Pada
periode 2002-2008 saya mengalami masa-masa bulan Ramadhan yang sungguh
mengasyikkan. Betapa tidak, setelah buka puasa, saya dan kawan-kawan kluyuran
ke mana-mana sambil mengantongi amunisi (baca: Mercon). Maklum, di kota kecil saya
dulu masih banyak kebon maupun tanah lapang, sehingga kami terkadang membuat
api unggun terlebih dahulu di tengah-tengahnya, baru kemudian satu per satu
amunisi disulut.
Malam masih menyisakan riuh petang hari ketika amunisi kami
meledak di udara, membuat sejumlah tetangga atau pemilik rumah di sekitar
sering keluar hanya untuk marah-marah atau mengusir keberadaan setan-setan
kecil, dan itu malah membuat kami makin rajin berbuat iseng dengan melemparkan
amunisi ke rumah empunya melalui jendela di kemudian hari—sekedar untuk pembalasan
dendam.
Kami
pada waku itu sama sekali tak memikirkan dosa meski dihardik habis-habisan oleh
orang tua kami yang menyatakan perbuatan kami tidak pantas dan bukan ciri-ciri
anak Islami. Padahal, sampai sekarang saya belum mengetahui apakah gerangan
ciri-ciri tersebut supaya bisa disebut anak Islami.
Dengan kesederhanaan otak
seorang bocah, kami malah tertantang karena adrenalin kami kian terpacu untuk
mengulangi itu lagi itu lagi. Nah, ketika adzan isya’ berkumandang di segenap
penjuru, kebetulan amunisi kami sudah habis dan saatnya mengikuti sholat
taraweh. Mas dan Mbak mengawali basa-basi dengan menyuruh kami duduk manis
untuk menyanyikan puji-pujian. Berikut adalah sala satu liriknya:
Ashadualla
illa hailallah wa ashaduannamuhammada rasulullah
Anyekseni
isuk sak durunge ora ono pangeran nanging ono kang sinembah
Kelawan
sak durunge kang wajib ujude
Kang
mokang anane
Kang
mokang kekurangane
Kang
agawee….. sholat iku kabeh!
Demikianlah.
Kendati cukup membosankan, namun sebetulnya mengasyikkan karena membantu kami
menghafalkan doa kecil-kecilan tersebut. Saya tidak bisa membayangkan
seandainya doa-doa itu tidak dilagukan barangkali terjemahannya juga tidak
mudah dihafalkan. Dengan digubah nada dan liriknya menjadi bahasa jawa,
belakangan saya baru menyadari kalau “metode” ini diciptakan Sunan Kalijaga guna
menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Orang-orang jaman dahulu pasti lebih
akrab dengan lagu sejenis itu karena diwarisi secara turun-temurun dari
generasi ke generasi.
Kini
setelah arus teknologi menguasai setiap segi kehidupan manusia dan munculnya
orang-orang saleh yang gampang sekali mendakwa orang lain sebagai apalah (koyo keponakane
Gusti Allah wae), puji-pujian seperti di atas tidak pernah terdengar lagi di
pengajian mana pun. Lima tahun terakhir, Ramadhan terasa kosong tanpa suara
polos anak-anak menyanyikan lagu dolanan. Beruntung masa kecil saya
terselamatkan.
Kotagede,
Yogyakarta.
Minggu Kliwon, 22 Maret 2015.
Minggu Kliwon, 22 Maret 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar