Buku yang saya baca di tahun 2015 tidaklah sebanyak Wisnu yang konon melahap 50 buku. Sebagai pembaca, saya tak serakus dia. Tapi sebagai pembaca, aktifitas membaca saya bukan hanya di dunia nyata saja, dalam bentuk buku, melainkan juga di dunia maya, seperti membaca berita daring, wikipedia, tulisan di website atau blog orang. Bila sudah demikian, bawaanya selalu malas untuk membaca buku. Saya sering diserang kantuk dan pikiran bercabang-cabang kalau membaca buku. Jadi bisa dibilang dunia maya menaklukkan dunia nyata dalam mencuri perhatian saya. Itulah alasan kenapa anak muda seperti saya masih melajang. Kenyataan terlalu keras daripada kemayaan. (kok malah curhat?).
Namun tentu saja aktifitas membaca saya di dunia maya tidak termasuk ke dalam daftar, karena yang berlaku di daftar hanyalah aktifitas membaca dalam bentuk nyata atau fisik, yaitu buku, bukan maya.
Jika dirunut dari Januari hingga penghujung Desember, saya telah membaca sebanyak 15 buku. Jumlah yang terbilang sedikit ini termasuk tugas menyunting saya dari Promothea untuk 1 buah bukunya Mas Marco dan 9 buah buku karya Kahlil Gibran yang rencananya akan disusun menjadi bunga rampai. Saya hanya akan membuat catatan untuk kelima buku yang membuat saya terkesan. Kelima buku tersebut adalah sebagai berikut:
1. Cerita Buat Para Kekasih - Agus Noor
Dalam kumpulan cerita pendeknya yang teranyar, cerpenis Agus Noor masih menggarap tema yang barangkali merupakan keahliannya: kekerasan rumah tangga, cinta, sosial-politik, dan masalah agama--kalau boleh disebut demikian.
Meskipun tema kisah cinta lebih dominan, dengan segala kecenderunganya, Agus Noor tetap seorang pencerita handal yang tak berkutat pada satu tema. Ia cakap meramu isu-isu perpolitikan Indonesia, terutama 50 tahun kebelakang. Agus Noor menjaga gaya bertuturnya yang khas.
Ia mampu membawa pembaca merasakan ketegangan yang seolah baru benar-benar berakhir hingga kata pamungkas, seperti dalam cerpen Matinya Seorang Demonstran. Ia juga pandai menyindir ketergantungan masyarakat modern pada telepon genggam dalam sebuah kisah cinta konyol antara tokoh Ia dan sebuah telepon genggam dalam cerpen berjudul Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggam.
2. Rafilus - Budi Darma
Rafilus merupakan salah satu karya yang dianggap sebagai kematangan seorang Budi Darma sebagai penulis roman, selain Orang-orang Bloomington dan Olenka.
Tokoh-tokoh yang ada di dalam Rafilus adalah ciri manusia dengan segenap absurditasnya menghadapi realita. Itu terlukis dari tindakan dan pola pikir mereka yang dikulik oleh Budi Darma, baik secara tersirat maupun tersurat. Seperti pada Olenka, Budi Darma masih mengeskprorasi sisi psikologis tokohnya secara 'kejam'.
3. Seks, Sastra, Kita - Goenawan Mohamad
Saya mulai keluar dari zona nyaman saya sebagai pembaca fiksi dengan membaca kumpulan esai Goenawan Mohamad. Butuh waktu dan memeras otak untuk memahaminya. Di samping gaya penulisan GM yang menurut saya ndakik-ndakik, topik yang dibahas pun masih rada asing bagi saya. Ketika membahas masalah budaya dan karya sastra, dengan terbata-bata saya masih bisa nyantel. Tetapi bila sudah beralih ke filsafat dan pergulatan pemikiran cendekiawan-cendekiawan kaliber, otak saya terlalu tumpul walaupun sekedar untuk mengerti.
Yang membuat buku ini masuk ke dalam daftar 5 buku terbaik yang saya baca adalah karena saya harus belajar, sekali-kali, menyantap buku non-fiksi.
4. Dunia Sophie - Jostein Gaarder
Karya penulis Norwegia ini barangkali masih dianggap sebagai "akses paling mudah" untuk belajar filsafat. Dikemas dalam bentuk novel, kita diajak berpetualang oleh Sophie Amundsen, si tokoh utama, mengarungi pemikiran para filsuf Yunani kuno, sedari Democritus hingga Aristoteles; merasakan zaman kegelapan di daratan Eropa, di mana pengaruh gereja begitu kuat; semaraknya zaman Renaisan yang kembali diwarnai gairah berpikir; sampai mengikuti kisah para filsuf abad 20.
Kecakapan Gaarder menguliti aliran-aliran filsafat seperti matrialisme, naturalisme, eksistensialisme yang disertai dengan contoh-contoh yang tak jauh di sekitar kita, mematahkan anggapan bahwa filsafat adalah ilmu yang sulit dipahami. Sayangnya, Dunia Sophie tidak spesifik menunjukkan kemajuan ilmu pengetahuan di Timur Tengah ketika kemandekan sedang melanda Eropa selama 12 abad.
5. Autobiografi Saya - Alex Ferguson
Ketika pertama kali meluncur pada 2013, buku ini konon menjadi buku non-fiksi terlaris se-Britania Raya. Tak bisa dimungkiri, perjalanan karir seorang Alex Ferguson di dunia sepak bola memang layak disimak seiring kesuksesannya menukangi klub Manchester United selama 26 tahun.
Melalui buku ini, kita akan tahu siapa sebenarnya sosok Alex Ferguson lewat kisah yang dituturkan sendiri. Dari pesepakbola yang nyambi berjualan bir hingga menjadi pelatih besar nan disegani. Ferguson memiliki kecakapan, ketekunan, dan etos kerja untuk meraih sukses. Munculnya generasi 1992 yang dipelopori pemain seperti Ryan Giggs, David Beckham, Paul Scholes, Nicky Butt, dan Nevile bersaudara tak lepas dari kontribusinya dalam menaruh minat pada pembinaan bibit-bibit muda. Kemampuan meracik strategi dan menganalisis kelemahan adalah nilai lebih dari seorang Ferguson, bahkan hingga ia beranjak senja.
Dengan menerbitkan sebuah autobiografi, sebagai "peninggalan" ketika pensiun, Ferguson patut diteladani oleh siapapun, baik bagi kalangan sepak bola maupun tidak karena setiap tindakannya bagai memancarkan nilai-nilai kehidupan sejati.
Demikian 5 buku yang membuat saya terkesan sepanjang tahun 2015. Semoga dapat menjadi rujukan Anda dalam memilih bacaan. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar