Selasa, 26 Mei 2015

Syiar Ilmu dan "Penjalin"

Bangsa yang besar adalah bangsa yang haus akan bacaan. Aku pernah baca frasa yang berbunyi seperti itu, tapi lupa di mana. Sekarang aku tempelkan di tulisan kali ini karena aku mengamini frasa tersebut.

Memang tak berlebihan jika bacaan berperan dalam mendorong kemajuan sebuah bangsa sebab dari itulah kualitas Sumber Daya Manusia dapat meningkat. Dengan meluangkan waktu barang sebentar untuk membaca buku, ibaratnya kita tak perlu repot-repot menyelam untuk sampai ke inti bumi. Maksudku, segala informasi dan pengetahuan telah menemukan tempatnya di setiap kata dan kalimat dalam buku, sehingga tak diharapkan lagi ada orang mengajukan pertanyaan tentang apa itu sendok?, misalnya, karena di dalam buku telah dipaparkan pengertiannya oleh sang penulis. Aku tak hendak mengatakan bahwa yang dikatakan dalam buku adalah kebenaran, meski kenyataannya banyak orang berpengetahuan tanpa pernah membaca. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa buku merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan, dan papan.


Tulisan H.B. Jassin berjudul "Ditjari: Penjalin dan Penerbit" dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay halaman 109 setidaknya menunjukkan semangat beberapa perintis bangsa ini hendak meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang belum lama lepas dari kekangan penjajah dengan niat mulia: menerjemahkan bacaan-bacaan dari segala bangsa di muka bumi.

Masih dalam ketegangan perang, konon ide tersebut dicetuskan oleh Sudjatmoko di rumah Sutan Takdir Alisjahbana tahun '46. Tentu ide ini disambut baik oleh Jassin yang segera memasang lowongan bagi penjalin (istilah lain dari penerjemah) secara terang-terangan untuk judul tulisannya itu. Aku menyebut lowongan sebab gaya tulisan beliau memang sedikit "menggebu" dan penuh harapan, namun aku lebih suka menduga bahwa beliau menganggap ilmu pengetahuan sebagai jendela untuk melihat belahan dunia lain. Beliau merekomendasikan karya2 klassika Romawi, Perancis Inggris, Jerman, Rusia; wilayah timur: 1001 Malam, Mahabharata, Kung Fu Tse, Rabindranath Tagore, untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ini menunjukkan: buku juga merupakan sarana manusia supaya dapat bervakansi ria sekaligus menambah wawasan. Asik!

Dalam usianya yang masih belia, waktu itu Indonesia tengah 'belajar menjadi orang'. Mempersiapkan sebuah tatanan bagi masa depan sembari tak lupa menengok peradaban leluhurnya di masa silam. Para intelek muda pun beraksi dengan saling-silang-pendapat perihal arah bangsa ini nantinya, dan semua itu akhirnya berpangkal pada refrensi. Oleh karena kebanyakan muda-mudi itu "menghamba" ilmu pada bangsa luar, terutama Barat melalui Belanda, sudah sewajarnyalah mereka lebih akrab dengan denyut kehidupan bangsa luar. Asumsi ini aku tangkap dalam tulisan beliau. Meski tidak secara eksplisit, aku merasa beliau juga menganggap pengaruh luar berpengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang. Dikhawatirkan muda-mudi itu akan kehilangan sekaligus ikut melenyapkan identitas ke-indonesia-an apabila menerapkan adab bangsa luar. Hi! Lantas bagaimana ini? Apa solusinya agar kita bisa tetap menjaga tanah sendiri walau di atas berdiri bangunan tetangga?

Jassin menulis enteng:

"Djiwa kita sebagai bangsa Indonesia ditentukan sedari ketjil oleh didikan kita dan lingkungan kita dan sekiranja adapun pengaruh2 luar, dengan insaf atau tidak tentu ditjerenakan menurut djiwa orang Indonesia."

Aku jadi teringat ungkapan Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat yang kudengar dari Cak Nun. Indonesia adalah negeri yang terbuka dalam segala hal. Serbuan berkoli-koli "baju" asing diterima baik oleh masyarakat kita untuk disesuaikan dengan jiwa orang Indonesia, tapi tetap tidak membuang baju sendiri. Jassin juga memiliki pandangan terhadap orang-orang yang berbeda sikap hidupnya dengan umum. Ia memberi "julukan" orang Indonesia modern. Ini sebetulnya agak ganjil, apa ukurannya untuk dapat disebut modern? Barangkali pemikirannya melampaui zaman. Ah, aku terlalu sering menaruh dugaan.

Masih berkaitan dengan persoalan di atas, dibutuhkan banyak tenaga ahli untuk menyukseskan proyek "memadjukan kebudajaan kita" ini. Penjalin atau penerjemah adalah paling utama. Perannya bisa dibilang krusial apabila mengingat konsekuensi atas pekerjaan berat ini. Orang sepertiku tentu tak sanggup mengemban kepercayaan menerjemah. Sejak kecil aku bergumul dengan bahasa ibu: jawa. Lalu dilanjutkan lingua franca (bahasa Indonesia) di sekolah secara medok. Untuk Inggris atau Arab, dua bahasa yang diajarkan kepadaku selama mengenyam pendidikan, belum pernah berhasil aku kuasai. Hiks! Sakno.

Apalagi pak Jassin membuat ketentuan khusus bagi penerjemah, yakni "penjalin2 jang mempunjai dorongan spontan dari dalam dan dengan tjinta melakukan pekerdjaannya". Beliau membuat pemisalan: Shakespeare tidak bisa disalin atas perintah. Harus ada kemauan dan hubungan yang cukup intim dengan pekerjaan yang sedang digelutinya (karya-karyanya), agar tak kehilangan "sari aslinja".

Maka, dengan sedikit puitis, Jassin bersabda tentang penerjemah:

"Penjalin ialah pelopor, jakni dengan bahasa membuka djalan kedunia rohani segala bangsa.... Penjalin djuga mentjari 'ilham', ia harus 'dalam suasana' untuk menjalin, baru bisa melakukan pekerdjaannja dengan baik. Djika berada dalam suasana, kata2 seolah berpendar dalam pikiran, dalam hati, tinggal memilih dan memetiknya sadja."

Aku setuju. Bagiku, karya terjemahan ibarat nasi goreng. Dari yang semula berupa nasi putih hasil tanakan biasa, digarap berubah menjadi nasi yang kaya rasa akan bumbu tanpa menghilangkan kadar karbohidrat di dalamnya. Ini bukan berarti karya terjemahan lebih baik dari aslinya; tepatnya, si penerjemah memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas karya terjemahan agar pembaca setempat dapat mengunyahnya dengan lancar. Di sini dituntut kesabaran, ketelatenan, kedisilipinan, agar kata-kata senantiasa "berpendar dalam pikiran, dalam hati", demi memenuhi harapan. Totalitas yang diberikannya dalam menerjemahkan juga turut membangun peradaban manusia. Dan akhirnya sejarah mencatat: para penerjemah berperan penting dalam mensyiarkan ilmu ke belahan bumi mana pun. Warbyasa!

Kurangnya profesi penerjemah, tampaknya menjadi kendala Jassin dkk, selain penerbit dan percetakan pada masa itu. Akan tetapi gairah para perintis bangsa ini hendak membagikan ilmunya sungguh membuatku terharu. Kemajuan negara-negara adidaya macam Amerika, Rusia, dan Inggris cukup menginspirasi mereka dalam memuwujudkan impian untuk bangsanya. Aku yang hidup di abad XXI merasa belum mampu berbuat banyak untuk bangsaku. Sekarang iklim negeriku sendiri rupanya tak mendukung kegiatan mensyiarkan ilmu kembali menggeliat. Dan polemik yang terjadi belakangan hanyalah pertarungan siasat demi kekuasaan, bukan ideologi atau paham apa pun.

Zaman telah berganti, waktu tak mungkin dibendung. Kini orang berprofesi penerjemah makin mudah ditemukan seiring kemajuan di segala bidang. Kebanyakan memang masih tergolong pemuda-pemudi dan bertolak dari profesi penulis. Mereka memanfaatkan internet sebagai media penampung karya terjemahan mereka yang tentunya top-markotop. Namun tulisan H.B. Jassin tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan penerjemah ini hendaklah dijadikan renungan dan pembelajaran. Walau berjarak hampir tujuhpuluh tahun sejak kali pertama tulisan Jassin terbit, justru membuatku dapat berinstropeksi diri dan sejenak memikirkan penyucian terhadap diriku yang bergelimang kesalahan. Hm.. Sejarah memang selalu menarik.

Kotagede, Rabu Legi 27 Mei 2015.

Rabu, 13 Mei 2015

Sekilas Tentang Khotbah di Atas Bukit


Judul : Khotbah di Atas Bukit
Penulis : Kuntowijoyo
Penerbit : Bentang Budaya, 1997
Tebal : 262 halaman
ISBN : 979-8793-33-1

Atas saran putranya, Bobi, masa pensiun Barman jauh dari kesan sepi maupun sunyi—sebagaimana yang umumnya terlihat—tatkala seorang pelacur bernama Popi menemani purna-baktinya di sebuah Villa di daerah perbukitan. Mereka seolah menjadi pasangan baru yang sedang berbulan madu karena keduanya saling mengisi satu sama lain walaupun Barman terkadang dikuasai nafsu berahi untuk menggarap tubuh Popi. Semula Barman menikmati masa pensiunnya; ia sudah tidak punya tanggungan lagi yang membuatnya harus banting tulang. Apalagi seluruh beaya hidupnya dijamin oleh Bobi melalui Popi yang merawatnya saban hari: dijerangkan air panas kalau mau mandi; diberi pijatan; dan dimasakkan makanan. Dalam pikirannya hanyalah kenikmatan duniawai, tak kurang dan tak lebih.

Sebelum akhirnya bertemu seorang pria tua bernama Humam yang mengaku sebagai manusia merdeka, yang tidak memilki apa-apa. Pengakuan Humam ini mengejutkan Barman, dan memancing pertanyaan bagaimana mungkin seseorang sanggup hidup tanpa memiliki materi, harkat, dan martabat? Ia dibuat heran dan beranggapan barangkali Humam hanyalah orang gila. Namun, bayangan wajah Humam beserta kata-katanya rupanya menimbulkan kecamuk dalam pikirannya hingga memancing pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan keadaannya sekarang. Dalam bahasa Kuntowijoyo, Barman mengalami “kegelisahan”.

Kegelisahan Barman makin menjadi setelah melihat situasi pasar tradisional waktu menemani Popi berbelanja. Terdapat beberapa orang yang tengah menurunkan barang dagangan dari truk, anak-anak kecil berlarian, dan banyak orang lagi yang sedang melakukan kegiatan transaksi. Rupanya keadaan ini menyadarkan Barman, betapa di balik hidupnya yang serba terjamin terselubung kekosongan dalam hatinya. Saat itulah kata-kata Humam kembali menyeruak dalam tempurung kepalanya.
Ia merasa ada kepingan-kepingan yang hilang dari dirinya dan menganggap selama ini yang dikerjakannya hanyalah sia-sia belaka. Kehidupan sosial yang berjalan dinamis di sekitarnya menyentak dirinya dengan penyesalan yang teramat dalam. Bahwa manusia tidak mungkin merengkuh dunia hanya dengan uang saja. Mereka perlu terjun ke masyarakat dan mencecap langsung pahit-manisnya sebagai makhluk sosial. Hakikat hidup bukan sekedar untuk menuruti ambisi mencapai tujuan tertentu, melainkan juga menjalani laku dengan cara yang benar.

Lewat tokoh utama Barman, Kuntowijoyo barangkali ingin menekankan filosfi jawa sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji,nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Sebab, berulangkali Barman mengalami kemurungan terutama setelah pertemuan dengan Humam, yang mana ia seolah menerima tamparan lewat kejadian-kejadian tak terduga, yang merupakan “personifikasi” dari makna filosofi tersebut. Seperti saat ia tengah berjalan-jalan bersama Humam, di mana telinganya terpaksa mendengar perkataan Humam.

“’Lupakanlah semuanya, bahkan dirimu. Yang ada ialah pohon-pohon, rumput-rumput. Engkau makhluk yang paling berbahagia. Waktu ialah untuk dinikmati. Ruang ialah tempat kita bergerak. Gerak ialah hidup kita.’
‘Maksudmu?’
‘Tidak ada maksud apa-apa.’
‘Aku tak mengerti.’
‘Hidup sekedarnya, berbahagia sebesarnya.’”
(hlm. 72)

Kaya secukupnya dan memiliki banyak relasi yang bersedia membantu berdiri di saat terjatuh; mendapatkan kehormatan karena bertabiat baik, betutur kata sopan, bijaksana, dan bukan karena aji-aji; menyerang tanpa pasukan; meraih kemenangan tanpa merendahkan orang lain. Demikianlah penjelasan Humam kepada Barman. Dari sini saya melihat Kuntowijiyo sengaja menaruh Barman pada suatu keadaan yang dilematis. Ia ingin mengamalkan “ajaran-ajaran” Humam, tapi di sisi lain ia masih tidak ikhlas melepaskan kekayaannya. Hingga akhirnya secara perlahan namun pasti Barman memahami apa yang disebut manusia merdeka, “tidak terbelenggu” oleh (kebahagiaan materi) apa pun.

Bersama orang-orang di pasar yang menjadi pengikutnya, ia menuju puncak bukit dengan menunggang kuda. Awalnya pengikut Barman menginginkan kebahagiaan. Mereka sadar bahwa Barman akan memberikan kebahagiaan dan melenyapkan penderitaan, namun sesampai di sana, Barman hanya terdiam di atas kudanya. Mereka semua terheran, dan sangat menanti-nanti. Hingga kabut mulai turun Barman belum mengucapkan sepatah kata pun. Hampir saja semua pengikutnya meninggalkannya, penjaga Tua di samping Barman berseru agar mereka segera kembali karena “Bapak” akan bicara. Tak berselang lama, mereka mengerubungi Barman lagi. “Ini khotbahku,” kata Barman. “Hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan!”

Penantian mereka akhirnya terpenuhi saat Barman kembali berseru, “Bunuhlah dirimu!”. Serentak mereka terharu. Sebuah penyembuhan telah tiba. Kepingan-kepingan yang hilang pun telah terpasang kembali. Rahasia hidup tersingkap satu demi satu oleh perjalanan spiritual yang khidmat ke puncak bukit.

Jujur saja, rentang waktu cukup lama sejak karya Khotbah di Atas Bukit menjadi cerita bersambung di harian Kompas tahun 70-an mempengaruhi saya dalam pembacaan. Banyak kalimat dan bahasa yang terdengar wagu jika dibaca di zaman sekarang yang telah melalui perkembangan dalam segi bahasa maupun kesusastraan. Namun, upaya Kuntowijoyo mengubah liburan Barman tua menjadi sebuah pembersihan jiwa berhasil dengan gaya bertuturnya yang khas, dan membiarkan tokoh utama tersebut melakukan pencarian dengan batin yang bergejolak, mempertanyakan pengalaman hidupnya ketika ia telah memasuki senja.

Kotagede, Selasa Wage 5 Mei 2015.

Indahnya Masa Kecil di Bulan Ramadhan

Pada periode 2002-2008 saya mengalami masa-masa bulan Ramadhan yang sungguh mengasyikkan. Betapa tidak, setelah buka puasa, saya dan kawan-kawan kluyuran ke mana-mana sambil mengantongi amunisi (baca: Mercon). Maklum, di kota kecil saya dulu masih banyak kebon maupun tanah lapang, sehingga kami terkadang membuat api unggun terlebih dahulu di tengah-tengahnya, baru kemudian satu per satu amunisi disulut.

Malam masih menyisakan riuh petang hari ketika amunisi kami meledak di udara, membuat sejumlah tetangga atau pemilik rumah di sekitar sering keluar hanya untuk marah-marah atau mengusir keberadaan setan-setan kecil, dan itu malah membuat kami makin rajin berbuat iseng dengan melemparkan amunisi ke rumah empunya melalui jendela di kemudian hari—sekedar untuk pembalasan dendam.

Kami pada waku itu sama sekali tak memikirkan dosa meski dihardik habis-habisan oleh orang tua kami yang menyatakan perbuatan kami tidak pantas dan bukan ciri-ciri anak Islami. Padahal, sampai sekarang saya belum mengetahui apakah gerangan ciri-ciri tersebut supaya bisa disebut anak Islami.

Dengan kesederhanaan otak seorang bocah, kami malah tertantang karena adrenalin kami kian terpacu untuk mengulangi itu lagi itu lagi. Nah, ketika adzan isya’ berkumandang di segenap penjuru, kebetulan amunisi kami sudah habis dan saatnya mengikuti sholat taraweh. Mas dan Mbak mengawali basa-basi dengan menyuruh kami duduk manis untuk menyanyikan puji-pujian. Berikut adalah sala satu liriknya:

Ashadualla illa hailallah wa ashaduannamuhammada rasulullah
Anyekseni isuk sak durunge ora ono pangeran nanging ono kang sinembah
Kelawan sak durunge kang wajib ujude
Kang mokang anane
Kang mokang kekurangane
Kang agawee….. sholat iku kabeh!

Demikianlah. Kendati cukup membosankan, namun sebetulnya mengasyikkan karena membantu kami menghafalkan doa kecil-kecilan tersebut. Saya tidak bisa membayangkan seandainya doa-doa itu tidak dilagukan barangkali terjemahannya juga tidak mudah dihafalkan. Dengan digubah nada dan liriknya menjadi bahasa jawa, belakangan saya baru menyadari kalau “metode” ini diciptakan Sunan Kalijaga guna menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Orang-orang jaman dahulu pasti lebih akrab dengan lagu sejenis itu karena diwarisi secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kini setelah arus teknologi menguasai setiap segi kehidupan manusia dan munculnya orang-orang saleh yang gampang sekali mendakwa orang lain sebagai apalah (koyo keponakane Gusti Allah wae), puji-pujian seperti di atas tidak pernah terdengar lagi di pengajian mana pun. Lima tahun terakhir, Ramadhan terasa kosong tanpa suara polos anak-anak menyanyikan lagu dolanan. Beruntung masa kecil saya terselamatkan.


Kotagede, Yogyakarta.
Minggu Kliwon, 22 Maret 2015.

Penantian dan Pernikahan dan (Sedikit) Kesalahan Fatal

Ini feedback pertama saya atas cerita pendek karya Sungging Raga yang dimuat di Kedaulatan Rakyat (KR) edisi hari Minggu, 26 April 2015. Maaf apabila penilaian saya tidak setajam silet. Silakan dinikmati.


Nama Sungging Raga sudah dikenal lumayan lama dalam dunia penulisan kita, Kira-kira tujuh tahun terakhir ini. Ia pengarang muda dan setahu saya, beliau belum menikah. Saya mulai menggemari karya-karyanya (khususnya cerita pendek) sejak satu setengah tahun lalu dan setiap cerita pendek Sungging Raga dimuat di media tidak mungkin saya tidak membacanya; seakan telah menjadi suatu kewajiban bagi saya karena karya Raga selalu memberi kesan tersendiri.

Begitu pun pada cerpen Raga kali ini. Cerpen berjudul “Bulan Berlalu” ini saya baca sampai penghabisan di sebuah situs pengkliping karya pengarang negeri ini.

Terbagi dalam tiga bagian. Dua bagian awal, penutur memusatkan pada salah satu tokoh yang bernama Nyi Saminah. Bagian ketiga atau terakhir penutur beralih ke tokoh lain yang bernama Dulkarip. Berkisah tentang seorang Ibu yang menanti anak semata wayangnya menikah. Ia prihatin akan keadaan anaknya karena di umur ke 29 tahun anaknya masih seperti pemuda merdeka dengan pekerjaan tak tetap: ternak ayam Bangkok. Kalender telah berganti tahun dan bulan dan sang Ibu makin dilanda kegundahan melihat anaknya tak kunjung menemukan jodoh. Akhirnya ia pasrah (?) setelah anaknya menyatakan bahwa Jodoh ada di tangan Tuhan, meskipun ia merasa perkataan itu juga untuk melipur hati sang anak sendiri. Ending cerita ini rupanya cukup bahagia. Sang anak akhirnya menemukan pujaan hatinya, yang merupakan putri seorang penjual pakan ayam langganannya, dan segera dipinang sebagai istrinya.

Sebetulnya cerita pendek ini berhasil. Dari segi suasana penulis mampu memberikan ketegangan—kalau boleh saya sebut demikian—pada pembaca yang sedari paragraf pertama diasupi adegan-adegan penantian sang ibu terhadap perubahan status anaknya. Kata “Kalender”, “Bulan”, “Tahun”, dan “Tanggal” rupanya memiliki peranan penting dalam membangun perasaan Ibu dan makin lama bahkan kian tampak sebagai momok tokoh ibu—begitulah yang saya rasa. Nyi Saminah, demikian nama tokoh Ibu, seakan berpandangan waktu bukanlah air yang bisa dibendung. Ia terus menghitung hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, namun kenyataan menyuguhkan persoalan lama: kelajangan putranya.

Jujur saja, saya tak sanggup membayangkan seandainya keempat kata itu diganti atau dihilangkan, alur cerita pasti akan berubah dan belum tentu mampu menggambarkan suasana secara tepat. Semula Sang Ibu memang keliru menafsirkan arti penikahan. Momen yang sebenarnya memerlukan kesabaran seolah seperti sebuah ke-ter-paksa-an. Bukannya berserah diri pada Tuhan, sebagai Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang bagi siapa pun, ia justru ragu terhadap kejelasan nasib putranya. Keraguan tersebut tergambar jelas dalam paragraf berikut:

“Nyi Saminah selalu malu pada orang-orang sekitar, sebab pemuda lain seusia Dulkarip sudah menikah, bahkan sebagian sudah punya anak. Seolah tinggal Dulkarip saja yang belum mendapat pasangan.”

Hal ini menunjukkan seolah-olah pernikahan hanya untuk meningkatkan martabat semata. Padahal hakikat hidup berpasangan memerlukan kematangan dalam menghadapi hari depan dan terkadang harus berdarah-darah untuk memenuhi kebutuhan. Kendati demikian, Nyi Saminah pun akhirnya insaf. Ia tak mau putranya, Dulkarip, terkesan “diburu waktu” dalam melangsungkan pernikahan. Sebab ia pernah menelan pengalaman pahit di masa silam, saat ia juga dipaksa untuk segera menikah oleh kedua orang tuanya walaupun umur pernikahan itu pendek.

Agaknya Raga juga ingin menyentil para orang tua yang memandang pernikahan seorang anak sebagai tabir untuk menutupi rasa malu di kalangan orang tua lainnya. Bahwa dia sendiri tak menampik status lajangnya itu memang benar, tetapi dia juga memiliki hak untuk menceramahi para orang tua yang selalu merasa memiliki kuasa lebih atas anak hingga seolah menjadi penentu tunggal nasib sang buah hati.

Terus terang, saya pernah mengalami kejadian serupa, namun sedikit berbeda, yakni waktu ayah saya tidak mengizinkan saya masuk di sekolah menengah kesenian dengan alasan murid-murid di sekolah tersebut suka mabuk-mabukan dan bertabiat buruk. Padahal itu lumrah dan di sekolah mana pun pasti ada murid yang suka mabuk-mabukan dan bertabiat buruk. (Aduh! Malah curhat).

Selanjutnya adalah menyangkut peralihan dari satu tokoh ke tokoh lain. Sebagaimana yang saya katakan di atas, cerita pendek ini terbagi dalam 3 bagian. Di bagian ketiga atau terakhir penutur meloncat ke tokoh lain, yaitu Dulkarip. Di sini sudah lain sudut pandang, artinya lain pula alur cerita. Jika di bagian pertama dan kedua berkisar tentang kecemasan Sang Ibu beserta hal-hal lain yang mengiringi, sekarang adalah seputar kehidupan sang anak.

Penggunaan sudut pandang orang ketiga sangatlah cocok dalam cerpen ini. Tidak terkesan mendadak waktu penulis beralih menuturkan kepastian nasib Dulkarip. Memang ada banyak cerita yang juga memiliki peralihan dari satu tokoh ke tokoh lain namun tidak semuanya berhasil. Saya pernah menemukan peralihan semacam ini dalam cerpen lain yang dimuat di KR dan rupanya tidak sepenuhnya berakhir sukses. Kalau saya tidak lupa, penulis anonym itu menggunakan dua sudut pandang. Di bagian pertama ia menuturkan cerita seperti tanpa hambatan dengan memakai sudut pandang orang ketiga, namun saat masuk bagian kedua ia gagal dengan sudut pandang orang pertama, karena peralihan itu dilakukan secara kaku dan terkesan seperti dipaksakan. Dalam urusan ini Raga memberi contoh baik tentang bagaimana membuat peralihan dalam sebuah cerita pendek yang hanya memiliki panjang 5000 karakter, sesuai ketentuan KR.

Pembaca yang budiman. Maafkan saya apabila sejauh ini cerpen karya Sungging Raga terlalu mendapatkan pujian dalam feedback pertama saya ini. Namun, sebelum Anda mengatakan saya kurang kritis dan cermat, ada beberapa kesalahan dalam cerpen Raga yang mungkin hanya sepele tapi bisa fatal jika dibiarkan.

Sebuah rumah, sampean tahu, akan terlihat mengenaskan bila tidak memiliki jendela. Mungkin yang pertama disalahkan adalah para kuli, karena merekalah yang paling berkonstribusi dalam menentukan sebuah bangunan bisa beridiri atau tidak. Tetapi mungkin saja biang dari kesalahan tersebut adalah arsitek. Para kuli hanya bekerja sesuai rancangan yang dibuat oleh arsitek dan jika rancangan itu buruk, rumah tidak layak untuk ditinggali. Dalam kasus cerpen “Bulan Berlalu” kurang lebih seperti itulah masalahnya. Terdapat beberapa keteledoran yang membuat cerpen ini tidak utuh. Misalnya di adegan ini:

“Nyi Saminah beranjak, melihat anak semata wayangnya, Dulkarip, sedang mengasah batang-batang bambu untuk dijadikan kandang ayam di halaman belakang.”

Di situ tak ada keterangan Nyi Saminah beranjak dari mana, apakah dari tempat tidur? Ataukah dari pelataran sumur? Memang Nyi Saminah melihat Dulkarip sedang mengasah batang-batang bambu, tetapi dari manakah tepatnya ia melihat? Kesalahan ini sebetulnya sudah terlihat sejak di adegan ketika Nyi Saminah memandangi kalender. Saya juga tak pernah tahu persis di manakah letak kalender tersebut, sementara menurut pengakuan penutur kalender itu telah dipasang Nyi Saminah sendiri sore tadi. Saya tak berniat menyebarkan isu-isu mistis jika ternyata kalender itu tengah melayang-layang sendiri di udara. Wallahualam.

Lalu ini: ”’Saya memang cari mantu peternak ayam bangkok.’ Katanya calon mertua Dulkarip saat itu. Ia hanya tersenyum. Jalan itu kini terbuka, benar-benar terbuka.” Bukankah lazimnya terdapat tanda koma (,) dalam pembukaan dialog antar tokoh?

Kemudian, sebelum Durkalip duduk di pelaminan, ia menyempatkan berkunjung ke pemakaman tak jauh dari tempat pesta pernikahan digelar. Bahkan ia seperti ingin menangis ketika mengusap salah satu nisan. Entah nisan siapa, tak ada keterangan pasti, yang jelas ia seperti terharu, apalagi setelah mengetahui sudah begitu banyak bulan berlalu. Mungkin maksud penulis adalah nisan Nyi Saminah, Ibu Durkalip, akan tetapi bagi pembaca polos seperti saya bisa saja nisan yang dimaksud adalah nisan Jenderal Sudirman.

Demikianlah. Bangunan cerita yang sudah tampak kokoh oleh kejeniusan penulis dalam mengolah kata dan membangun suasana, rupanya masih menyisakan lubang-lubang di sana-sini. Walau sepele, kesalahan semacam itu cukup mempengaruhi pembacaan. Namun, saya jadi bingung, siapakah yang bertanggung jawab untuk kesalahan semacam itu? Penuliskah? Redakturkah? Sebab, jika penulis melakukan kesalahan walau hanya dalam tanda baca, kenapa tak diperbaiki oleh redaktur sebelum lolos seleksi? Entah kenapa kinerja redaktur akhir-akhir ini dipertanyakan. Saya tidak tahu kriteria apa yang ditetapkan redaktur dalam menyeleksi karya sastra. Seharusnya reputasi penulis tidak boleh dijadikan pertimbangan dalam menentukan sebuah karya layak muat atau tidak, karena kasihan dengan penulis pemula yang belum pernah dimuat, padahal karya-karyanya bagus-bagus. Sebaliknya, sebagai penulis, jangan mudah dibunuh rasa malas jika karyanya tidak memenuhi standar pemuatan. Teruslah diperbaiki agar mencapai hasil paling sempurna.

Dan sebagai pembaca karya-karya Sungging Raga, saya tidak rela penulis favorit saya melakukan kesalahan sesukupun. Betapapun pembaca adalah Tuhan. Tak kurang dan tak lebih. Huahaha....

Salam,

Ahmad Yasin.