Memang tak berlebihan jika bacaan berperan dalam mendorong kemajuan sebuah bangsa sebab dari itulah kualitas Sumber Daya Manusia dapat meningkat. Dengan meluangkan waktu barang sebentar untuk membaca buku, ibaratnya kita tak perlu repot-repot menyelam untuk sampai ke inti bumi. Maksudku, segala informasi dan pengetahuan telah menemukan tempatnya di setiap kata dan kalimat dalam buku, sehingga tak diharapkan lagi ada orang mengajukan pertanyaan tentang apa itu sendok?, misalnya, karena di dalam buku telah dipaparkan pengertiannya oleh sang penulis. Aku tak hendak mengatakan bahwa yang dikatakan dalam buku adalah kebenaran, meski kenyataannya banyak orang berpengetahuan tanpa pernah membaca. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa buku merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan, dan papan.
Tulisan H.B. Jassin berjudul "Ditjari: Penjalin dan Penerbit" dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay halaman 109 setidaknya menunjukkan semangat beberapa perintis bangsa ini hendak meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang belum lama lepas dari kekangan penjajah dengan niat mulia: menerjemahkan bacaan-bacaan dari segala bangsa di muka bumi.
Masih dalam ketegangan perang, konon ide tersebut dicetuskan oleh Sudjatmoko di rumah Sutan Takdir Alisjahbana tahun '46. Tentu ide ini disambut baik oleh Jassin yang segera memasang lowongan bagi penjalin (istilah lain dari penerjemah) secara terang-terangan untuk judul tulisannya itu. Aku menyebut lowongan sebab gaya tulisan beliau memang sedikit "menggebu" dan penuh harapan, namun aku lebih suka menduga bahwa beliau menganggap ilmu pengetahuan sebagai jendela untuk melihat belahan dunia lain. Beliau merekomendasikan karya2 klassika Romawi, Perancis Inggris, Jerman, Rusia; wilayah timur: 1001 Malam, Mahabharata, Kung Fu Tse, Rabindranath Tagore, untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ini menunjukkan: buku juga merupakan sarana manusia supaya dapat bervakansi ria sekaligus menambah wawasan. Asik!
Dalam usianya yang masih belia, waktu itu Indonesia tengah 'belajar menjadi orang'. Mempersiapkan sebuah tatanan bagi masa depan sembari tak lupa menengok peradaban leluhurnya di masa silam. Para intelek muda pun beraksi dengan saling-silang-pendapat perihal arah bangsa ini nantinya, dan semua itu akhirnya berpangkal pada refrensi. Oleh karena kebanyakan muda-mudi itu "menghamba" ilmu pada bangsa luar, terutama Barat melalui Belanda, sudah sewajarnyalah mereka lebih akrab dengan denyut kehidupan bangsa luar. Asumsi ini aku tangkap dalam tulisan beliau. Meski tidak secara eksplisit, aku merasa beliau juga menganggap pengaruh luar berpengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang. Dikhawatirkan muda-mudi itu akan kehilangan sekaligus ikut melenyapkan identitas ke-indonesia-an apabila menerapkan adab bangsa luar. Hi! Lantas bagaimana ini? Apa solusinya agar kita bisa tetap menjaga tanah sendiri walau di atas berdiri bangunan tetangga?
Jassin menulis enteng:
"Djiwa kita sebagai bangsa Indonesia ditentukan sedari ketjil oleh didikan kita dan lingkungan kita dan sekiranja adapun pengaruh2 luar, dengan insaf atau tidak tentu ditjerenakan menurut djiwa orang Indonesia."
Aku jadi teringat ungkapan Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat yang kudengar dari Cak Nun. Indonesia adalah negeri yang terbuka dalam segala hal. Serbuan berkoli-koli "baju" asing diterima baik oleh masyarakat kita untuk disesuaikan dengan jiwa orang Indonesia, tapi tetap tidak membuang baju sendiri. Jassin juga memiliki pandangan terhadap orang-orang yang berbeda sikap hidupnya dengan umum. Ia memberi "julukan" orang Indonesia modern. Ini sebetulnya agak ganjil, apa ukurannya untuk dapat disebut modern? Barangkali pemikirannya melampaui zaman. Ah, aku terlalu sering menaruh dugaan.
Masih berkaitan dengan persoalan di atas, dibutuhkan banyak tenaga ahli untuk menyukseskan proyek "memadjukan kebudajaan kita" ini. Penjalin atau penerjemah adalah paling utama. Perannya bisa dibilang krusial apabila mengingat konsekuensi atas pekerjaan berat ini. Orang sepertiku tentu tak sanggup mengemban kepercayaan menerjemah. Sejak kecil aku bergumul dengan bahasa ibu: jawa. Lalu dilanjutkan lingua franca (bahasa Indonesia) di sekolah secara medok. Untuk Inggris atau Arab, dua bahasa yang diajarkan kepadaku selama mengenyam pendidikan, belum pernah berhasil aku kuasai. Hiks! Sakno.
Apalagi pak Jassin membuat ketentuan khusus bagi penerjemah, yakni "penjalin2 jang mempunjai dorongan spontan dari dalam dan dengan tjinta melakukan pekerdjaannya". Beliau membuat pemisalan: Shakespeare tidak bisa disalin atas perintah. Harus ada kemauan dan hubungan yang cukup intim dengan pekerjaan yang sedang digelutinya (karya-karyanya), agar tak kehilangan "sari aslinja".
Maka, dengan sedikit puitis, Jassin bersabda tentang penerjemah:
"Penjalin ialah pelopor, jakni dengan bahasa membuka djalan kedunia rohani segala bangsa.... Penjalin djuga mentjari 'ilham', ia harus 'dalam suasana' untuk menjalin, baru bisa melakukan pekerdjaannja dengan baik. Djika berada dalam suasana, kata2 seolah berpendar dalam pikiran, dalam hati, tinggal memilih dan memetiknya sadja."
Aku setuju. Bagiku, karya terjemahan ibarat nasi goreng. Dari yang semula berupa nasi putih hasil tanakan biasa, digarap berubah menjadi nasi yang kaya rasa akan bumbu tanpa menghilangkan kadar karbohidrat di dalamnya. Ini bukan berarti karya terjemahan lebih baik dari aslinya; tepatnya, si penerjemah memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas karya terjemahan agar pembaca setempat dapat mengunyahnya dengan lancar. Di sini dituntut kesabaran, ketelatenan, kedisilipinan, agar kata-kata senantiasa "berpendar dalam pikiran, dalam hati", demi memenuhi harapan. Totalitas yang diberikannya dalam menerjemahkan juga turut membangun peradaban manusia. Dan akhirnya sejarah mencatat: para penerjemah berperan penting dalam mensyiarkan ilmu ke belahan bumi mana pun. Warbyasa!
Kurangnya profesi penerjemah, tampaknya menjadi kendala Jassin dkk, selain penerbit dan percetakan pada masa itu. Akan tetapi gairah para perintis bangsa ini hendak membagikan ilmunya sungguh membuatku terharu. Kemajuan negara-negara adidaya macam Amerika, Rusia, dan Inggris cukup menginspirasi mereka dalam memuwujudkan impian untuk bangsanya. Aku yang hidup di abad XXI merasa belum mampu berbuat banyak untuk bangsaku. Sekarang iklim negeriku sendiri rupanya tak mendukung kegiatan mensyiarkan ilmu kembali menggeliat. Dan polemik yang terjadi belakangan hanyalah pertarungan siasat demi kekuasaan, bukan ideologi atau paham apa pun.
Zaman telah berganti, waktu tak mungkin dibendung. Kini orang berprofesi penerjemah makin mudah ditemukan seiring kemajuan di segala bidang. Kebanyakan memang masih tergolong pemuda-pemudi dan bertolak dari profesi penulis. Mereka memanfaatkan internet sebagai media penampung karya terjemahan mereka yang tentunya top-markotop. Namun tulisan H.B. Jassin tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan penerjemah ini hendaklah dijadikan renungan dan pembelajaran. Walau berjarak hampir tujuhpuluh tahun sejak kali pertama tulisan Jassin terbit, justru membuatku dapat berinstropeksi diri dan sejenak memikirkan penyucian terhadap diriku yang bergelimang kesalahan. Hm.. Sejarah memang selalu menarik.
Kotagede, Rabu Legi 27 Mei 2015.


