Sabtu, 04 Juli 2015

Sapardi Berterus Terang

Ketika pada suatu hari Minggu aku menemukan resensi Bandung Mawardi atas buku Bilang Begini Maksudnya Begitu-nya (selanjutnya disingkat BBMB) Sapardi Djoko Damono di Kedaulatan Rakyat, semula aku tak terlalu menaruh perhatian karena aku sudah bosan dengan karya sastrawan sepuh itu. Bukan maksud aku menganggap kualitas karyanya menurun, cuma aku merasa bosan saja. Namun, setelah Bandung merekomendasikannya lewat penuturannya yang khas, rasa penasaranku pun tergugah terhadap buku tersebut.

Aku mulai melakukan pencarian di Gramedia dan aku langsung menyongsong rak sastra begitu tiba di lantai 3 toko buku terkemuka itu. Tapi aku dibuat kecewa setelah mataku lelah tak mendapati bukunya di rak manapun. Bahkan ketika kulacak melalui komputer, hasilnya nihil. Aku pun membeli buku lainnya, tak kuingat buku apa, yang pasti masih berkaitan dengan sastra. Sekian waktu buku Sapardi kulupakan, disamping masalah keuangan yang lagi macet.

Aku tak berhasrat lagi, sampai akhirnya aku berjumpa di lain kesempatan, tepatnya tanggal 13 Juni kemarin saat aku sedang memiliki niat mengkoleksi kembali komik NARUTO. Waktu itu, aku hanya ingin membeli NARUTO saja, tapi aku tetap merasa perlu menyempatkan menengok rak sastra, sekedar melihat apakah buku yang terpajang masih itu-itu saja. Ternyata dugaanku salah. Banyak buku baru terbit. Aku tergiur. Saat itulah, ketika 3 buah komik sudah dalam genggaman, makjegagik, bukunya Sapardi menongol dengan cover bergambar wanita genit yang tengah menyerukan judul bukunya "Bilang Begini, Maksudnya Begitu", di bawahnya tertulis Sapardi Djoko Damono. Keteguhanku goyah. Aku menimbang-nimbang beberapa saat, mengingat uangku pas-passan. Setelah dipikir matang, aku mengembalikan satu buah komik ke habitatnya lantas mengambil buku BBMB Sapardi. Dengan begini, uangku tidak cepat terkuras meskipun harga komik jauh lebih murah dibanding buku "berbobot". Dengan gembira, kubayar tunai belanjaanku kali ini dan langsung meluncur ke rumah, tak sabar untuk segera membacanya.


Singkat cerita, buku BBMB kulahap habis. Tipis memang, tapi untungnya tak memaksaku memeras otak. Ini buku yang ringan. Membimbingku memahami puisi secara bertahap, dengan tiap bab selalu menelanjangi puisi yang dijadikan sebagai contoh. Menggunakan bahasa sederhana, yang mudah dipahami oleh awam sekalipun, Sapardi seolah menyuruh pembaca turut aktif bagaimana mengapresiasi suatu karya sastra. Dan memang itulah misinya: menjalin hubungan langsung antara pembaca dan penyair melalui pembacaan puisi, karena beliau percaya tanpa kegiatan itu sudah pasti tak ada apresiasi. Pemaparan Sapardi perihal apresiasi dalam pengantar: "Apresiasi berarti penghargaan atau kesadaran akan adanya nilai pada sesuatu. Dengan demikian apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap sastra atau kesadaran akan adanya sesuatu yang berharga pada sastra."

Klise memang, tapi aku terlanjur tersihir oleh Sapardi. Berbeda dengan buku sejenis, buku ini tak banyak memuat teori, sehingga tak terkesan meminta pembaca "menghafalkannya". Aku merasa Sapardi sedang berterus terang, menyingkap tabir yang selama ini membuat puisi seolah masih menjadi misteri mungkin bagi kebanyakkan orang--yang menaruh minat maupun tidak. Dengan asyik, ia menjelaskan perbedaan puisi dengan berita secara visual; bunyi dalam puisi; makna tersirat puisi di balik bahasa penyair; inspirasi penyair menciptakan karya; hingga pengaruh dongeng atau mitologi bagi penyair. Semua dikuliti dengan apik, demi menjawab tanya dan membantu mencari hakikat puisi, atas nama apresiasi sastra.

Selain itu, buku ini patut menjadi bahan pengajaran, khususnya di jenjang pendidikan SD sampai SMA, karena seakan menjadi oase di tengah keringnya ide guru Bahasa Indonesia dalam mengajar yang terus berkutat pada teori dan mematuhi buku materi. Tentu saja dengan metode pengajaran yang bisa membuat suasana ruang belajar menjadi hangat. Sebab, pelajaran bahasa Indonesia sudah kondang di kalangan murid sebagai pelajaran yang membosankan.

Sayangnya, ketebalan buku mbah Sapardi terlalu tipis untuk ukuran buku apresiasi sastra. Aku sarankan pada penerbit untuk menerbitkan edisi revisi dengan ditambah contoh puisi dan penjelasan yang lebih komprehensif. Sok!

Aku tak menjamin bahwa buku ini menjadi solusi. Aku hanya menawarkan dengan setulus hati bahwa buku ini bukan sekedar buku. Jagat sastra Indonesia kukira telah lama dihiasi buku serupa dan mungkin mempunyai kesamaan dengan buku ini dari segi isi. Artinya tak ada hal baru yang mampu mendecakkan mulut. Namun, aku ingin tetap menganggap buku ini menjadi bagian dari sastra Indonesia kontemporer.

Berkat buku ini, aku jadi lebih tahu tentang puisi. Aku jadi lebih paham tentang apresiasi. Kedua hal itu bagai membangun jembatan yang menghubungkan penyair dengan pembaca. Kira-kira begitulah.

Kotagede, 1 Juli 2015.

Selasa, 16 Juni 2015

Caldas Tak Membiarkan Pembaca Bosan

Gabriel Garcia Marquez, dikenal sebagai "raksasa" kesusastraan abad 20 sejak peluncuran novelnya yang berjudul 100 Tahun Kesunyian. Setelah mengalami nasib yang tak mujur sebelum terkenal, tahun 1982 ia mendapatkan penghargaan nobel dalam bidang sastra, dan kemudian ia dijadikan ikon dari aliran realisme magis oleh kritikus dan masyarakat sastra dunia. Aku mengetahui tentang beliaunya dari beberapa sumber baik internet maupun buku, itu pun hanya sedikit, karena aku saat ini rada kurang tertarik dengan sastra luar.

Tapi sebenarnya ini hanyalah masalah penyesuaian saja. Selama ini karya sastra luar yang pernah kubaca mungkin tak lebih dari sepuluh biji. Sementara untuk karya sastra dalam negeri, aku lupa sudah berapa kali aku baca. Salah satu hal yang bisa dijadikan alasan barangkali adalah aku merasa karya sastra luar tidak ada hubungannya dengan keadaan negeri ini. Mereka membicarakan kehidupan mereka sendiri dan aku tidak mengerti. Selain itu, kejenuhan adalah musuh utama saat membaca karya terjemahan. Dan kualitas terjemahan terkadang menentukan penilain: apakah novel pengarang asal negara ini sebagus yang dibicarakan banyak orang? Karena saat ini aku baru menguasai dua bahasa, terpaksa aku membaca terjemahannya.

Mungkin seiring berjalannya waktu aku bisa "klik" dengan karya sastra luar dan menambah bacaan lagi. Sebelum menunggu terwujudnya harapan tersebut, aku tengah "merintis"-nya pelan-pelan dengan menyelesaikan novel Caldas karya Gabriel Garcia Marquez. Itulah mengapa aku mengawali tulisan kali ini dengan informasi singkat mengenai Marquez.



Semula aku berpikir barangkali novel ini akan berhasil membuatku terkantuk--sebagaimana anggapanku selama ini terhadap karya luar--ternyata dugaanku meleset. Caldas adalah novel dengan terjemahan lumayan yang pernah aku baca. Beruntung LKiS, penerbit buku ini, mendapatkan penerjemah bernama Rizadini yang melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Gaya bercerita Marquez dalam buku ini telah berhasil kukenali berkat kinerja beliau. Tidak seperti kumpulan cerpen Marquez yang pernah diterbitkan Bentang Budaya, terjemahan Caldas sungguh kelewat lebih baik.

Aku memang berlebihan, karena sudah sepantasnyalah aku mengatakannya untuk novel ciamik ini. Tapi yang menurutku begitu memuaskan dari Caldas adalah dari segi teknisnya. Ada sejumlah plot twist di setiap akhir sub-bab dan paragraf yang disusupkan Marquez dengan cerdik, membuat rasa penasaranku makin mendidih untuk melanjutkan membacanya. Belum lagi deskripsi beliau tentang kapal, laut, cuaca, ikan, dan sekian hal lain yang menjadi setting Caldas merupakan produk tulisan yang tidak terkesan lugu. Pak Marquez seakan menyeret pembaca mengalami langsung kisah yang diceritakannya. Sebagaimana kata orang, penuturan Marquez renyah layaknya camilan. Meskipun tokoh "aku" hampir mendominasi dalam keseluruhan novel ini, sebetulnya ia bukanlah sekedar pribadi dengan ocehan tentang nasibnya yang terombang-ambing di tengah laut. Lebih dari itu, ia adalah penghibur ulung dengan segala tindakannya. Marquez seolah melakukan pembiaran terhadap tokohnya untuk menyelesaikan masalah sendiri atas kejadian buruk yang baru menimpanya. Beliau memuntahkan emosi serta gejolak batin tokoh dalam keterasingannya di lautan dengan kalimat memikat dan agak liris. Ratapan sang tokoh tak membuat hati teriris, malah mengundang sedikit senyum karena ada beberapa jumput humor yang digambarkan Marquez lewat pola pikirnya.

"Setiap pelaut tahu bahwa camar kadang tersesat di tengah laut dan terbang selama beberapa hari tanpa tujuan, sampai mereka menemukan kapal yang menunjukkan arah ke pelabuhan. Mungkin camar-camar yang selalu kulihat selama tiga hari belakangan ini tersesat. Ini artinya perahuku hanyut makin jauh dari daratan."
(hlm. 64).

Mungkin novel ini berangkat dengan membawa misi kebenaran atas kejanggalan-kejanggalan. Novel ini, kata Marquez, hanya reka ulang jurnalistik berdasarkan kisah nyata yang dialami pelaut Luis Alejandro Velasco, salah satu awak selamat dari kapal perusak Caldas milik Angkatan Laut Kolombia yang karam oleh badai di Laut Karibia pada 18 Februari 1955.

Semula pelaut itu dianggap "pahlawan" dan mendapat gelar kehormatan karena sanggup berjuang dan bertahan hidup selama 10 hari di lautan lepas tanpa makan atau minum. Bahkan ia berhasil menimbun kekayaan dari  ketenarannya dan menjadi model iklan karena pakaian dan jam tangan yang ia kenakan saat di laut tidak rusak. Namun, sejumlah fakta akhirnya terungkap ketika ia tiba-tiba melepas gelar kehormatan dan identitas "pahlawannya". Lewat surat kabar El Espectador, pelaut itu diwawancarai Marquez dengan mendetail hingga tersingkaplah tabir rahasia yang selama ini menutupi: tentang pelanggaran yang dilakukan Caldas sendiri karena mengangkut barang dagangan, padahal ini kapal Angkatan Laut; muatan yang melebihi kapasitas; dan rupanya muatan tersebut adalah barang selundupan seperti kulkas, mesin cuci, dan televisi. Pemerintah Kolombia yang saat itu di bawah diktator Gustavo Rojas Pinilla terus menyangkal kebenaran itu.

 Tapi Luis Alejandro Velasco, si pelaut malang itu, tidak gentar meski mendapatkan ancaman dan uang "tutup mulut". Ia sadar ia sedang memancing resiko: dipecat dari Angkatan Laut, satu-satunya pekerjaan yang ia miliki. Gelar kehormatan barangkali hanya kebahagiaan semu dan propaganda pemerintah jika kebenaran terus ditekan. Karena itu, surat kabar El Espectador tetap terbit dengan memuat kisahnya "yang tak biasa" secara bersambung, hingga akhirnya kena bredel pemerintah.

Aku salut dengan pelaut itu dan surat kabar tempat magang Marquez. Aku kagum dengan kebenaran yang bisa muncul di permukaan. Bagaimana pun berjuang untuk kebenaran tidak pernah salah. Novel ini mampu menyihir pembaca sepertiku. Aku tidak tahu lagi kapan akan mendapat karya sastra luar sebagus ini. Rasanya aku tidak bisa memprediksi. Roh Marquez telah menyerap ke dalam diriku walau baru membaca satu novelnya. Aku sampai sudah kehabisan kata-kata dan tak mampu lagi membuat kesimpulan untuk mengapresiasi Caldas. Itu karena kukira dengan membaca Caldas sudah merupakan wujud apresiasiku kepada Gabriel Garcia Marquez yang masih menjadi sosok misterius bagiku.

Kuperingatkan saja padamu, dengan memelintir kalimat di sampul belakang buku, bahwa Caldas tidak membiarkan pembaca bosan.


Selasa, 26 Mei 2015

Syiar Ilmu dan "Penjalin"

Bangsa yang besar adalah bangsa yang haus akan bacaan. Aku pernah baca frasa yang berbunyi seperti itu, tapi lupa di mana. Sekarang aku tempelkan di tulisan kali ini karena aku mengamini frasa tersebut.

Memang tak berlebihan jika bacaan berperan dalam mendorong kemajuan sebuah bangsa sebab dari itulah kualitas Sumber Daya Manusia dapat meningkat. Dengan meluangkan waktu barang sebentar untuk membaca buku, ibaratnya kita tak perlu repot-repot menyelam untuk sampai ke inti bumi. Maksudku, segala informasi dan pengetahuan telah menemukan tempatnya di setiap kata dan kalimat dalam buku, sehingga tak diharapkan lagi ada orang mengajukan pertanyaan tentang apa itu sendok?, misalnya, karena di dalam buku telah dipaparkan pengertiannya oleh sang penulis. Aku tak hendak mengatakan bahwa yang dikatakan dalam buku adalah kebenaran, meski kenyataannya banyak orang berpengetahuan tanpa pernah membaca. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa buku merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan, dan papan.


Tulisan H.B. Jassin berjudul "Ditjari: Penjalin dan Penerbit" dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay halaman 109 setidaknya menunjukkan semangat beberapa perintis bangsa ini hendak meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang belum lama lepas dari kekangan penjajah dengan niat mulia: menerjemahkan bacaan-bacaan dari segala bangsa di muka bumi.

Masih dalam ketegangan perang, konon ide tersebut dicetuskan oleh Sudjatmoko di rumah Sutan Takdir Alisjahbana tahun '46. Tentu ide ini disambut baik oleh Jassin yang segera memasang lowongan bagi penjalin (istilah lain dari penerjemah) secara terang-terangan untuk judul tulisannya itu. Aku menyebut lowongan sebab gaya tulisan beliau memang sedikit "menggebu" dan penuh harapan, namun aku lebih suka menduga bahwa beliau menganggap ilmu pengetahuan sebagai jendela untuk melihat belahan dunia lain. Beliau merekomendasikan karya2 klassika Romawi, Perancis Inggris, Jerman, Rusia; wilayah timur: 1001 Malam, Mahabharata, Kung Fu Tse, Rabindranath Tagore, untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ini menunjukkan: buku juga merupakan sarana manusia supaya dapat bervakansi ria sekaligus menambah wawasan. Asik!

Dalam usianya yang masih belia, waktu itu Indonesia tengah 'belajar menjadi orang'. Mempersiapkan sebuah tatanan bagi masa depan sembari tak lupa menengok peradaban leluhurnya di masa silam. Para intelek muda pun beraksi dengan saling-silang-pendapat perihal arah bangsa ini nantinya, dan semua itu akhirnya berpangkal pada refrensi. Oleh karena kebanyakan muda-mudi itu "menghamba" ilmu pada bangsa luar, terutama Barat melalui Belanda, sudah sewajarnyalah mereka lebih akrab dengan denyut kehidupan bangsa luar. Asumsi ini aku tangkap dalam tulisan beliau. Meski tidak secara eksplisit, aku merasa beliau juga menganggap pengaruh luar berpengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang. Dikhawatirkan muda-mudi itu akan kehilangan sekaligus ikut melenyapkan identitas ke-indonesia-an apabila menerapkan adab bangsa luar. Hi! Lantas bagaimana ini? Apa solusinya agar kita bisa tetap menjaga tanah sendiri walau di atas berdiri bangunan tetangga?

Jassin menulis enteng:

"Djiwa kita sebagai bangsa Indonesia ditentukan sedari ketjil oleh didikan kita dan lingkungan kita dan sekiranja adapun pengaruh2 luar, dengan insaf atau tidak tentu ditjerenakan menurut djiwa orang Indonesia."

Aku jadi teringat ungkapan Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat yang kudengar dari Cak Nun. Indonesia adalah negeri yang terbuka dalam segala hal. Serbuan berkoli-koli "baju" asing diterima baik oleh masyarakat kita untuk disesuaikan dengan jiwa orang Indonesia, tapi tetap tidak membuang baju sendiri. Jassin juga memiliki pandangan terhadap orang-orang yang berbeda sikap hidupnya dengan umum. Ia memberi "julukan" orang Indonesia modern. Ini sebetulnya agak ganjil, apa ukurannya untuk dapat disebut modern? Barangkali pemikirannya melampaui zaman. Ah, aku terlalu sering menaruh dugaan.

Masih berkaitan dengan persoalan di atas, dibutuhkan banyak tenaga ahli untuk menyukseskan proyek "memadjukan kebudajaan kita" ini. Penjalin atau penerjemah adalah paling utama. Perannya bisa dibilang krusial apabila mengingat konsekuensi atas pekerjaan berat ini. Orang sepertiku tentu tak sanggup mengemban kepercayaan menerjemah. Sejak kecil aku bergumul dengan bahasa ibu: jawa. Lalu dilanjutkan lingua franca (bahasa Indonesia) di sekolah secara medok. Untuk Inggris atau Arab, dua bahasa yang diajarkan kepadaku selama mengenyam pendidikan, belum pernah berhasil aku kuasai. Hiks! Sakno.

Apalagi pak Jassin membuat ketentuan khusus bagi penerjemah, yakni "penjalin2 jang mempunjai dorongan spontan dari dalam dan dengan tjinta melakukan pekerdjaannya". Beliau membuat pemisalan: Shakespeare tidak bisa disalin atas perintah. Harus ada kemauan dan hubungan yang cukup intim dengan pekerjaan yang sedang digelutinya (karya-karyanya), agar tak kehilangan "sari aslinja".

Maka, dengan sedikit puitis, Jassin bersabda tentang penerjemah:

"Penjalin ialah pelopor, jakni dengan bahasa membuka djalan kedunia rohani segala bangsa.... Penjalin djuga mentjari 'ilham', ia harus 'dalam suasana' untuk menjalin, baru bisa melakukan pekerdjaannja dengan baik. Djika berada dalam suasana, kata2 seolah berpendar dalam pikiran, dalam hati, tinggal memilih dan memetiknya sadja."

Aku setuju. Bagiku, karya terjemahan ibarat nasi goreng. Dari yang semula berupa nasi putih hasil tanakan biasa, digarap berubah menjadi nasi yang kaya rasa akan bumbu tanpa menghilangkan kadar karbohidrat di dalamnya. Ini bukan berarti karya terjemahan lebih baik dari aslinya; tepatnya, si penerjemah memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas karya terjemahan agar pembaca setempat dapat mengunyahnya dengan lancar. Di sini dituntut kesabaran, ketelatenan, kedisilipinan, agar kata-kata senantiasa "berpendar dalam pikiran, dalam hati", demi memenuhi harapan. Totalitas yang diberikannya dalam menerjemahkan juga turut membangun peradaban manusia. Dan akhirnya sejarah mencatat: para penerjemah berperan penting dalam mensyiarkan ilmu ke belahan bumi mana pun. Warbyasa!

Kurangnya profesi penerjemah, tampaknya menjadi kendala Jassin dkk, selain penerbit dan percetakan pada masa itu. Akan tetapi gairah para perintis bangsa ini hendak membagikan ilmunya sungguh membuatku terharu. Kemajuan negara-negara adidaya macam Amerika, Rusia, dan Inggris cukup menginspirasi mereka dalam memuwujudkan impian untuk bangsanya. Aku yang hidup di abad XXI merasa belum mampu berbuat banyak untuk bangsaku. Sekarang iklim negeriku sendiri rupanya tak mendukung kegiatan mensyiarkan ilmu kembali menggeliat. Dan polemik yang terjadi belakangan hanyalah pertarungan siasat demi kekuasaan, bukan ideologi atau paham apa pun.

Zaman telah berganti, waktu tak mungkin dibendung. Kini orang berprofesi penerjemah makin mudah ditemukan seiring kemajuan di segala bidang. Kebanyakan memang masih tergolong pemuda-pemudi dan bertolak dari profesi penulis. Mereka memanfaatkan internet sebagai media penampung karya terjemahan mereka yang tentunya top-markotop. Namun tulisan H.B. Jassin tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan penerjemah ini hendaklah dijadikan renungan dan pembelajaran. Walau berjarak hampir tujuhpuluh tahun sejak kali pertama tulisan Jassin terbit, justru membuatku dapat berinstropeksi diri dan sejenak memikirkan penyucian terhadap diriku yang bergelimang kesalahan. Hm.. Sejarah memang selalu menarik.

Kotagede, Rabu Legi 27 Mei 2015.

Rabu, 13 Mei 2015

Sekilas Tentang Khotbah di Atas Bukit


Judul : Khotbah di Atas Bukit
Penulis : Kuntowijoyo
Penerbit : Bentang Budaya, 1997
Tebal : 262 halaman
ISBN : 979-8793-33-1

Atas saran putranya, Bobi, masa pensiun Barman jauh dari kesan sepi maupun sunyi—sebagaimana yang umumnya terlihat—tatkala seorang pelacur bernama Popi menemani purna-baktinya di sebuah Villa di daerah perbukitan. Mereka seolah menjadi pasangan baru yang sedang berbulan madu karena keduanya saling mengisi satu sama lain walaupun Barman terkadang dikuasai nafsu berahi untuk menggarap tubuh Popi. Semula Barman menikmati masa pensiunnya; ia sudah tidak punya tanggungan lagi yang membuatnya harus banting tulang. Apalagi seluruh beaya hidupnya dijamin oleh Bobi melalui Popi yang merawatnya saban hari: dijerangkan air panas kalau mau mandi; diberi pijatan; dan dimasakkan makanan. Dalam pikirannya hanyalah kenikmatan duniawai, tak kurang dan tak lebih.

Sebelum akhirnya bertemu seorang pria tua bernama Humam yang mengaku sebagai manusia merdeka, yang tidak memilki apa-apa. Pengakuan Humam ini mengejutkan Barman, dan memancing pertanyaan bagaimana mungkin seseorang sanggup hidup tanpa memiliki materi, harkat, dan martabat? Ia dibuat heran dan beranggapan barangkali Humam hanyalah orang gila. Namun, bayangan wajah Humam beserta kata-katanya rupanya menimbulkan kecamuk dalam pikirannya hingga memancing pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan keadaannya sekarang. Dalam bahasa Kuntowijoyo, Barman mengalami “kegelisahan”.

Kegelisahan Barman makin menjadi setelah melihat situasi pasar tradisional waktu menemani Popi berbelanja. Terdapat beberapa orang yang tengah menurunkan barang dagangan dari truk, anak-anak kecil berlarian, dan banyak orang lagi yang sedang melakukan kegiatan transaksi. Rupanya keadaan ini menyadarkan Barman, betapa di balik hidupnya yang serba terjamin terselubung kekosongan dalam hatinya. Saat itulah kata-kata Humam kembali menyeruak dalam tempurung kepalanya.
Ia merasa ada kepingan-kepingan yang hilang dari dirinya dan menganggap selama ini yang dikerjakannya hanyalah sia-sia belaka. Kehidupan sosial yang berjalan dinamis di sekitarnya menyentak dirinya dengan penyesalan yang teramat dalam. Bahwa manusia tidak mungkin merengkuh dunia hanya dengan uang saja. Mereka perlu terjun ke masyarakat dan mencecap langsung pahit-manisnya sebagai makhluk sosial. Hakikat hidup bukan sekedar untuk menuruti ambisi mencapai tujuan tertentu, melainkan juga menjalani laku dengan cara yang benar.

Lewat tokoh utama Barman, Kuntowijoyo barangkali ingin menekankan filosfi jawa sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji,nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Sebab, berulangkali Barman mengalami kemurungan terutama setelah pertemuan dengan Humam, yang mana ia seolah menerima tamparan lewat kejadian-kejadian tak terduga, yang merupakan “personifikasi” dari makna filosofi tersebut. Seperti saat ia tengah berjalan-jalan bersama Humam, di mana telinganya terpaksa mendengar perkataan Humam.

“’Lupakanlah semuanya, bahkan dirimu. Yang ada ialah pohon-pohon, rumput-rumput. Engkau makhluk yang paling berbahagia. Waktu ialah untuk dinikmati. Ruang ialah tempat kita bergerak. Gerak ialah hidup kita.’
‘Maksudmu?’
‘Tidak ada maksud apa-apa.’
‘Aku tak mengerti.’
‘Hidup sekedarnya, berbahagia sebesarnya.’”
(hlm. 72)

Kaya secukupnya dan memiliki banyak relasi yang bersedia membantu berdiri di saat terjatuh; mendapatkan kehormatan karena bertabiat baik, betutur kata sopan, bijaksana, dan bukan karena aji-aji; menyerang tanpa pasukan; meraih kemenangan tanpa merendahkan orang lain. Demikianlah penjelasan Humam kepada Barman. Dari sini saya melihat Kuntowijiyo sengaja menaruh Barman pada suatu keadaan yang dilematis. Ia ingin mengamalkan “ajaran-ajaran” Humam, tapi di sisi lain ia masih tidak ikhlas melepaskan kekayaannya. Hingga akhirnya secara perlahan namun pasti Barman memahami apa yang disebut manusia merdeka, “tidak terbelenggu” oleh (kebahagiaan materi) apa pun.

Bersama orang-orang di pasar yang menjadi pengikutnya, ia menuju puncak bukit dengan menunggang kuda. Awalnya pengikut Barman menginginkan kebahagiaan. Mereka sadar bahwa Barman akan memberikan kebahagiaan dan melenyapkan penderitaan, namun sesampai di sana, Barman hanya terdiam di atas kudanya. Mereka semua terheran, dan sangat menanti-nanti. Hingga kabut mulai turun Barman belum mengucapkan sepatah kata pun. Hampir saja semua pengikutnya meninggalkannya, penjaga Tua di samping Barman berseru agar mereka segera kembali karena “Bapak” akan bicara. Tak berselang lama, mereka mengerubungi Barman lagi. “Ini khotbahku,” kata Barman. “Hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan!”

Penantian mereka akhirnya terpenuhi saat Barman kembali berseru, “Bunuhlah dirimu!”. Serentak mereka terharu. Sebuah penyembuhan telah tiba. Kepingan-kepingan yang hilang pun telah terpasang kembali. Rahasia hidup tersingkap satu demi satu oleh perjalanan spiritual yang khidmat ke puncak bukit.

Jujur saja, rentang waktu cukup lama sejak karya Khotbah di Atas Bukit menjadi cerita bersambung di harian Kompas tahun 70-an mempengaruhi saya dalam pembacaan. Banyak kalimat dan bahasa yang terdengar wagu jika dibaca di zaman sekarang yang telah melalui perkembangan dalam segi bahasa maupun kesusastraan. Namun, upaya Kuntowijoyo mengubah liburan Barman tua menjadi sebuah pembersihan jiwa berhasil dengan gaya bertuturnya yang khas, dan membiarkan tokoh utama tersebut melakukan pencarian dengan batin yang bergejolak, mempertanyakan pengalaman hidupnya ketika ia telah memasuki senja.

Kotagede, Selasa Wage 5 Mei 2015.

Indahnya Masa Kecil di Bulan Ramadhan

Pada periode 2002-2008 saya mengalami masa-masa bulan Ramadhan yang sungguh mengasyikkan. Betapa tidak, setelah buka puasa, saya dan kawan-kawan kluyuran ke mana-mana sambil mengantongi amunisi (baca: Mercon). Maklum, di kota kecil saya dulu masih banyak kebon maupun tanah lapang, sehingga kami terkadang membuat api unggun terlebih dahulu di tengah-tengahnya, baru kemudian satu per satu amunisi disulut.

Malam masih menyisakan riuh petang hari ketika amunisi kami meledak di udara, membuat sejumlah tetangga atau pemilik rumah di sekitar sering keluar hanya untuk marah-marah atau mengusir keberadaan setan-setan kecil, dan itu malah membuat kami makin rajin berbuat iseng dengan melemparkan amunisi ke rumah empunya melalui jendela di kemudian hari—sekedar untuk pembalasan dendam.

Kami pada waku itu sama sekali tak memikirkan dosa meski dihardik habis-habisan oleh orang tua kami yang menyatakan perbuatan kami tidak pantas dan bukan ciri-ciri anak Islami. Padahal, sampai sekarang saya belum mengetahui apakah gerangan ciri-ciri tersebut supaya bisa disebut anak Islami.

Dengan kesederhanaan otak seorang bocah, kami malah tertantang karena adrenalin kami kian terpacu untuk mengulangi itu lagi itu lagi. Nah, ketika adzan isya’ berkumandang di segenap penjuru, kebetulan amunisi kami sudah habis dan saatnya mengikuti sholat taraweh. Mas dan Mbak mengawali basa-basi dengan menyuruh kami duduk manis untuk menyanyikan puji-pujian. Berikut adalah sala satu liriknya:

Ashadualla illa hailallah wa ashaduannamuhammada rasulullah
Anyekseni isuk sak durunge ora ono pangeran nanging ono kang sinembah
Kelawan sak durunge kang wajib ujude
Kang mokang anane
Kang mokang kekurangane
Kang agawee….. sholat iku kabeh!

Demikianlah. Kendati cukup membosankan, namun sebetulnya mengasyikkan karena membantu kami menghafalkan doa kecil-kecilan tersebut. Saya tidak bisa membayangkan seandainya doa-doa itu tidak dilagukan barangkali terjemahannya juga tidak mudah dihafalkan. Dengan digubah nada dan liriknya menjadi bahasa jawa, belakangan saya baru menyadari kalau “metode” ini diciptakan Sunan Kalijaga guna menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Orang-orang jaman dahulu pasti lebih akrab dengan lagu sejenis itu karena diwarisi secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kini setelah arus teknologi menguasai setiap segi kehidupan manusia dan munculnya orang-orang saleh yang gampang sekali mendakwa orang lain sebagai apalah (koyo keponakane Gusti Allah wae), puji-pujian seperti di atas tidak pernah terdengar lagi di pengajian mana pun. Lima tahun terakhir, Ramadhan terasa kosong tanpa suara polos anak-anak menyanyikan lagu dolanan. Beruntung masa kecil saya terselamatkan.


Kotagede, Yogyakarta.
Minggu Kliwon, 22 Maret 2015.

Penantian dan Pernikahan dan (Sedikit) Kesalahan Fatal

Ini feedback pertama saya atas cerita pendek karya Sungging Raga yang dimuat di Kedaulatan Rakyat (KR) edisi hari Minggu, 26 April 2015. Maaf apabila penilaian saya tidak setajam silet. Silakan dinikmati.


Nama Sungging Raga sudah dikenal lumayan lama dalam dunia penulisan kita, Kira-kira tujuh tahun terakhir ini. Ia pengarang muda dan setahu saya, beliau belum menikah. Saya mulai menggemari karya-karyanya (khususnya cerita pendek) sejak satu setengah tahun lalu dan setiap cerita pendek Sungging Raga dimuat di media tidak mungkin saya tidak membacanya; seakan telah menjadi suatu kewajiban bagi saya karena karya Raga selalu memberi kesan tersendiri.

Begitu pun pada cerpen Raga kali ini. Cerpen berjudul “Bulan Berlalu” ini saya baca sampai penghabisan di sebuah situs pengkliping karya pengarang negeri ini.

Terbagi dalam tiga bagian. Dua bagian awal, penutur memusatkan pada salah satu tokoh yang bernama Nyi Saminah. Bagian ketiga atau terakhir penutur beralih ke tokoh lain yang bernama Dulkarip. Berkisah tentang seorang Ibu yang menanti anak semata wayangnya menikah. Ia prihatin akan keadaan anaknya karena di umur ke 29 tahun anaknya masih seperti pemuda merdeka dengan pekerjaan tak tetap: ternak ayam Bangkok. Kalender telah berganti tahun dan bulan dan sang Ibu makin dilanda kegundahan melihat anaknya tak kunjung menemukan jodoh. Akhirnya ia pasrah (?) setelah anaknya menyatakan bahwa Jodoh ada di tangan Tuhan, meskipun ia merasa perkataan itu juga untuk melipur hati sang anak sendiri. Ending cerita ini rupanya cukup bahagia. Sang anak akhirnya menemukan pujaan hatinya, yang merupakan putri seorang penjual pakan ayam langganannya, dan segera dipinang sebagai istrinya.

Sebetulnya cerita pendek ini berhasil. Dari segi suasana penulis mampu memberikan ketegangan—kalau boleh saya sebut demikian—pada pembaca yang sedari paragraf pertama diasupi adegan-adegan penantian sang ibu terhadap perubahan status anaknya. Kata “Kalender”, “Bulan”, “Tahun”, dan “Tanggal” rupanya memiliki peranan penting dalam membangun perasaan Ibu dan makin lama bahkan kian tampak sebagai momok tokoh ibu—begitulah yang saya rasa. Nyi Saminah, demikian nama tokoh Ibu, seakan berpandangan waktu bukanlah air yang bisa dibendung. Ia terus menghitung hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, namun kenyataan menyuguhkan persoalan lama: kelajangan putranya.

Jujur saja, saya tak sanggup membayangkan seandainya keempat kata itu diganti atau dihilangkan, alur cerita pasti akan berubah dan belum tentu mampu menggambarkan suasana secara tepat. Semula Sang Ibu memang keliru menafsirkan arti penikahan. Momen yang sebenarnya memerlukan kesabaran seolah seperti sebuah ke-ter-paksa-an. Bukannya berserah diri pada Tuhan, sebagai Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang bagi siapa pun, ia justru ragu terhadap kejelasan nasib putranya. Keraguan tersebut tergambar jelas dalam paragraf berikut:

“Nyi Saminah selalu malu pada orang-orang sekitar, sebab pemuda lain seusia Dulkarip sudah menikah, bahkan sebagian sudah punya anak. Seolah tinggal Dulkarip saja yang belum mendapat pasangan.”

Hal ini menunjukkan seolah-olah pernikahan hanya untuk meningkatkan martabat semata. Padahal hakikat hidup berpasangan memerlukan kematangan dalam menghadapi hari depan dan terkadang harus berdarah-darah untuk memenuhi kebutuhan. Kendati demikian, Nyi Saminah pun akhirnya insaf. Ia tak mau putranya, Dulkarip, terkesan “diburu waktu” dalam melangsungkan pernikahan. Sebab ia pernah menelan pengalaman pahit di masa silam, saat ia juga dipaksa untuk segera menikah oleh kedua orang tuanya walaupun umur pernikahan itu pendek.

Agaknya Raga juga ingin menyentil para orang tua yang memandang pernikahan seorang anak sebagai tabir untuk menutupi rasa malu di kalangan orang tua lainnya. Bahwa dia sendiri tak menampik status lajangnya itu memang benar, tetapi dia juga memiliki hak untuk menceramahi para orang tua yang selalu merasa memiliki kuasa lebih atas anak hingga seolah menjadi penentu tunggal nasib sang buah hati.

Terus terang, saya pernah mengalami kejadian serupa, namun sedikit berbeda, yakni waktu ayah saya tidak mengizinkan saya masuk di sekolah menengah kesenian dengan alasan murid-murid di sekolah tersebut suka mabuk-mabukan dan bertabiat buruk. Padahal itu lumrah dan di sekolah mana pun pasti ada murid yang suka mabuk-mabukan dan bertabiat buruk. (Aduh! Malah curhat).

Selanjutnya adalah menyangkut peralihan dari satu tokoh ke tokoh lain. Sebagaimana yang saya katakan di atas, cerita pendek ini terbagi dalam 3 bagian. Di bagian ketiga atau terakhir penutur meloncat ke tokoh lain, yaitu Dulkarip. Di sini sudah lain sudut pandang, artinya lain pula alur cerita. Jika di bagian pertama dan kedua berkisar tentang kecemasan Sang Ibu beserta hal-hal lain yang mengiringi, sekarang adalah seputar kehidupan sang anak.

Penggunaan sudut pandang orang ketiga sangatlah cocok dalam cerpen ini. Tidak terkesan mendadak waktu penulis beralih menuturkan kepastian nasib Dulkarip. Memang ada banyak cerita yang juga memiliki peralihan dari satu tokoh ke tokoh lain namun tidak semuanya berhasil. Saya pernah menemukan peralihan semacam ini dalam cerpen lain yang dimuat di KR dan rupanya tidak sepenuhnya berakhir sukses. Kalau saya tidak lupa, penulis anonym itu menggunakan dua sudut pandang. Di bagian pertama ia menuturkan cerita seperti tanpa hambatan dengan memakai sudut pandang orang ketiga, namun saat masuk bagian kedua ia gagal dengan sudut pandang orang pertama, karena peralihan itu dilakukan secara kaku dan terkesan seperti dipaksakan. Dalam urusan ini Raga memberi contoh baik tentang bagaimana membuat peralihan dalam sebuah cerita pendek yang hanya memiliki panjang 5000 karakter, sesuai ketentuan KR.

Pembaca yang budiman. Maafkan saya apabila sejauh ini cerpen karya Sungging Raga terlalu mendapatkan pujian dalam feedback pertama saya ini. Namun, sebelum Anda mengatakan saya kurang kritis dan cermat, ada beberapa kesalahan dalam cerpen Raga yang mungkin hanya sepele tapi bisa fatal jika dibiarkan.

Sebuah rumah, sampean tahu, akan terlihat mengenaskan bila tidak memiliki jendela. Mungkin yang pertama disalahkan adalah para kuli, karena merekalah yang paling berkonstribusi dalam menentukan sebuah bangunan bisa beridiri atau tidak. Tetapi mungkin saja biang dari kesalahan tersebut adalah arsitek. Para kuli hanya bekerja sesuai rancangan yang dibuat oleh arsitek dan jika rancangan itu buruk, rumah tidak layak untuk ditinggali. Dalam kasus cerpen “Bulan Berlalu” kurang lebih seperti itulah masalahnya. Terdapat beberapa keteledoran yang membuat cerpen ini tidak utuh. Misalnya di adegan ini:

“Nyi Saminah beranjak, melihat anak semata wayangnya, Dulkarip, sedang mengasah batang-batang bambu untuk dijadikan kandang ayam di halaman belakang.”

Di situ tak ada keterangan Nyi Saminah beranjak dari mana, apakah dari tempat tidur? Ataukah dari pelataran sumur? Memang Nyi Saminah melihat Dulkarip sedang mengasah batang-batang bambu, tetapi dari manakah tepatnya ia melihat? Kesalahan ini sebetulnya sudah terlihat sejak di adegan ketika Nyi Saminah memandangi kalender. Saya juga tak pernah tahu persis di manakah letak kalender tersebut, sementara menurut pengakuan penutur kalender itu telah dipasang Nyi Saminah sendiri sore tadi. Saya tak berniat menyebarkan isu-isu mistis jika ternyata kalender itu tengah melayang-layang sendiri di udara. Wallahualam.

Lalu ini: ”’Saya memang cari mantu peternak ayam bangkok.’ Katanya calon mertua Dulkarip saat itu. Ia hanya tersenyum. Jalan itu kini terbuka, benar-benar terbuka.” Bukankah lazimnya terdapat tanda koma (,) dalam pembukaan dialog antar tokoh?

Kemudian, sebelum Durkalip duduk di pelaminan, ia menyempatkan berkunjung ke pemakaman tak jauh dari tempat pesta pernikahan digelar. Bahkan ia seperti ingin menangis ketika mengusap salah satu nisan. Entah nisan siapa, tak ada keterangan pasti, yang jelas ia seperti terharu, apalagi setelah mengetahui sudah begitu banyak bulan berlalu. Mungkin maksud penulis adalah nisan Nyi Saminah, Ibu Durkalip, akan tetapi bagi pembaca polos seperti saya bisa saja nisan yang dimaksud adalah nisan Jenderal Sudirman.

Demikianlah. Bangunan cerita yang sudah tampak kokoh oleh kejeniusan penulis dalam mengolah kata dan membangun suasana, rupanya masih menyisakan lubang-lubang di sana-sini. Walau sepele, kesalahan semacam itu cukup mempengaruhi pembacaan. Namun, saya jadi bingung, siapakah yang bertanggung jawab untuk kesalahan semacam itu? Penuliskah? Redakturkah? Sebab, jika penulis melakukan kesalahan walau hanya dalam tanda baca, kenapa tak diperbaiki oleh redaktur sebelum lolos seleksi? Entah kenapa kinerja redaktur akhir-akhir ini dipertanyakan. Saya tidak tahu kriteria apa yang ditetapkan redaktur dalam menyeleksi karya sastra. Seharusnya reputasi penulis tidak boleh dijadikan pertimbangan dalam menentukan sebuah karya layak muat atau tidak, karena kasihan dengan penulis pemula yang belum pernah dimuat, padahal karya-karyanya bagus-bagus. Sebaliknya, sebagai penulis, jangan mudah dibunuh rasa malas jika karyanya tidak memenuhi standar pemuatan. Teruslah diperbaiki agar mencapai hasil paling sempurna.

Dan sebagai pembaca karya-karya Sungging Raga, saya tidak rela penulis favorit saya melakukan kesalahan sesukupun. Betapapun pembaca adalah Tuhan. Tak kurang dan tak lebih. Huahaha....

Salam,

Ahmad Yasin.

Kamis, 16 April 2015

Kesaksian Seorang Idiot oleh Ahmad Yasin

Tidak begitu banyak ayah di dunia ini yang menjadi kawan sekaligus guru bagi anaknya.
Setidaknya itulah yang kuyakini. Terlebih karena Ayahku juga tipe kepala keluarga yang mencintai anggota keluarganya. Di samping itu dia selalu menekankan kepada kami untuk menjadi manusia yang berguna, pandai, jangan pelit-pelit, dan tetap taat beribadah. Bahkan terhadapku yang bisanya cuma menggeram dan meneteskan air liur setiap waktu.
Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Dua saudaraku masih sekolah, sedangkan aku sekolah di rumah. Ibuku adalah guru, berangkat pagi-pagi pulangnya sore hari—kadang menjelang petang Ibu baru pulang. Dia tidak punya waktu untukku. Hubungan kami jarang terjalin sebagai Ibu dan anak, karena Ibu masih tidak yakin kalau aku anaknya. Kadang setiap kali aku mendekatinya, ia tampak panik lalu mengusirku dengan makian.
“Dasar anak Iblis! Sudah kubilang aku bukan Ibumu. Pergi! Menjauh! Bergabunglah kembali bersama spesiesmu.”
“Lagi pula siapa sih yang menukar anakku dengan anak Iblis?”
Makanya aku lebih menyukai Ayah daripada Ibu. Soalnya ketika rumah sudah ditinggal satu per satu penghuni, pasti Ayah masih di rumah, menemaniku dan mengajariku. Aku sampai tidak percaya kalau aku diakui sebagai anaknya. Sebagaimana Ayah, aku juga mencintai Ayahku.
Akhir-akhir ini Ayah memang banyak menghabiskan waktunya di rumah. Entah kenapa, yang jelas Ayah bukan seorang penganggur, ia punya pekerjaan tetap di kantor kelurahan. Aku kurang tahu Ayah menjabat apa, tapi sejauh yang kudengar Ayah telah memasuki masa pensiun. Maklumlah, sudah banyak garis-garis yang meliuk-melintang menghiasi wajahnya, seakan menunjukkan betapa pengalaman telah mengubah kepala Ayah mirip hasil kerajinan kayu: tua dan kaku. Uban  mulai menggusur rambut hitamnya yang kini juga tengah diancam kebotakan.
Selain bekerja di kelurahan, ia tokoh masyarakat di kampung kami. Paling kondang dan dihormati. Sering Ayah dimintai bantuan untuk memecahkan persoalan siapapun. Entah itu menyangkut pribadi atau orang banyak. Entah masalah ekonomi atau ketidakrukunan dalam keluarga. Petuah-petuahnya sangat dibutuhkan dan terbukti berguna.
Ia juga pandai mengisi pengajian di masjid atau mushola. Pengetahuannya tentang agama dan ketuhanan kerap memukau para pendengar. Ia menyampaikannya dengan tenang dan santun. Mulutnya seolah menguarkan kesegaran ketika mengutip dalil-dalil atau ayat Al-Qur’an dalam pengajiannya.
Tiap kali bersua di jalan, orang-orang pasti akan menggunjingkan wajah Ayah yang senantiasa berseri-seri memancarkan cahaya lembut penuh pesona seolah membagikan kesejukan pada hati yang sedang galau. Mereka kagum.
“Heran, kok bisa-bisanya ya wajah Pak Ridwan selalu bersinar?”
“Kalau bukan Pak Ridwan siapa lagi?”
“Lampu taman.”
“Husss...”
“Kok has hus has hus?”
“Sssttt...”
Begitu mencoloknya peran Ayah dan besarnya rasa hormat orang-orang terhadap sosoknya, agaknya tidak membuat diriku ikut terhormat sebagai anaknya. Pasalnya pada waktu aku bermain di luar, orang-orang tampak acuh tak acuh, hanya kadang-kadang memandangku dengan tatapan datar. Sekali waktu sorot mata mereka seperti pisau: tajam dan mengancam. Ini juga termasuk pada sikap mereka yang selalu geleng-geleng kepala melihat aksiku bergulat dengan para raksasa; baku tembak dengan perampok; menaklukkan naga; mengarungi laut; mendaki gunung; terjun payung. Begitu pula ketika aku menyambar sabun mandi di warung untuk kugeramus atau menyantap bangkai tikus yang kutemukan di gudang atau membangun istana dari onggokan tahi sapi. Ya, sebelum akhirnya dihentikan Ayahku sendiri. Menurutnya itu tidak baik, namun entah kenapa aku selalu mengulanginya lagi. Keluargaku beberapa kali harus membayar ke warung atas kelakuanku yang sesuka hati mengambil dagangan mereka. Padahal itu semua sangat mengasyikkan.
Kupikir hidup memang untuk bersenang-senang. Sebab, aku tidak mau menjadi manusia munafik yang sok alergi dengan kesenangan. Bukankah Tuhan menciptakan kehidupan supaya manusia juga dapat merasakan nikmat dunia. Ayah pernah berkata dalam suatu santapan rohaninya: “Jika kita merasa bahagia, ingatlah wahai manusia bahwa itu atas pemberian-Nya.” Oleh karena itu, aku akan berdosa bila menyia-nyiakan pemberian-Nya. Lebih baik menerimanya sebagai wujud kemurahan hati-Nya, daripada berpura-pura tidak doyan dengan menolaknya.
Aku paling tidak suka ketika tanganku dicekal seseorang dan dipaksa pulang. Mereka seolah menganggapku hama yang memakan tetumbuhan mereka. Aku heran dengan mereka, Ayah sendiri sebagai orang tuaku, tidak pernah marah dengan kelakuanku. Ia membiarkan diriku bermain sepuasnya supaya mengenal dunia. Tapi yang aku sesalkan ia kadang menerima saja alasan dari orang-orang yang memulangkanku.
Mereka mengatakan kalau aku baru saja menakut-nakuti pelanggan di sebuah warung soto, padahal aku sedang berakrobat menggunakan pesawat tempur. Atau aku bertingkah kurang ajar karena memukul kepala seseorang, padahal waktu itu aku sedang menghadapi Godzilla—kupukul kepalanya supaya monster itu kolaps. Ingin sekali aku katakan bahwa yang mereka adukan itu tidak benar, mulut mereka serampangan. Akan tetapi, aku tak pernah sanggup menjelaskan. Mulutku sendiri seperti terkunci, hanya geraman tak jelas yang berhasil kuutarakan.
Karena kelunakkan hati Ayah, Ayah pun sudi meminta maaf pada mereka.
“Apabila anak saya tidak terkontrol lagi, saya akan mengganti segala kerugian akibat ulahnya dengan uang,” demikian yang selalu ditegaskan Ayah pada mereka.
Aku memang berusaha mengendalikan diriku agar tidak brutal, tapi selalu saja ada yang memancingku. Sering anak-anak mengitariku seraya melemparkan kerikil ke arahku. Bahkan mereka menyanyikan lagu yang liriknya berisi ejekan terhadapku. Aku sangat berhasrat membantai mereka, membedah perut mereka yang mungil supaya jeroannya terburai, lalu kuperlihatkan kepada orang tuanya masing-masing supaya mereka tahu betapa pedihnya penderitaan ditertawakan.
Aku ingin mengamuk, tapi aku khawatir kalau mereka akan mengadu ke Ayahku lagi, lalu menekan Ayah untuk meminta maaf lagi. Aku tidak sudi! Hingga akhirnya perkara semacam ini kuselesaikan sendiri secara banci: aku menangis terisak-isak di tengah renyah tawa mereka. Pada saat itulah Ayah datang, menuntunku pulang. Mereka semua memang pengecut, baru berhenti ketika mengetahui Ayah menjemputku.
Sesampainya di rumah, Ayah akan mendekapku. Membisikan kata-kata ajaib yang menghibur dan menentramkan ke telingaku. Salah satunya yang seperti ini:
“jangan menangis. Bukankah kamu jagoan? Ayo tiru bagaimana Bima menghabisi satu per satu para Kurawa, atau terbangkan pesawatmu lagi!!! Ayo, bangunlah! Ayah pengen lihat.”
Aku pasti kembali bersemangat, seakan ada matahari merekah dalam diriku. Kami lalu bermain bersama di dalam rumah. Melakukan hal-hal yang kiranya dapat mengusir kesepian, bagai menyirami kembali tanaman yang telah lama layu tersapu kemarau.
 Ketika aku sedang asyik-asyiknya, biasanya Ayah akan merogoh handphone di saku celananya. Menelepon seseorang. Aku sampai hafal, selalu terdengar suara lembut dari sana. Mereka bercakap-cakap sebentar, lalu menutup telepon. Kemudian Ayah akan keluar rumah. Tidak berselang lama, ia pasti sudah membawa seorang wanita.
“Ini Ibumu yang lain.” kata Ayah.
Wanita itu tersenyum kepadaku. Dalam rangkulan Ayah, mereka melangkah menuju kamar.
Itulah kegiatan Ayah untuk mengisi waktu luangnya, apalagi setelah memasuki masa pensiun. Sampai sekarang aku benar-benar tidak percaya kalau aku menjadi anaknya.
Kotagede, November 2014

Sekapur Sirih

Ketika terbetik sebuah ide untuk menampung kecamuk pikiran beserta kegundahan, aku baru berniat menyambar ember di samping perigi saat situasi negeri ini membuat perut mual. Belum sampai tanganku menjangkau ember, seorang karib tiba-tiba menawarkan tempat yang cocok untuk melampiaskan apa saja.

"Buatlah Blog!" teriaknya.

Merasa tidak mudeng dengan apa yang diucapkannya, aku pun bertanya kepada beliau.

"Apakah B(a)lok semacam gorengan?"

"Bukan Balok. Tapi BLOG. B-L-O-G," kata beliau, menjelaskan. "Adalah sejenis wadah bagi umat manusia yang butuh tempat untuk tulisan-tulisannya. Sekarang 'kan era digital, orang makin milih yang praktis-praktis. Maka munculah inovasi dari Pyra Labs ini atas keprihatinannya melihat pria-pria selo seperti kamu. Kemudian produknya itu pun diakusisi oleh Google pada tahun 2002. Hingga akhirnya berevolusi ke 'bentuk' sempurna seperti sekarang ini. Kau harus berterima kasih padanya."

"Ya, sama-sama. Terus cara buatnya pegimana?"

 "Ikutlah bersama daku ke warung internat mbak Sumi."

Setelah berguru lebih dari 10000 semester dengan beliau di padepokan warnet mbak Sumi, singkat cerita, aku pun selesai membuat Blog Sentong Wetan ini. Kau boleh mampir kapan saja ke blogku, akan kujamu dengan tulisan-tulisanku yang terkadang ndakik-ndakik dan wagu, namun bisa dijadikan nyamikan. pengganti kacang, setiap waktu. Semoga barokah lan migunani !

Salam,

Ahmad Yasin