Ini
feedback pertama saya atas cerita pendek karya Sungging Raga yang dimuat di
Kedaulatan Rakyat (KR) edisi hari Minggu, 26 April 2015. Maaf apabila penilaian
saya tidak setajam silet. Silakan dinikmati.
Nama Sungging Raga sudah dikenal lumayan lama dalam
dunia penulisan kita, Kira-kira tujuh tahun terakhir ini. Ia pengarang muda dan
setahu saya, beliau belum menikah. Saya mulai menggemari karya-karyanya
(khususnya cerita pendek) sejak satu setengah tahun lalu dan setiap cerita
pendek Sungging Raga dimuat di media tidak mungkin saya tidak membacanya; seakan
telah menjadi suatu kewajiban bagi saya karena karya Raga selalu memberi kesan
tersendiri.
Begitu pun pada cerpen Raga kali ini. Cerpen
berjudul “Bulan Berlalu” ini saya baca sampai penghabisan di sebuah situs
pengkliping karya pengarang negeri ini.
Terbagi dalam tiga bagian. Dua bagian awal, penutur
memusatkan pada salah satu tokoh yang bernama Nyi Saminah. Bagian ketiga atau
terakhir penutur beralih ke tokoh lain yang bernama Dulkarip. Berkisah tentang
seorang Ibu yang menanti anak semata wayangnya menikah. Ia prihatin akan
keadaan anaknya karena di umur ke 29 tahun anaknya masih seperti pemuda merdeka
dengan pekerjaan tak tetap: ternak ayam Bangkok. Kalender telah berganti tahun dan bulan dan sang Ibu makin dilanda
kegundahan melihat anaknya tak kunjung menemukan jodoh. Akhirnya ia pasrah (?)
setelah anaknya menyatakan bahwa Jodoh ada di tangan Tuhan, meskipun ia merasa
perkataan itu juga untuk melipur hati sang anak sendiri. Ending cerita ini rupanya cukup bahagia. Sang anak akhirnya menemukan
pujaan hatinya, yang merupakan putri seorang penjual pakan ayam langganannya,
dan segera dipinang sebagai istrinya.
Sebetulnya cerita pendek ini berhasil. Dari segi
suasana penulis mampu memberikan ketegangan—kalau boleh saya sebut demikian—pada
pembaca yang sedari paragraf pertama diasupi adegan-adegan penantian sang ibu
terhadap perubahan status anaknya. Kata “Kalender”, “Bulan”, “Tahun”,
dan “Tanggal” rupanya memiliki peranan penting dalam membangun perasaan Ibu dan
makin lama bahkan kian tampak sebagai momok tokoh ibu—begitulah yang saya rasa.
Nyi Saminah, demikian nama tokoh Ibu, seakan berpandangan waktu bukanlah air
yang bisa dibendung. Ia terus menghitung hari demi hari, bulan demi bulan,
tahun demi tahun, namun kenyataan menyuguhkan persoalan lama: kelajangan
putranya.
Jujur saja, saya tak sanggup membayangkan seandainya
keempat kata itu diganti atau dihilangkan, alur cerita pasti akan berubah dan
belum tentu mampu menggambarkan suasana secara tepat. Semula Sang Ibu memang keliru menafsirkan arti
penikahan. Momen yang sebenarnya memerlukan kesabaran seolah seperti sebuah
ke-ter-paksa-an. Bukannya berserah diri pada Tuhan, sebagai Yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang bagi siapa pun, ia justru ragu terhadap kejelasan nasib putranya.
Keraguan tersebut tergambar jelas dalam paragraf berikut:
“Nyi Saminah selalu malu pada orang-orang
sekitar, sebab pemuda lain seusia Dulkarip sudah menikah, bahkan sebagian sudah
punya anak. Seolah tinggal Dulkarip saja yang belum mendapat pasangan.”
Hal ini menunjukkan seolah-olah pernikahan hanya
untuk meningkatkan martabat semata. Padahal hakikat hidup berpasangan
memerlukan kematangan dalam menghadapi hari depan dan terkadang harus
berdarah-darah untuk memenuhi kebutuhan. Kendati demikian, Nyi Saminah pun
akhirnya insaf. Ia tak mau putranya, Dulkarip, terkesan “diburu waktu” dalam
melangsungkan pernikahan. Sebab ia pernah menelan pengalaman pahit di masa
silam, saat ia juga dipaksa untuk segera menikah oleh kedua orang tuanya walaupun
umur pernikahan itu pendek.
Agaknya Raga juga ingin menyentil para orang tua
yang memandang pernikahan seorang anak sebagai tabir untuk menutupi rasa malu
di kalangan orang tua lainnya. Bahwa dia sendiri tak menampik status lajangnya
itu memang benar, tetapi dia juga memiliki hak untuk menceramahi para orang tua
yang selalu merasa memiliki kuasa lebih atas anak hingga seolah menjadi penentu
tunggal nasib sang buah hati.
Terus terang, saya pernah mengalami kejadian
serupa, namun sedikit berbeda, yakni waktu ayah saya tidak mengizinkan saya
masuk di sekolah menengah kesenian dengan alasan murid-murid di sekolah
tersebut suka mabuk-mabukan dan bertabiat buruk. Padahal itu lumrah dan di sekolah
mana pun pasti ada murid yang suka mabuk-mabukan dan bertabiat buruk. (Aduh!
Malah curhat).
Selanjutnya adalah menyangkut peralihan dari satu
tokoh ke tokoh lain. Sebagaimana yang saya katakan di atas, cerita pendek ini
terbagi dalam 3 bagian. Di bagian ketiga atau terakhir penutur meloncat ke
tokoh lain, yaitu Dulkarip. Di sini sudah lain sudut pandang, artinya lain pula
alur cerita. Jika di bagian pertama dan kedua berkisar tentang kecemasan Sang
Ibu beserta hal-hal lain yang mengiringi, sekarang adalah seputar kehidupan
sang anak.
Penggunaan sudut pandang orang ketiga sangatlah cocok dalam cerpen
ini. Tidak terkesan mendadak waktu penulis beralih menuturkan kepastian nasib
Dulkarip. Memang ada banyak cerita yang juga memiliki peralihan dari satu tokoh
ke tokoh lain namun tidak semuanya berhasil. Saya pernah menemukan peralihan semacam ini dalam
cerpen lain yang dimuat di KR dan rupanya tidak sepenuhnya berakhir sukses.
Kalau saya tidak lupa, penulis anonym itu menggunakan dua sudut pandang. Di
bagian pertama ia menuturkan cerita seperti tanpa hambatan dengan memakai sudut
pandang orang ketiga, namun saat masuk bagian kedua ia gagal dengan sudut
pandang orang pertama, karena peralihan itu dilakukan secara kaku dan terkesan
seperti dipaksakan. Dalam urusan ini Raga memberi contoh baik tentang bagaimana
membuat peralihan dalam sebuah cerita pendek yang hanya memiliki panjang 5000
karakter, sesuai ketentuan KR.
Pembaca yang budiman. Maafkan saya apabila sejauh
ini cerpen karya Sungging Raga terlalu mendapatkan pujian dalam feedback pertama
saya ini. Namun, sebelum Anda mengatakan saya kurang kritis dan cermat, ada
beberapa kesalahan dalam cerpen Raga yang mungkin hanya sepele tapi bisa fatal
jika dibiarkan.
Sebuah rumah, sampean tahu, akan terlihat mengenaskan
bila tidak memiliki jendela. Mungkin yang pertama disalahkan adalah para kuli,
karena merekalah yang paling berkonstribusi dalam menentukan sebuah bangunan
bisa beridiri atau tidak. Tetapi mungkin saja biang dari kesalahan tersebut
adalah arsitek. Para kuli hanya bekerja sesuai rancangan yang dibuat oleh
arsitek dan jika rancangan itu buruk, rumah tidak layak untuk ditinggali. Dalam kasus cerpen “Bulan Berlalu” kurang lebih
seperti itulah masalahnya. Terdapat beberapa keteledoran yang membuat cerpen
ini tidak utuh. Misalnya di adegan ini:
“Nyi Saminah beranjak, melihat anak
semata wayangnya, Dulkarip, sedang mengasah batang-batang bambu untuk dijadikan
kandang ayam di halaman belakang.”
Di situ tak ada keterangan Nyi Saminah beranjak dari
mana, apakah dari tempat tidur? Ataukah dari pelataran sumur? Memang Nyi
Saminah melihat Dulkarip sedang mengasah batang-batang bambu, tetapi dari
manakah tepatnya ia melihat? Kesalahan ini sebetulnya sudah terlihat sejak di adegan
ketika Nyi Saminah memandangi kalender. Saya juga tak pernah tahu persis di
manakah letak kalender tersebut, sementara menurut pengakuan penutur kalender
itu telah dipasang Nyi Saminah sendiri sore tadi. Saya tak berniat menyebarkan
isu-isu mistis jika ternyata kalender itu tengah melayang-layang sendiri di
udara. Wallahualam.
Lalu ini: ”’Saya memang cari mantu peternak ayam
bangkok.’ Katanya calon mertua Dulkarip saat itu. Ia hanya tersenyum. Jalan itu
kini terbuka, benar-benar terbuka.” Bukankah lazimnya terdapat tanda koma (,) dalam pembukaan dialog antar tokoh?
Kemudian, sebelum
Durkalip duduk di pelaminan, ia menyempatkan berkunjung ke pemakaman tak jauh
dari tempat pesta pernikahan digelar. Bahkan ia seperti ingin menangis ketika
mengusap salah satu nisan. Entah nisan siapa, tak ada keterangan pasti, yang
jelas ia seperti terharu, apalagi setelah mengetahui sudah begitu banyak bulan
berlalu. Mungkin maksud penulis adalah nisan Nyi Saminah, Ibu Durkalip, akan
tetapi bagi pembaca polos seperti saya bisa saja nisan yang dimaksud adalah
nisan Jenderal Sudirman.
Demikianlah. Bangunan
cerita yang sudah tampak kokoh oleh kejeniusan penulis dalam mengolah kata dan
membangun suasana, rupanya masih menyisakan lubang-lubang di sana-sini. Walau sepele, kesalahan
semacam itu cukup mempengaruhi pembacaan. Namun, saya jadi bingung, siapakah
yang bertanggung jawab untuk kesalahan semacam itu? Penuliskah? Redakturkah? Sebab,
jika penulis melakukan kesalahan walau hanya dalam tanda baca, kenapa tak diperbaiki
oleh redaktur sebelum lolos seleksi? Entah kenapa kinerja redaktur akhir-akhir
ini dipertanyakan. Saya tidak tahu kriteria apa yang ditetapkan redaktur dalam
menyeleksi karya sastra. Seharusnya reputasi penulis tidak boleh
dijadikan pertimbangan dalam menentukan sebuah karya layak muat atau tidak,
karena kasihan dengan penulis pemula yang belum pernah dimuat, padahal karya-karyanya
bagus-bagus. Sebaliknya, sebagai penulis, jangan mudah dibunuh rasa malas jika
karyanya tidak memenuhi standar pemuatan. Teruslah diperbaiki agar mencapai hasil
paling sempurna.
Dan sebagai pembaca
karya-karya Sungging Raga, saya tidak rela penulis favorit saya melakukan
kesalahan sesukupun. Betapapun pembaca adalah Tuhan. Tak kurang dan tak lebih. Huahaha....
Salam,
Ahmad Yasin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar