Rabu, 13 Mei 2015

Penantian dan Pernikahan dan (Sedikit) Kesalahan Fatal

Ini feedback pertama saya atas cerita pendek karya Sungging Raga yang dimuat di Kedaulatan Rakyat (KR) edisi hari Minggu, 26 April 2015. Maaf apabila penilaian saya tidak setajam silet. Silakan dinikmati.


Nama Sungging Raga sudah dikenal lumayan lama dalam dunia penulisan kita, Kira-kira tujuh tahun terakhir ini. Ia pengarang muda dan setahu saya, beliau belum menikah. Saya mulai menggemari karya-karyanya (khususnya cerita pendek) sejak satu setengah tahun lalu dan setiap cerita pendek Sungging Raga dimuat di media tidak mungkin saya tidak membacanya; seakan telah menjadi suatu kewajiban bagi saya karena karya Raga selalu memberi kesan tersendiri.

Begitu pun pada cerpen Raga kali ini. Cerpen berjudul “Bulan Berlalu” ini saya baca sampai penghabisan di sebuah situs pengkliping karya pengarang negeri ini.

Terbagi dalam tiga bagian. Dua bagian awal, penutur memusatkan pada salah satu tokoh yang bernama Nyi Saminah. Bagian ketiga atau terakhir penutur beralih ke tokoh lain yang bernama Dulkarip. Berkisah tentang seorang Ibu yang menanti anak semata wayangnya menikah. Ia prihatin akan keadaan anaknya karena di umur ke 29 tahun anaknya masih seperti pemuda merdeka dengan pekerjaan tak tetap: ternak ayam Bangkok. Kalender telah berganti tahun dan bulan dan sang Ibu makin dilanda kegundahan melihat anaknya tak kunjung menemukan jodoh. Akhirnya ia pasrah (?) setelah anaknya menyatakan bahwa Jodoh ada di tangan Tuhan, meskipun ia merasa perkataan itu juga untuk melipur hati sang anak sendiri. Ending cerita ini rupanya cukup bahagia. Sang anak akhirnya menemukan pujaan hatinya, yang merupakan putri seorang penjual pakan ayam langganannya, dan segera dipinang sebagai istrinya.

Sebetulnya cerita pendek ini berhasil. Dari segi suasana penulis mampu memberikan ketegangan—kalau boleh saya sebut demikian—pada pembaca yang sedari paragraf pertama diasupi adegan-adegan penantian sang ibu terhadap perubahan status anaknya. Kata “Kalender”, “Bulan”, “Tahun”, dan “Tanggal” rupanya memiliki peranan penting dalam membangun perasaan Ibu dan makin lama bahkan kian tampak sebagai momok tokoh ibu—begitulah yang saya rasa. Nyi Saminah, demikian nama tokoh Ibu, seakan berpandangan waktu bukanlah air yang bisa dibendung. Ia terus menghitung hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, namun kenyataan menyuguhkan persoalan lama: kelajangan putranya.

Jujur saja, saya tak sanggup membayangkan seandainya keempat kata itu diganti atau dihilangkan, alur cerita pasti akan berubah dan belum tentu mampu menggambarkan suasana secara tepat. Semula Sang Ibu memang keliru menafsirkan arti penikahan. Momen yang sebenarnya memerlukan kesabaran seolah seperti sebuah ke-ter-paksa-an. Bukannya berserah diri pada Tuhan, sebagai Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang bagi siapa pun, ia justru ragu terhadap kejelasan nasib putranya. Keraguan tersebut tergambar jelas dalam paragraf berikut:

“Nyi Saminah selalu malu pada orang-orang sekitar, sebab pemuda lain seusia Dulkarip sudah menikah, bahkan sebagian sudah punya anak. Seolah tinggal Dulkarip saja yang belum mendapat pasangan.”

Hal ini menunjukkan seolah-olah pernikahan hanya untuk meningkatkan martabat semata. Padahal hakikat hidup berpasangan memerlukan kematangan dalam menghadapi hari depan dan terkadang harus berdarah-darah untuk memenuhi kebutuhan. Kendati demikian, Nyi Saminah pun akhirnya insaf. Ia tak mau putranya, Dulkarip, terkesan “diburu waktu” dalam melangsungkan pernikahan. Sebab ia pernah menelan pengalaman pahit di masa silam, saat ia juga dipaksa untuk segera menikah oleh kedua orang tuanya walaupun umur pernikahan itu pendek.

Agaknya Raga juga ingin menyentil para orang tua yang memandang pernikahan seorang anak sebagai tabir untuk menutupi rasa malu di kalangan orang tua lainnya. Bahwa dia sendiri tak menampik status lajangnya itu memang benar, tetapi dia juga memiliki hak untuk menceramahi para orang tua yang selalu merasa memiliki kuasa lebih atas anak hingga seolah menjadi penentu tunggal nasib sang buah hati.

Terus terang, saya pernah mengalami kejadian serupa, namun sedikit berbeda, yakni waktu ayah saya tidak mengizinkan saya masuk di sekolah menengah kesenian dengan alasan murid-murid di sekolah tersebut suka mabuk-mabukan dan bertabiat buruk. Padahal itu lumrah dan di sekolah mana pun pasti ada murid yang suka mabuk-mabukan dan bertabiat buruk. (Aduh! Malah curhat).

Selanjutnya adalah menyangkut peralihan dari satu tokoh ke tokoh lain. Sebagaimana yang saya katakan di atas, cerita pendek ini terbagi dalam 3 bagian. Di bagian ketiga atau terakhir penutur meloncat ke tokoh lain, yaitu Dulkarip. Di sini sudah lain sudut pandang, artinya lain pula alur cerita. Jika di bagian pertama dan kedua berkisar tentang kecemasan Sang Ibu beserta hal-hal lain yang mengiringi, sekarang adalah seputar kehidupan sang anak.

Penggunaan sudut pandang orang ketiga sangatlah cocok dalam cerpen ini. Tidak terkesan mendadak waktu penulis beralih menuturkan kepastian nasib Dulkarip. Memang ada banyak cerita yang juga memiliki peralihan dari satu tokoh ke tokoh lain namun tidak semuanya berhasil. Saya pernah menemukan peralihan semacam ini dalam cerpen lain yang dimuat di KR dan rupanya tidak sepenuhnya berakhir sukses. Kalau saya tidak lupa, penulis anonym itu menggunakan dua sudut pandang. Di bagian pertama ia menuturkan cerita seperti tanpa hambatan dengan memakai sudut pandang orang ketiga, namun saat masuk bagian kedua ia gagal dengan sudut pandang orang pertama, karena peralihan itu dilakukan secara kaku dan terkesan seperti dipaksakan. Dalam urusan ini Raga memberi contoh baik tentang bagaimana membuat peralihan dalam sebuah cerita pendek yang hanya memiliki panjang 5000 karakter, sesuai ketentuan KR.

Pembaca yang budiman. Maafkan saya apabila sejauh ini cerpen karya Sungging Raga terlalu mendapatkan pujian dalam feedback pertama saya ini. Namun, sebelum Anda mengatakan saya kurang kritis dan cermat, ada beberapa kesalahan dalam cerpen Raga yang mungkin hanya sepele tapi bisa fatal jika dibiarkan.

Sebuah rumah, sampean tahu, akan terlihat mengenaskan bila tidak memiliki jendela. Mungkin yang pertama disalahkan adalah para kuli, karena merekalah yang paling berkonstribusi dalam menentukan sebuah bangunan bisa beridiri atau tidak. Tetapi mungkin saja biang dari kesalahan tersebut adalah arsitek. Para kuli hanya bekerja sesuai rancangan yang dibuat oleh arsitek dan jika rancangan itu buruk, rumah tidak layak untuk ditinggali. Dalam kasus cerpen “Bulan Berlalu” kurang lebih seperti itulah masalahnya. Terdapat beberapa keteledoran yang membuat cerpen ini tidak utuh. Misalnya di adegan ini:

“Nyi Saminah beranjak, melihat anak semata wayangnya, Dulkarip, sedang mengasah batang-batang bambu untuk dijadikan kandang ayam di halaman belakang.”

Di situ tak ada keterangan Nyi Saminah beranjak dari mana, apakah dari tempat tidur? Ataukah dari pelataran sumur? Memang Nyi Saminah melihat Dulkarip sedang mengasah batang-batang bambu, tetapi dari manakah tepatnya ia melihat? Kesalahan ini sebetulnya sudah terlihat sejak di adegan ketika Nyi Saminah memandangi kalender. Saya juga tak pernah tahu persis di manakah letak kalender tersebut, sementara menurut pengakuan penutur kalender itu telah dipasang Nyi Saminah sendiri sore tadi. Saya tak berniat menyebarkan isu-isu mistis jika ternyata kalender itu tengah melayang-layang sendiri di udara. Wallahualam.

Lalu ini: ”’Saya memang cari mantu peternak ayam bangkok.’ Katanya calon mertua Dulkarip saat itu. Ia hanya tersenyum. Jalan itu kini terbuka, benar-benar terbuka.” Bukankah lazimnya terdapat tanda koma (,) dalam pembukaan dialog antar tokoh?

Kemudian, sebelum Durkalip duduk di pelaminan, ia menyempatkan berkunjung ke pemakaman tak jauh dari tempat pesta pernikahan digelar. Bahkan ia seperti ingin menangis ketika mengusap salah satu nisan. Entah nisan siapa, tak ada keterangan pasti, yang jelas ia seperti terharu, apalagi setelah mengetahui sudah begitu banyak bulan berlalu. Mungkin maksud penulis adalah nisan Nyi Saminah, Ibu Durkalip, akan tetapi bagi pembaca polos seperti saya bisa saja nisan yang dimaksud adalah nisan Jenderal Sudirman.

Demikianlah. Bangunan cerita yang sudah tampak kokoh oleh kejeniusan penulis dalam mengolah kata dan membangun suasana, rupanya masih menyisakan lubang-lubang di sana-sini. Walau sepele, kesalahan semacam itu cukup mempengaruhi pembacaan. Namun, saya jadi bingung, siapakah yang bertanggung jawab untuk kesalahan semacam itu? Penuliskah? Redakturkah? Sebab, jika penulis melakukan kesalahan walau hanya dalam tanda baca, kenapa tak diperbaiki oleh redaktur sebelum lolos seleksi? Entah kenapa kinerja redaktur akhir-akhir ini dipertanyakan. Saya tidak tahu kriteria apa yang ditetapkan redaktur dalam menyeleksi karya sastra. Seharusnya reputasi penulis tidak boleh dijadikan pertimbangan dalam menentukan sebuah karya layak muat atau tidak, karena kasihan dengan penulis pemula yang belum pernah dimuat, padahal karya-karyanya bagus-bagus. Sebaliknya, sebagai penulis, jangan mudah dibunuh rasa malas jika karyanya tidak memenuhi standar pemuatan. Teruslah diperbaiki agar mencapai hasil paling sempurna.

Dan sebagai pembaca karya-karya Sungging Raga, saya tidak rela penulis favorit saya melakukan kesalahan sesukupun. Betapapun pembaca adalah Tuhan. Tak kurang dan tak lebih. Huahaha....

Salam,

Ahmad Yasin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar