Tidak begitu
banyak ayah di dunia ini yang menjadi kawan sekaligus guru bagi anaknya.
Setidaknya
itulah yang kuyakini. Terlebih karena Ayahku juga tipe kepala keluarga yang
mencintai anggota keluarganya. Di samping itu dia selalu menekankan kepada kami
untuk menjadi manusia yang berguna, pandai, jangan pelit-pelit, dan tetap taat
beribadah. Bahkan terhadapku yang bisanya cuma menggeram dan meneteskan air
liur setiap waktu.
Aku adalah anak
kedua dari tiga bersaudara. Dua saudaraku masih sekolah, sedangkan aku sekolah
di rumah. Ibuku adalah guru, berangkat pagi-pagi pulangnya sore hari—kadang
menjelang petang Ibu baru pulang. Dia tidak punya waktu untukku. Hubungan kami
jarang terjalin sebagai Ibu dan anak, karena Ibu masih tidak yakin kalau aku
anaknya. Kadang setiap kali aku mendekatinya, ia tampak panik lalu mengusirku
dengan makian.
“Dasar anak
Iblis! Sudah kubilang aku bukan Ibumu. Pergi! Menjauh! Bergabunglah kembali
bersama spesiesmu.”
“Lagi pula siapa
sih yang menukar anakku dengan anak Iblis?”
Makanya aku
lebih menyukai Ayah daripada Ibu. Soalnya ketika rumah sudah ditinggal satu per
satu penghuni, pasti Ayah masih di rumah, menemaniku dan mengajariku. Aku
sampai tidak percaya kalau aku diakui sebagai anaknya. Sebagaimana Ayah, aku
juga mencintai Ayahku.
Akhir-akhir ini
Ayah memang banyak menghabiskan waktunya di rumah. Entah kenapa, yang jelas
Ayah bukan seorang penganggur, ia punya pekerjaan tetap di kantor kelurahan.
Aku kurang tahu Ayah menjabat apa, tapi sejauh yang kudengar Ayah telah memasuki
masa pensiun. Maklumlah, sudah banyak garis-garis yang meliuk-melintang
menghiasi wajahnya, seakan menunjukkan betapa pengalaman telah mengubah kepala Ayah
mirip hasil kerajinan kayu: tua dan kaku. Uban mulai menggusur rambut hitamnya yang kini juga
tengah diancam kebotakan.
Selain bekerja
di kelurahan, ia tokoh masyarakat di kampung kami. Paling kondang dan dihormati.
Sering Ayah dimintai bantuan untuk memecahkan persoalan siapapun. Entah itu
menyangkut pribadi atau orang banyak. Entah masalah ekonomi atau ketidakrukunan
dalam keluarga. Petuah-petuahnya sangat dibutuhkan dan terbukti berguna.
Ia juga pandai
mengisi pengajian di masjid atau mushola. Pengetahuannya tentang agama dan
ketuhanan kerap memukau para pendengar. Ia menyampaikannya dengan tenang dan
santun. Mulutnya seolah menguarkan kesegaran ketika mengutip dalil-dalil atau
ayat Al-Qur’an dalam pengajiannya.
Tiap kali bersua
di jalan, orang-orang pasti akan menggunjingkan wajah Ayah yang senantiasa berseri-seri
memancarkan cahaya lembut penuh pesona seolah membagikan kesejukan pada hati
yang sedang galau. Mereka kagum.
“Heran, kok
bisa-bisanya ya wajah Pak Ridwan selalu bersinar?”
“Kalau bukan Pak
Ridwan siapa lagi?”
“Lampu taman.”
“Husss...”
“Kok has hus has
hus?”
“Sssttt...”
Begitu
mencoloknya peran Ayah dan besarnya rasa hormat orang-orang terhadap sosoknya,
agaknya tidak membuat diriku ikut terhormat sebagai anaknya. Pasalnya pada
waktu aku bermain di luar, orang-orang tampak acuh tak acuh, hanya
kadang-kadang memandangku dengan tatapan datar. Sekali waktu sorot mata mereka seperti
pisau: tajam dan mengancam. Ini juga termasuk pada sikap mereka yang selalu
geleng-geleng kepala melihat aksiku bergulat dengan para raksasa; baku tembak
dengan perampok; menaklukkan naga; mengarungi laut; mendaki gunung; terjun
payung. Begitu pula ketika aku menyambar sabun mandi di warung untuk kugeramus
atau menyantap bangkai tikus yang kutemukan di gudang atau membangun istana
dari onggokan tahi sapi. Ya, sebelum akhirnya dihentikan Ayahku sendiri. Menurutnya
itu tidak baik, namun entah kenapa aku selalu mengulanginya lagi. Keluargaku
beberapa kali harus membayar ke warung atas kelakuanku yang sesuka hati
mengambil dagangan mereka. Padahal itu semua sangat mengasyikkan.
Kupikir hidup
memang untuk bersenang-senang. Sebab, aku tidak mau menjadi manusia munafik
yang sok alergi dengan kesenangan. Bukankah Tuhan menciptakan kehidupan supaya
manusia juga dapat merasakan nikmat dunia. Ayah pernah berkata dalam suatu
santapan rohaninya: “Jika kita merasa bahagia, ingatlah wahai manusia bahwa itu
atas pemberian-Nya.” Oleh karena itu, aku akan berdosa bila menyia-nyiakan
pemberian-Nya. Lebih baik menerimanya sebagai wujud kemurahan hati-Nya, daripada
berpura-pura tidak doyan dengan menolaknya.
Aku paling tidak
suka ketika tanganku dicekal seseorang dan dipaksa pulang. Mereka seolah
menganggapku hama yang memakan tetumbuhan mereka. Aku heran dengan mereka, Ayah
sendiri sebagai orang tuaku, tidak pernah marah dengan kelakuanku. Ia
membiarkan diriku bermain sepuasnya supaya mengenal dunia. Tapi yang aku
sesalkan ia kadang menerima saja alasan dari orang-orang yang memulangkanku.
Mereka
mengatakan kalau aku baru saja menakut-nakuti pelanggan di sebuah warung soto,
padahal aku sedang berakrobat menggunakan pesawat tempur. Atau aku bertingkah
kurang ajar karena memukul kepala seseorang, padahal waktu itu aku sedang menghadapi
Godzilla—kupukul kepalanya supaya monster itu kolaps. Ingin sekali aku katakan
bahwa yang mereka adukan itu tidak benar, mulut mereka serampangan. Akan tetapi,
aku tak pernah sanggup menjelaskan. Mulutku sendiri seperti terkunci, hanya
geraman tak jelas yang berhasil kuutarakan.
Karena
kelunakkan hati Ayah, Ayah pun sudi meminta maaf pada mereka.
“Apabila anak
saya tidak terkontrol lagi, saya akan mengganti segala kerugian akibat ulahnya
dengan uang,” demikian yang selalu ditegaskan Ayah pada mereka.
Aku memang
berusaha mengendalikan diriku agar tidak brutal, tapi selalu saja ada yang
memancingku. Sering anak-anak mengitariku seraya melemparkan kerikil ke arahku.
Bahkan mereka menyanyikan lagu yang liriknya berisi ejekan terhadapku. Aku sangat
berhasrat membantai mereka, membedah perut mereka yang mungil supaya jeroannya
terburai, lalu kuperlihatkan kepada orang tuanya masing-masing supaya mereka
tahu betapa pedihnya penderitaan ditertawakan.
Aku ingin
mengamuk, tapi aku khawatir kalau mereka akan mengadu ke Ayahku lagi, lalu
menekan Ayah untuk meminta maaf lagi. Aku tidak sudi! Hingga akhirnya perkara
semacam ini kuselesaikan sendiri secara banci: aku menangis terisak-isak di
tengah renyah tawa mereka. Pada saat itulah Ayah datang, menuntunku pulang.
Mereka semua memang pengecut, baru berhenti ketika mengetahui Ayah menjemputku.
Sesampainya di
rumah, Ayah akan mendekapku. Membisikan kata-kata ajaib yang menghibur dan
menentramkan ke telingaku. Salah satunya yang seperti ini:
“jangan
menangis. Bukankah kamu jagoan? Ayo tiru bagaimana Bima menghabisi satu per
satu para Kurawa, atau terbangkan pesawatmu lagi!!! Ayo, bangunlah! Ayah pengen
lihat.”
Aku pasti
kembali bersemangat, seakan ada matahari merekah dalam diriku. Kami lalu bermain
bersama di dalam rumah. Melakukan hal-hal yang kiranya dapat mengusir kesepian,
bagai menyirami kembali tanaman yang telah lama layu tersapu kemarau.
Ketika aku sedang asyik-asyiknya, biasanya
Ayah akan merogoh handphone di saku
celananya. Menelepon seseorang. Aku sampai hafal, selalu terdengar suara lembut
dari sana. Mereka bercakap-cakap sebentar, lalu menutup telepon. Kemudian Ayah akan
keluar rumah. Tidak berselang lama, ia pasti sudah membawa seorang wanita.
“Ini Ibumu yang
lain.” kata Ayah.
Wanita itu
tersenyum kepadaku. Dalam rangkulan Ayah, mereka melangkah menuju kamar.
Itulah kegiatan
Ayah untuk mengisi waktu luangnya, apalagi setelah memasuki masa pensiun. Sampai
sekarang aku benar-benar tidak percaya kalau aku menjadi anaknya.
Kotagede, November
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar