Hidup adalah persoalan. Dan hidup dimulai saat jari sibuk memijit tombol gawai. Aku melakukannya semata karena ingin menceritakannya kepadamu. Seolah kau tak tahu tetek-bengeknya.
Ya, bangun pagi ada waktu barang sebentar untuk menguap. Lantas beranjak ke kamar mandi, menggosok diri hingga selesai, kemudian pergi menuntaskan rutinitas masing-masing. Biasanya aku mengalami itu, masa-masa di mana aku selalu bergegas, dengan mengangkut masalah di kepala. Tapi sejak 3 tahun ini waktuku habis di depan layar.
Google dan Fesbuk adalah alat ajaib yang membuatku bisa berkelana tanpa jalan kaki; bisa bicara tanpa bersuara; bisa olahraga tanpa mengeluarkan tenaga; bisa pintar tanpa baca buku; bisa bersenggama tanpa ada pasangan--pokoknya bisa serba apa saja sekaligus. Peradaban manusia yang telah berusia tua rupanya terus mengalami kemajuan, dan dunia akhirnya melahirkan Mark Zuckerberg (nulisnya gini bukan ya?) sebagai jenius pembuat salah satu alat ajaib di atas bernama Facebook. Seketika puluhan juta orang, bahkan miliyaran penduduk bumi, berubah menjadi serangga yang tersihir cahaya. Mereka terkesima dengan kecanggihan Fesbuk dan memilih menggunakannya secara gratis, termasuk aku.
Sebenarnya tak ada alasan kenapa aku memilih Fesbukan. Hidup semakin beragam, menyediakan banyak pilihan. Semestinya tak perlu alasan mengapa seseorang menggunakan hak pilihnya. Toh kita orang tak saling merugikan, setidaknya dalam kesempatan tertentu.
Aku menggerak-gerakkan telunjuk ke atas dan ke bawah. Bermacam berita berdesakan di dinding Fesbukku. Menteri ESDM meributkan Freeport. Pemerintah mencabut kebijakan pungutan BBM. Hakim H dijerat kasus Suap. Abraham Samad ditangkap. KPK lumpuh. DPR berlibur. Surya Paloh mencukur brewok. Tesi Srimulat teler. Indro Warkop makin buncit. Ketiak Katy Perry mulus. Olga Syahputra meninggal dunia. Narji Cagur sikat gigi. Sebuah minibus menabrak kereta. Pesawat tempur jatuh. Kecelakaan menimpa rombongan PNS. Bunga Amarilis terinjak-injak. Manchester United kalah. Louis van Gaal tidak jadi dipecat. Aku tak tahu mau membuka yang mana, jariku dengan pasrah menaik-turunkan scroll. Seharusnya ada dorongan yang membuatku bersemangat berselancar di internet. Seharusnya aku penasaran. Namun yang kusangka menarik, ternyata biasa. Yang ternyata biasa, sudah kadaluwarsa. Yang kadaluwarsa, isinya sama saja. Aku bosan. Apa semesta tidak mampu menawarkan hal baru? Apakah Tuhan kehilangan ide mengatur dunia?
Aku menenggak seteguk teh. Telepon berdering. Ada suara rusuh di sana.
"Hallo?"
"Hallo?"
"Eko ya?"
"Iya. Ada apa?"
"Lho, kok kamu malah tanya. Kamu kan yang tilpun."
"Yang benar?"
"Benar!"
"Aku lupa."
"Apa maumu?"
"Nggak papa."
"Gimana sih?"
"Cuma kangen kok."
Klak!
Bajingan. Apa maksudnya si tengik itu? Aku masih normal. Kiblat seksualku belum bergeser. Kenapa sesama pria sudah main kangen-kangenan. Apa kiamat sudah dekat?
Aku melempar sebutir kacang ke mulutku.
Baru kali ini aku merasa jenuh. Makin banyak persoalan yang diselesaikan di depan layar, makin kurang menarik. Tinggal di-klik, selesai. Sederhana sekali. Hidup kok teramat datar? Apalah artinya telor tanpa garam? Apalah artinya punakawan tanpa semar? Yah, namanya juga manusia. Opo-opo sambad. Udah dapet hati, masih merogoh ampela, begitu kata orang. Namun apa terus demikian? Nanti khotbah tentang Fesbuk di atas sia-sia dong. Eh kok ngelantur, padahal aku mau cerita. Aku kan mau menulis pengalamanku di Fesbuk.
***
Terkadang enak juga ya punya Fesbuk. Hal yang dirasa merepotkan jadi praktis. Seperti itu tadi, bisa bicara tanpa bersuara. Nggak usah keluar nafas.
Pepatah abad 21 menandaskan, bermain media sosial, khususnya Fesbuk, memang mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat. Aku mengamini. Orang-orang yang dulu pernah melingkupi hidupku, dan sekarang jarang bertemu, kali ini dapat berakrab-ria kembali di Fesbuk walau tak bertatap muka. Akan tetapi, hubunganku dengan tetangga dan orang-orang kampung malah terasa berjarak. Padahal hampir setiap hari bertemu, berpapasan, namun semua itu berakhir hanya dengan lirikan. Lucu.
Sebuah garis rupanya telah hilang sebagai pemisah antara nyata dan maya. Kemajuan mempengaruhi adab dan tata cara manusia menjalani hidup. Label manusia sebagai makhluk sosial seperti kurang laku di zaman di mana segala urusan dipercayakan kepada mesin. Tentu hal ini hanya pendapat belaka. Dengan dibumbui sedikit bukti ilmiah dan dioplos bersama argumentasi yang meyakinkan, pastilah banyak orang yang setuju. Aku juga tak menolak pendapat tersebut. Yang tak sekedar ada benarnya, namun telah berangsur menjadi kenyataan.
Sayangnya aku tidak dapat dipaksa untuk meyakini satu hal saja. Internet tidak selamanya buruk. Ada saat justru keberadaan internet memudahkan manusia akan kebutuhan. Sialnya, aku sedang tak ingin membahas dikotomi negatif dan positif dampak internet. Para intelektuil dan pakar telah lama mencamkan bahwa internet adalah paradoks.
Kau tinggal menggalinya saja, yang jelas aku sudah memberimu garis besar. (aku ngomong apa sih, gan?).
Alunan lagu The Beatles masih menyumpal kedua telingaku.
All you need is love
All you need is love
All you need is love... love...
Love is all you need
Aku sekarang tengah memikirkan cara bagaimana tulisanku biar bagus. Terlalu banyak paragraf yang samar. Oleh karena pikiranku bercabang, tulisanku mengalami digresi. Keluar dari topik utama. Namun asyik betul ya kalau perkara tulisan ditimpakan pada Fesbuk. Mark Zuck harus segera membikin kelebihan tambahan pada "anak rohaninya" ini. Tapi kasihan juga kalau apa-apa harus Fesbuk. Fesbuk kian berumur kian habis.
Meskipun begitu, Fesbuk tak pernah lelah sebagai pabrik pencipta hakim dadakan. Tiap tahun produksinya meningkat. Itu bisa terlihat di kolom komentar dalam suatu berita atau postingan tertentu.
"Pernyataan semacam itu seharusnya tak patut keluar dari mulut seorang dia. Bagaimanapun dia adalah dia. Seorang dia harusnya jadi teladan buat masyarakat, bukan malah bikin kontroversi."
Kadang kalau beberapa akun mementingkan efisiensi ruang komentar, pasti tulisannya melenceng dari Ejaan Yang Disempurnakan, sebab banyak kata disingkat dan huruf berubah jadi angka. Berikut contohnya:
"Se7! Pemerintah 'mang kyk gitu. Harusx aturan macem tu ditaati."
Jika beruntung, kau mungkin akan mendapati komentar-komentar menggelikan.
"Anjing kafir halal darahnya. Nabi M pernah menganjurkan membunuh penghina dan penista agama uhuk-uhuk. Kalau tak, nanti bisa memecah-belah umat. Kita mesti pasang badan. Waspada terhadap bahaya laten aliran ihik-ihik. Hidup kerang ajaib, ululululululu...!"
"Kmu betul Jon. Presiden kita emang nggak becus. Kerja kok blusak-blusuk. Dasar pencitraan. Tgl 25 dia malah ke timur, ngerayain bareng itu tuh sama pak tua berjenggot. Sdh tahu kalo mereka sesat, agama minoritas dirangkul. Dasar kecebong."
Bahkan kau bisa menemui orang berdebat di dunia maya. Mereka saling lempar komentar.
"Apakah keputusan Si A harus disalahkan cuma gara-gara dia itu pernah nggak bersih."
"Jendral S sudah melarang Partai Godam karena jelas2 telah makar. Tindakan itu didasari fakta dan kemarahan masyarakat merupakan akumulasi dari kebencian yg telah mereka sebarkan sebelum malam purnama. Dan itu konsekuensi dan mesti diterima."
"Kalau kondisinya dibalik, apakah Anda mau digituin? Didiskriminasi? Dimaki ini-itu padahal udah gk berdaya? Mbok sekali2 mikir humanity kek. Jd orang kok haus darah. Haus kuasa."
"Lho, Anda buta apa gimana? Waktu Maido Affair thn blabla mereka mbantai orang2 suci, giliran dibabat teriak2 HAM. Taik kucing!"
"Anda rupanya udh dicuci otaknya oleh OA. Anda korban pendidikan OA. Anda gk bisa berpikir jernih sjk dlm empedu. Anda icik icik icik. OA huwukhuwukhuwuk. Pokoknya sifissifissifis....."
Wah ya nggak ada selesainya. Pernah aku ikut nimbrung berdebat. Adu pendapat. Adu pengetahuan. Baku makian. Nggak kerasa waktu telah lewat 3 jam. Lama betul, pikirku. Kenyataan memang bikin enek. Namun tidak sewajibnya harus ditanggapi dengan keenekan pula.
Terkadang orang merecoki masalah orang lain hanya untuk menyelubungi kebobrokannya sendiri. Di Fesbuk banyak pengecut berlindung mengandalkan siasat. Mereka tak mungkin buka mulut tentang kelemahannya. Tapi di satu sisi mereka mengorek kekurangan orang lain. Tidak jelas apa tujuannya? Seolah sebagai pemuas atas nafsu yang kian membuncah. Kalau tidak melakukannya, mungkin terasa gatal. Mungkin.
Aku hanya bisa menduga. Toh setiap orang punya dunianya sendiri. Begitulah hidup.
***
Cting!
Pesan masuk. Ternyata dari wanita itu. Tumben sekali.
"Maaf ya, aku lama nggak balas pesanmu."
Hah! Tahun sudah berganti. 2016 masih hijau. Dan dia baru balas sekarang? Kalau balasannya berisi tanggapan tentang pesanku dahulu, aku mafhum. Mungkin ada halangan yang menghambatnya melakukan balasan untuk pesanku, dan mungkin juga pesan-pesan lain. Tapi aku tak habis pikir kenapa balasannya hanya berupa permohonan maaf. Tiba-tiba aku ingat, konon bila seorang wanita membalas pesanmu dengan kalimat pernyataan, itu tandanya kau harus berhenti berbalas pesan dengannya. Sombong sekali. Tapi aku tetap bersyukur, berkat Fesbuk komunikasiku dengan dia begitu intens, setidaknya 4 tahun lalu.
Kami satu RW sebenarnya. Ketika bulan puasa, kami kerap bertemu di pengajian remaja setiap sholat taraweh. Salah satu temanku lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia tergila-gila pada wanita itu. Seolah tanpa cela, dia memuji setinggi langit di depan wanita itu. Terang saja wanita itu dirundung malu, apalagi di sekitarnya ada kawan-kawannya.
Sebagai teman, aku jadi risih bila main dengannya. Ia sering memancingku membicarakan wanita itu. Untuk melegakannya, aku hanya mengimbangi saja. Tak enaklah, kami sudah karib sejak kecil. Jarak rumah kami pun cuma terpaut satu rumah. Bisa dibilang, kami ini tetangga dekat.
Ketika rasa suka temanku pada wanita itu makin tak terbendung, perasaanku dengan kejam diaduk oleh wanita itu pada sebuah kesempatan tertentu.
Di pengajian tersebut, mata kami bertumbuk satu sama lain. Meskipun aku duduk menyender di sebuah dinding, dan dia juga berada di seberang di dinding lain, kejadian itu berlangsung cukup lama. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana, namun aku merasa tidak nyaman. Berengseknya, dia memandangku sambil tersenyum--manis sekali. Sebentar aku mengalihkan pandangan, agar tak dicurigai siapapun. Namun saat kulirik kembali melalui ekor mataku, ia masih memandangku dengan meyakinkan. Aku jadi rikuh. Isyarat apa ini? Semoga bukan Isyarat Sarasvati.
Aku tak ingat bagaimana kejadian langka tersebut berakhir, yang jelas kami selanjutnya terlihat begitu dekat dalam hubungan di dunia maya.
Sebermula adalah cinta. Temanku memohon untuk meminta nomor hpnya via Fesbuk. Awalnya aku tak percaya diri karena aku hampir tak pernah menjalin kontak dengan perempuan. Tapi setelah meronta terhadap keraguan yang bersemayam di dalam diriku (romantik banget ya?), aku pun mengirim pesan ke Fesbuknya, meminta nomor hpnya atas nama temanku dengan kalimat yang terkesan lugu. Tak kusangka dia membalas, dan memberikanku nomor hp dengan syarat tidak disebarkan ke anak-anak lain. Aku mengiyakan saja. Bersama temanku, kami langsung mencatat.
Sejak itulah kami jadi sering berkomunikasi, meskipun tak sekalipun bertemu. Kami sering sms-an, siang atau malam. Dengan sifat sebagai pemuda dan pemudi tanggung, tidak pernah ada sms yang bermutu di antara kami.
Entah kebetulan atau didasari kebutuhan yang sama, kadang bila di antara kami tak ada yang membalas pesan, kami saling mempermasalahkan. Kenapa kok gak dibalas? Udah punya pacar ya? Sialan betul. Saking gemasnya aku, aku pernah berhasrat merengkuh wajahnya dan menghujani pipinya yang ranum itu dengan ribuan ciuman.
Pernah pula aku membuatnya GR dalam sebuah percakapan via sms. Waktu itu katanya dia baru pulang sekolah. Capek. Karena tak ingin mengganggu istirahatnya, aku mengirimkan pesan, yang tak pernah kuniatkan untuk mengundang rasa penasarannya padaku.
+ : Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi nanti saja setelah kamu istirahat.
- : Mau ngomong apa? Sekarang aja!
+ : Nanti sajalah.
- : Iya deh.
Pada malam harinya, akhirnya dia sms.
- : Mau ngomong apa nih? :) smile emotikon
+ : Kamu kenal si D nggak?
- : Kukira mau ngapa :-| nggak kenal tuh.
Percakapan pun berlanjut dengan topik seputar orang berinisial D.
Komunikasi kami yang terlihat intim rupanya tak dialami oleh temanku yang naksir wanita itu. Menurut pengakuan temanku, dia itu sombong. "Balasnya lama. Kalau balas gak serius," kata temanku. Ketika kutanyakan pada wanita itu, dia membenarkan. Menurutnya, temanku itu gak penting dan mengganggu dengan sms-smsnya yang beraliran alayisme itu. Modaro?
Kurang ajarnya dia masih suka. Jadi hubungan kami bertiga ini sungguh rawan, bagai cinta segitiga. Padahal cinta saja belum.
Pada bulan N, di penghujung tahun-sebelum-ramalan-kiamat, dia mengirim ucapan selamat ulang tahun ke dinding Fesbukku. Karena dengan bahasa Inggris, aku tidak mudeng kala itu. Aku sempat berpikir bahwa itu kode tertentu yang mempertaruhkan perasaan tertentu pula. Tapi setelah tahun berganti dan aku memiliki hp baru yang lebih bagus, aku mulai merasa bahwa dia sudah tak ingin lagi sms-an denganku. Setiap kuajak sms-an, balasannya cuma sekenanya, menandakan kalau aku sudah jadi gangguan. Terlebih pesanku via Fesbuk tak berbalas, aku tambah yakin kalau dia sudah tak membutuhkanku lagi. Itulah kenapa aku malas menanggapi permintaan maafnya. Aku tak mau ambil pusing. Toh, nanti malah terkesan hambar. Lebih baik mengurusi nasib masing-masing. Tenggelam dalam kesunyian masing-masing.
***
Jarum jam menumpuk di angka lima. Semburat senja jatuh di sebelahku melalui genteng kaca. Tanganku masih menggenggam gawai. Tapi tiada lagi yang akan kujelajahi di samudra internet ini. Kurasa aku sudah cukup menceritakannya kepadamu. Yang sebenarnya tentang Fesbuk, namun malah merembet ke soal tulisan dan urusan cinta.
Yah, hidup memang penuh persoalan. Tanpa soal, bukan hidup namanya. Tanpa hidup, artinya mati dong. Aku jadi teringat falsafah Jawa, "Urip iku urup". Hidup itu menyala. Entah apa maksudnya, aku kurang paham. Habis terdengar bagus sih, jadi aku pasang saja di sini. Dadahh...
Kotagede, 5-6 Januari 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar