan yang sedang digelutinya (karya-karyanya), agar tak kehilangan "sari aslinja".

Maka, dengan sedikit puitis, Jassin bersabda tentang penerjemah:

"Penjalin ialah pelopor, jakni dengan bahasa membuka djalan kedunia rohani segala bangsa.... Penjalin djuga mentjari 'ilham', ia harus 'dalam suasana' untuk menjalin, baru bisa melakukan pekerdjaannja dengan baik. Djika berada dalam suasana, kata2 seolah berpendar dalam pikiran, dalam hati, tinggal memilih dan memetiknya sadja."

Aku setuju. Bagiku, karya terjemahan ibarat nasi goreng. Dari yang semula berupa nasi putih hasil tanakan biasa, digarap berubah menjadi nasi yang kaya rasa akan bumbu tanpa menghilangkan kadar karbohidrat di dalamnya. Ini bukan berarti karya terjemahan lebih baik dari aslinya; tepatnya, si penerjemah memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas karya terjemahan agar pembaca setempat dapat mengunyahnya dengan lancar. Di sini dituntut kesabaran, ketelatenan, kedisilipinan, agar kata-kata senantiasa "berpendar dalam pikiran, dalam hati", demi memenuhi harapan. Totalitas yang diberikannya dalam menerjemahkan juga turut membangun peradaban manusia. Dan akhirnya sejarah mencatat: para penerjemah berperan penting dalam mensyiarkan ilmu ke belahan bumi mana pun. Warbyasa!

Kurangnya profesi penerjemah, tampaknya menjadi kendala Jassin dkk, selain penerbit dan percetakan pada masa itu. Akan tetapi gairah para perintis bangsa ini hendak membagikan ilmunya sungguh membuatku terharu. Kemajuan negara-negara adidaya macam Amerika, Rusia, dan Inggris cukup menginspirasi mereka dalam memuwujudkan impian untuk bangsanya. Aku yang hidup di abad XXI merasa belum mampu berbuat banyak untuk bangsaku. Sekarang iklim negeriku sendiri rupanya tak mendukung kegiatan mensyiarkan ilmu kembali menggeliat. Dan polemik yang terjadi belakangan hanyalah pertarungan siasat demi kekuasaan, bukan ideologi atau paham apa pun.

Zaman telah berganti, waktu tak mungkin dibendung. Kini orang berprofesi penerjemah makin mudah ditemukan seiring kemajuan di segala bidang. Kebanyakan memang masih tergolong pemuda-pemudi dan bertolak dari profesi penulis. Mereka memanfaatkan internet sebagai media penampung karya terjemahan mereka yang tentunya top-markotop. Namun tulisan H.B. Jassin tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan penerjemah ini hendaklah dijadikan renungan dan pembelajaran. Walau berjarak hampir tujuhpuluh tahun sejak kali pertama tulisan Jassin terbit, justru membuatku dapat berinstropeksi diri dan sejenak memikirkan penyucian terhadap diriku yang bergelimang kesalahan. Hm.. Sejarah memang selalu menarik.

Kotagede, Rabu Legi 27 Mei 2015.

Rabu, 13 Mei 2015

Sekilas Tentang Khotbah di Atas Bukit


Judul : Khotbah di Atas Bukit
Penulis : Kuntowijoyo
Penerbit : Bentang Budaya, 1997
Tebal : 262 halaman
ISBN : 979-8793-33-1

Atas saran putranya, Bobi, masa pensiun Barman jauh dari kesan sepi maupun sunyi—sebagaimana yang umumnya terlihat—tatkala seorang pelacur bernama Popi menemani purna-baktinya di sebuah Villa di daerah perbukitan. Mereka seolah menjadi pasangan baru yang sedang berbulan madu karena keduanya saling mengisi satu sama lain walaupun Barman terkadang dikuasai nafsu berahi untuk menggarap tubuh Popi. Semula Barman menikmati masa pensiunnya; ia sudah tidak punya tanggungan lagi yang membuatnya harus banting tulang. Apalagi seluruh beaya hidupnya dijamin oleh Bobi melalui Popi yang merawatnya saban hari: dijerangkan air panas kalau mau mandi; diberi pijatan; dan dimasakkan makanan. Dalam pikirannya hanyalah kenikmatan duniawai, tak kurang dan tak lebih.

Sebelum akhirnya bertemu seorang pria tua bernama Humam yang mengaku sebagai manusia merdeka, yang tidak memilki apa-apa. Pengakuan Humam ini mengejutkan Barman, dan memancing pertanyaan bagaimana mungkin seseorang sanggup hidup tanpa memiliki materi, harkat, dan martabat? Ia dibuat heran dan beranggapan barangkali Humam hanyalah orang gila. Namun, bayangan wajah Humam beserta kata-katanya rupanya menimbulkan kecamuk dalam pikirannya hingga memancing pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan keadaannya sekarang. Dalam bahasa Kuntowijoyo, Barman mengalami “kegelisahan”.

Kegelisahan Barman makin menjadi setelah melihat situasi pasar tradisional waktu menemani Popi berbelanja. Terdapat beberapa orang yang tengah menurunkan barang dagangan dari truk, anak-anak kecil berlarian, dan banyak orang lagi yang sedang melakukan kegiatan transaksi. Rupanya keadaan ini menyadarkan Barman, betapa di balik hidupnya yang serba terjamin terselubung kekosongan dalam hatinya. Saat itulah kata-kata Humam kembali menyeruak dalam tempurung kepalanya.
Ia merasa ada kepingan-kepingan yang hilang dari dirinya dan menganggap selama ini yang dikerjakannya hanyalah sia-sia belaka. Kehidupan sosial yang berjalan dinamis di sekitarnya menyentak dirinya dengan penyesalan yang teramat dalam. Bahwa manusia tidak mungkin merengkuh dunia hanya dengan uang saja. Mereka perlu terjun ke masyarakat dan mencecap langsung pahit-manisnya sebagai makhluk sosial. Hakikat hidup bukan sekedar untuk menuruti ambisi mencapai tujuan tertentu, melainkan juga menjalani laku dengan cara yang benar.

Lewat tokoh utama Barman, Kuntowijoyo barangkali ingin menekankan filosfi jawa sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji,nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Sebab, berulangkali Barman mengalami kemurungan terutama setelah pertemuan dengan Humam, yang mana ia seolah menerima tamparan lewat kejadian-kejadian tak terduga, yang merupakan “personifikasi” dari makna filosofi tersebut. Seperti saat ia tengah berjalan-jalan bersama Humam, di mana telinganya terpaksa mendengar perkataan Humam.

“’Lupakanlah semuanya, bahkan dirimu. Yang ada ialah pohon-pohon, rumput-rumput. Engkau makhluk yang paling berbahagia. Waktu ialah untuk dinikmati. Ruang ialah tempat kita bergerak. Gerak ialah hidup kita.’
‘Maksudmu?’
‘Tidak ada maksud apa-apa.’
‘Aku tak mengerti.’
‘Hidup sekedarnya, berbahagia sebesarnya.’”
(hlm. 72)

Kaya secukupnya dan memiliki banyak relasi yang bersedia membantu berdiri di saat terjatuh; mendapatkan kehormatan karena bertabiat baik, betutur kata sopan, bijaksana, dan bukan karena aji-aji; menyerang tanpa pasukan; meraih kemenangan tanpa merendahkan orang lain. Demikianlah penjelasan Humam kepada Barman. Dari sini saya melihat Kuntowijiyo sengaja menaruh Barman pada suatu keadaan yang dilematis. Ia ingin mengamalkan “ajaran-ajaran” Humam, tapi di sisi lain ia masih tidak ikhlas melepaskan kekayaannya. Hingga akhirnya secara perlahan namun pasti Barman memahami apa yang disebut manusia merdeka, “tidak terbelenggu” oleh (kebahagiaan materi) apa pun.

Bersama orang-orang di pasar yang menjadi pengikutnya, ia menuju puncak bukit dengan menunggang kuda. Awalnya pengikut Barman menginginkan kebahagiaan. Mereka sadar bahwa Barman akan memberikan kebahagiaan dan melenyapkan penderitaan, namun sesampai di sana, Barman hanya terdiam di atas kudanya. Mereka semua terheran, dan sangat menanti-nanti. Hingga kabut mulai turun Barman belum mengucapkan sepatah kata pun. Hampir saja semua pengikutnya meninggalkannya, penjaga Tua di samping Barman berseru agar mereka segera kembali karena “Bapak” akan bicara. Tak berselang lama, mereka mengerubungi Barman lagi. “Ini khotbahku,” kata Barman. “Hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan!”

Penantian mereka akhirnya terpenuhi saat Barman kembali berseru, “Bunuhlah dirimu!”. Serentak mereka terharu. Sebuah penyembuhan telah tiba. Kepingan-kepingan yang hilang pun telah terpasang kembali. Rahasia hidup tersingkap satu demi satu oleh perjalanan spiritual yang khidmat ke puncak bukit.

Jujur saja, rentang waktu cukup lama sejak karya Khotbah di Atas Bukit menjadi cerita bersambung di harian Kompas tahun 70-an mempengaruhi saya dalam pembacaan. Banyak kalimat dan bahasa yang terdengar wagu jika dibaca di zaman sekarang yang telah melalui perkembangan dalam segi bahasa maupun kesusastraan. Namun, upaya Kuntowijoyo mengubah liburan Barman tua menjadi sebuah pembersihan jiwa berhasil dengan gaya bertuturnya yang khas, dan membiarkan tokoh utama tersebut melakukan pencarian dengan batin yang bergejolak, mempertanyakan pengalaman hidupnya ketika ia telah memasuki senja.

Kotagede, Selasa Wage 5 Mei 2015.

Indahnya Masa Kecil di Bulan Ramadhan

Pada periode 2002-2008 saya mengalami masa-masa bulan Ramadhan yang sungguh mengasyikkan. Betapa tidak, setelah buka puasa, saya dan kawan-kawan kluyuran ke mana-mana sambil mengantongi amunisi (baca: Mercon). Maklum, di kota kecil saya dulu masih banyak kebon maupun tanah lapang, sehingga kami terkadang membuat api unggun terlebih dahulu di tengah-tengahnya, baru kemudian satu per satu amunisi disulut.

Malam masih menyisakan riuh petang hari ketika amunisi kami meledak di udara, membuat sejumlah tetangga atau pemilik rumah di sekitar sering keluar hanya untuk marah-marah atau mengusir keberadaan setan-setan kecil, dan itu malah membuat kami makin rajin berbuat iseng dengan melemparkan amunisi ke rumah empunya melalui jendela di kemudian hari—sekedar untuk pembalasan dendam.

Kami pada waku itu sama sekali tak memikirkan dosa meski dihardik habis-habisan oleh orang tua kami yang menyatakan perbuatan kami tidak pantas dan bukan ciri-ciri anak Islami. Padahal, sampai sekarang saya belum mengetahui apakah gerangan ciri-ciri tersebut supaya bisa disebut anak Islami.

Dengan kesederhanaan otak seorang bocah, kami malah tertantang karena adrenalin kami kian terpacu untuk mengulangi itu lagi itu lagi. Nah, ketika adzan isya’ berkumandang di segenap penjuru, kebetulan amunisi kami sudah habis dan saatnya mengikuti sholat taraweh. Mas dan Mbak mengawali basa-basi dengan menyuruh kami duduk manis untuk menyanyikan puji-pujian. Berikut adalah sala satu liriknya:

Ashadualla illa hailallah wa ashaduannamuhammada rasulullah
Anyekseni isuk sak durunge ora ono pangeran nanging ono kang sinembah
Kelawan sak durunge kang wajib ujude
Kang mokang anane
Kang mokang kekurangane
Kang agawee….. sholat iku kabeh!

Demikianlah. Kendati cukup membosankan, namun sebetulnya mengasyikkan karena membantu kami menghafalkan doa kecil-kecilan tersebut. Saya tidak bisa membayangkan seandainya doa-doa itu tidak dilagukan barangkali terjemahannya juga tidak mudah dihafalkan. Dengan digubah nada dan liriknya menjadi bahasa jawa, belakangan saya baru menyadari kalau “metode” ini diciptakan Sunan Kalijaga guna menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Orang-orang jaman dahulu pasti lebih akrab dengan lagu sejenis itu karena diwarisi secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kini setelah arus teknologi menguasai setiap segi kehidupan manusia dan munculnya orang-orang saleh yang gampang sekali mendakwa orang lain sebagai apalah (koyo keponakane Gusti Allah wae), puji-pujian seperti di atas tidak pernah terdengar lagi di pengajian mana pun. Lima tahun terakhir, Ramadhan terasa kosong tanpa suara polos anak-anak menyanyikan lagu dolanan. Beruntung masa kecil saya terselamatkan.


Kotagede, Yogyakarta.
Minggu Kliwon, 22 Maret 2015.