Rabu, 13 Mei 2015

Indahnya Masa Kecil di Bulan Ramadhan

Pada periode 2002-2008 saya mengalami masa-masa bulan Ramadhan yang sungguh mengasyikkan. Betapa tidak, setelah buka puasa, saya dan kawan-kawan kluyuran ke mana-mana sambil mengantongi amunisi (baca: Mercon). Maklum, di kota kecil saya dulu masih banyak kebon maupun tanah lapang, sehingga kami terkadang membuat api unggun terlebih dahulu di tengah-tengahnya, baru kemudian satu per satu amunisi disulut.

Malam masih menyisakan riuh petang hari ketika amunisi kami meledak di udara, membuat sejumlah tetangga atau pemilik rumah di sekitar sering keluar hanya untuk marah-marah atau mengusir keberadaan setan-setan kecil, dan itu malah membuat kami makin rajin berbuat iseng dengan melemparkan amunisi ke rumah empunya melalui jendela di kemudian hari—sekedar untuk pembalasan dendam.

Kami pada waku itu sama sekali tak memikirkan dosa meski dihardik habis-habisan oleh orang tua kami yang menyatakan perbuatan kami tidak pantas dan bukan ciri-ciri anak Islami. Padahal, sampai sekarang saya belum mengetahui apakah gerangan ciri-ciri tersebut supaya bisa disebut anak Islami.

Dengan kesederhanaan otak seorang bocah, kami malah tertantang karena adrenalin kami kian terpacu untuk mengulangi itu lagi itu lagi. Nah, ketika adzan isya’ berkumandang di segenap penjuru, kebetulan amunisi kami sudah habis dan saatnya mengikuti sholat taraweh. Mas dan Mbak mengawali basa-basi dengan menyuruh kami duduk manis untuk menyanyikan puji-pujian. Berikut adalah sala satu liriknya:

Ashadualla illa hailallah wa ashaduannamuhammada rasulullah
Anyekseni isuk sak durunge ora ono pangeran nanging ono kang sinembah
Kelawan sak durunge kang wajib ujude
Kang mokang anane
Kang mokang kekurangane
Kang agawee….. sholat iku kabeh!

Demikianlah. Kendati cukup membosankan, namun sebetulnya mengasyikkan karena membantu kami menghafalkan doa kecil-kecilan tersebut. Saya tidak bisa membayangkan seandainya doa-doa itu tidak dilagukan barangkali terjemahannya juga tidak mudah dihafalkan. Dengan digubah nada dan liriknya menjadi bahasa jawa, belakangan saya baru menyadari kalau “metode” ini diciptakan Sunan Kalijaga guna menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Orang-orang jaman dahulu pasti lebih akrab dengan lagu sejenis itu karena diwarisi secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kini setelah arus teknologi menguasai setiap segi kehidupan manusia dan munculnya orang-orang saleh yang gampang sekali mendakwa orang lain sebagai apalah (koyo keponakane Gusti Allah wae), puji-pujian seperti di atas tidak pernah terdengar lagi di pengajian mana pun. Lima tahun terakhir, Ramadhan terasa kosong tanpa suara polos anak-anak menyanyikan lagu dolanan. Beruntung masa kecil saya terselamatkan.


Kotagede, Yogyakarta.
Minggu Kliwon, 22 Maret 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar